Space


“Aku tidak mau mengganggu hidupnya lagi dengan kejadian yang sudah terjadi sebelumnya. Aku hanya ingin dia melanjutkan hidup yang sudah menjadi pilihannya, mempertahankan apa yang sudah dia punyai, tanpa aku. Itu akan lebih baik. Aku hanya berpesan, panggillah aku ketika ada sesuatu, bukan sebagai yang utama, tapi aku selalu ada.” (20 April 2013)

Firasat itu selalu benar. Namun, mengapa malah diri sendiri yang menyalahi semua firasat itu?. Mengapa aku harus berpura-pura untuk melupakan sesuatu apa yang sudah menjadi janjiku?. Kenapa harus aku sendiri yang melakukannya?.

Firasat yang kutulis dalam beberapa kalimat beberapa saat yang lalu mungkin benar adanya. Dan aku tidak bisa memutar keadaannya. Aku tidak akan bisa bagaimanapun caranya.

Aku tidak terlalu mengerti akan sikapku sendiri. Mengapa aku seperti ini?. Mengapa aku tidak bisa untuk setidaknya selalu menjaga apa yang sudah aku perkirakan sebelumnya?. Aku terlalu polos untuk itu semua. Atau mungkin aku terlalu bersikap masa bodoh. Aah,, aku tidak mengerti.

Dalam sikap ketidak-mengertian ku ini, mengapa seolah-olah tidak ada yang menyadarkanku. Memberi pengertian kepadaku. Hingga aku melangkah dan melanggar firasatku. Seharusnya, aku tidak boleh terlibat didalamnya. Mengapa aku tetap berjalan tanpa ada kontrol dan semua yang sudah kupikirkan sebelumnya benar-benar terjadi?.

Mungkin aku harus menyadarkan diriku sendiri. Karena mungkin tidak akan pernah ada seseorang yang melakukannya. Aku tidak bisa menunggu siapapun untuk melarangku, kecuali aku sendiri. Ya, aku sendiri.

Baiklah, berjalanlah seperti yang pernah aku katakan sebelumnya. Aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi.
Semoga saja aku benar-benar bisa dan kuat untuk menyakinkan diriku sendiri bahwa aku bisa. Aku bisa untuk itu. Meskipun kamu tahu, aku sangat susah untuk itu. Telah hampir sepuluh bulan aku mencobanya. 
Namun, kamu tahu. Nihil... Gagal. Aku masih aku yang dulu. Aku masih aku yang tidak bisa membagi pada yang lain saat aku sudah memilih untuk itu. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk menguatkan diriku sendiri bahwa aku bisa.

Mungkin hanya satu alasan untukku agar aku bisa meyakinkan diriku sendiri. Kamu telah memilih seseorang dan aku tidak berhak untuk pilihanmu itu. Aku tidak berhak akanmu.

Aku akan berjalan terus dan aku harap kamu juga terus berjalan dengan apa yang sudah ada ditanganmu. Pertahankan apa yang sudah kamu miliki.

Aku akan berhenti atas apa yang sudah aku pertahankan. Meskipun kenyatannya sangat susah, sakit,  dan mungkin semua itu akan membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Tapi, mungkin saja apa yang aku baca tadi pagi benar adanya. Setiap rasa mempunyai batas. Dan pada batas tertentu rasa itu akan kehilangan nilainya sendiri. Semoga saja itu benar, dan aku hanya butuh waktu saja.

Aku beruntung, sering mendengar curhatan orang yang selalu galau dan galau. Setidaknya, aku bisa memaknai masaku sekarang. Aku bisa menikmati pesakitan dengan tetap berjalan di atas rasa sakit tersebut. Aku akan menikmatinya, sampai kamu mengerti atas apa aku rasakan. Dan mungkin saja itu akan menghentikanku, jika demikian pula maumu.

Masih, aku perlu kamu untuk meyakinkanku bahwa aku benar atas semua pilihanku. Aku perlu kamu untuk meyakinkan bahwa aku tidak salah bahwa aku harus berhenti sampai disini... (meskipun aku tidak ingin untuk itu)
(Needs the reply soon)

Kau Yang Mengutuhkan Aku


Tulisan ini adalah tentang seorang penulis yang postingan dalam blog-nya selalu kuikuti selama beberapa bulan terakhir. Sebut saja Fahd, penulis berusia 26 tahun yang sudah menulis beberapa buku dan novel yang beberapa diantaranya ditulis dengan musisi Bondan n Fade 2 Black. Dan aku sekarang nge-fans sekali dengannya.

Memang, aku belum pernah membaca satu pun buku Fahd. Tapi dari tulisan di blog nya, aku langsung jatuh cinta dengannya. Bukan orangnya, melainkan rangkaian kata-katanya. Toh, kalau saja aku jatuh cinta dengan orangnya, itu sangat tidak mungkin. Dia sudah beristri. Dengan orang berkebangsaan Sunda yang sangat geulis, sebut saja Rizqa. Mereka menikah dan dikarunai seorang anak yang sangat tampan pula, Kalky.

Kadang tulisannya membuatku iri saja. Betapa indah dan romantis tulisannya saat ditujukan ke istrinya tercinta. Tidak hanya satu tulisan. Mungkin sepuluh bahkan lebih, postingan tentang dia dan juga istrinya. Dari awal mereka berkenalan, lamaran, menikah, problem keuangan, anak pertama mereka, keharmonisan kehidupan sehari-hari, hingga saling melontarkan beberapa pujian diantara keduanya.

Positive-nya, mungkin banyak orang yang akan terinspirasi dengan keharmonisan rumah tangga yang terjalin diantara mereka. Karena kalau dipikir-pikir memang itu adalah contoh yang baik sekali untuk pasangan muda yang sedang mengalami masa-masa awal pernikahan. Rasa sabar, saling memahami, dan juga pengertian. Tapi disisi lain, negativenya ada juga. Apa coba?. Ya buat yang masih melajang, itu sangat membuat iri pake banget. Disaat sedang galau dan membaca tulisan Fahd, rasanya ingin sekali berada dalam posisi yang sama. Tapi, apa mau dikata, hanya menerawang saja yang memungkinkan.

Aku sangat menyukai tulisan Fahd yang berjudul Tiga, Foto, dan masih banyak lainnya. Mengenai tulisannya, memang tidak perlu diragukan lagi, menyentuh dan keren tingkat tinggi. Namun, ada beberapa karya lain darinya. Karya yang disebut ‘Revolvere Project’. Video pendek yang digabung dengan iringan instrument dan juga rangkaian kata-kata. Ada satu yang menjadi favoritku, ‘Revolvere Project – Kau Yang Mengutuhkan Aku’. Mungkin gambaran tentang kondisi yang terjadi. Intinya, I Love It.

‘Mimpi’ Itu


Mengapa harus yang terakhir?. Kalau kamu bisa menjadikan itu yang kesekian kalinya dan akan berlanjut dan terus berlanjut. Jujur, aku tidak mau kamu berhenti sampai disitu. Itu harapku.

Namun, pikiran aneh itu selalu membayangi. Disebut dengan posisi apa, kalau aku terus berada dalam kondisi ini?. Apakah aku salah?. Tapi aku merasa tidak melakukan kesalahan. Aku hanya berjalan sesuai apa yang terjadi. Tidak ada paksaan dari diri, itu alami. Tapi, apakah itu wajar?.

Aku tahu kamu mungkin mengetahui apa yang sedang aku pikirkan. Hanya saja, kamu lebih menikmati posisimu saat ini. Di waktu yang bersamaan pula, aku selalu berharap akan ‘mu’. Tapi kontrolku lebih besar untuk itu. Aku bisa saja memasang topeng bahwa aku baik-baik saja. Aku masih bisa berjalan dengan langkah yang tenang. Dan aku memang merasa bahwa aku benar-benar baik, saat kamu disini.

Disisi lain, aku juga selalu teringat akan janji pada diriku sendiri, juga padamu. Aku akan melanjutkan dan berusaha atas apa yang kusebut dengan ‘mimpi’. Dengan cara tidak masuk dalam putaran yang membuat konsentrasiku akan terpecah. Tidak untuk orang lain, dan yang paling berat tidak pula untukmu.

Mungkin aku akan selalu menyertakan Tuhan demi ‘mimpi’ itu. Semoga saja Dia paham atas hambaNya. Begitu pula diriku sendiri, dan juga kamu.

Do’aku Masih Saja Kamu


Tulisan ini ingin aku awali dengan megucap, apa kabar?. Apa kabar kamu yang disana?. Mungkin saja kamu baik-baik saja. Dan aku berharap kamu akan selalu baik dalam kondisi apapun. Hal itu menjadi rapalan do’a yang selalu kudengungkang. Karena Tuhan Maha Pendengar kan?.

Aku percaya akan do’a dan kekuatannya. Yang mampu menjadikan yang lemah menjadi kuat, yang mampu membuat keyakinan semakin bertambah, yang membuat sesuatu yang kita sebut ‘mimpi’ akan menjadi lebih dekat, yang mampu memberi ketenangan dalam ketegangan, yang menjadikan diri dari biasa menjadi luar biasa, yang dapat meluluhkan hati yang keras menjadi lunak, yang memberi suatu energi yang tidak terbatas, dan yang mampu mengalahkan segala ketakutan yang menghadang.

Mungkin ada banyak hal yang membuat orang tidak percaya akan kekuatan do’a. Tersebab do’a yang selalu diucapkan tidak kunjung dikabulkan, atau mungkin juga tersebab tidak ada perubahan, meskipun telah berdo’a sepanjang malam.

Sebenarnya, itu semua hanya butuh waktu. Ya, itu saja. Karena Tuhan tidak akan memberikan segala permintaan umatnya secara serta merta, kan?. Mungkin saja setelah meminta, Tuhan langsung memberi, atau sebulan kemudian, mungkin juga setahun kemudian, atau lima tahun, mungkin juga sepuluh tahun, atau malah tidak diwujudkan sama sekali oleh Tuhan?. Untuk yang terakhir, Tuhan tidak akan pernah lalai dan lupa. Dia akan selalu mendengar semua pinta dari hambaNya, jika tidak didunia, maka akan diganti diakhirat. Benar begitu?.

Meskipun do’aku sederhana, setidaknya aku tidak pernah melewatkannya barang sehari pun. Didalam rentetan do’a yang aku rapalkan, tak pernah lupa kuselipkan kamu didalamnya. Tentang kondisi, kesehatan, kekuatan, segala kelancaran akan hidupmu dan semua pengharapanmu. Tak lupa aku sisipkan rapalan do’a akan secercah ‘mimpi’ yang selalu membayangi. Mungkin saja Tuhan sedang berbaik hati dan langsung mengabulkan beberapa permintaan hambaNya yang rewel ini.

Kalau pun tidak, aku akan tetap menunggu. Tidak ada salahnya menunggu untuk sebuah hasil dan sesuatu yang menakjubkan, apalagi yang bisa membuat hidup semakin hidup. Aku tidak akan pernah lelah menunggu. Menunggu jawaban atas do’a yang kurapalkan.

Yang Ketujuh di Batas Kota Ini



Aku menunggu saat itu. Dimana secara tidak langsung, aku benar-benar sadar bahwa aku memang menunggu. Meskipun kadang aku menolak untuk itu. Tapi aku ingin mengukir kisahnya menjadi sebuah rangkaian yang akan selalu dikenang, atau hanya dilupakan begitu saja seiring berjalannya waktu.

Dan yang ketujuh, akhirnya tiba. Tidak bisa kupungkiri lagi, dia memang hadir untuk yang ketujuh kalinya. Tujuh, angka yang menurutku pribadi adalah sebuah keajaiban. Tujuh, angka untuk keajaiban dunia, angka untuk lapisan langit, dan tujuh untuk angka yang paling istimewa bagiku.

Mungkin yang ketujuh, akan menjadi yang paling berkesan, aku telah berharap sebelumnya. Mungkin juga yang ketujuh ini akan menjadi sebuah isyarat baik, atau berbagai kemungkinan yang berkaitan dengan keberuntungan lainnya. Hanya pengharapan, sebenarnya. Baiklah, sebelum hadir yang ketujuh, ada enam hal lain yang terjadi sebelumnya memang. Dengan berbagai kejadian dari waktu yang terus bergulir, menjadi sebuah rangkaian kenangan hingga tibalah puncaknya, yang ketujuh. Di batas kota ini, dia selalu menyebutnya begitu, dari pertama hingga yang terakhir.

Untuk pertama kali kunjungannya di batas kota ini, sudah lama sekali. Bahkan aku lupa kapan tepatnya. Aku tidak tahu dan tidak ada rencana apapun untuk menyambut kehadirannya. Hanya satu hal yang aku punya, sebuah hal sederhana yang tidak akan pernah hilang dari diriku. Sebuah ‘senyuman kecil’, mungkin itu hal yang berharga bagiku. Mungkin juga orang lain yang bersamaku. Hingga aku sadar, betapa indahnya jika senyuman selalu mengembang di balik semua kebahagiaan maupun kesedihan. Tapi, mungkin dia masih tidak memahami atas sikapku yang tidak dapat diperkirakan, apalagi untuk yang pertama.

Kali kedua kehadirannya, masih di tahun yang sama. Dengan gaya anak muda jaman sekarang yang anti-kemapanan, dengan sepasang sandal sederhana, dia melangkah lagi di batas kota ini. Bedanya, aku bersamanya menaiki bis antar kota di tengah derasnya hujan, dengan berteduh di kantor polisi sebelum mendapat bis terakhir menuju batas kotaku. Senyumku masih saja mengembang kala itu, dan ada satu hal lagi yang mulai mekar dan ikut tersenyum. Mungkin karena waktu yang berjanji akan semua yang terjadi, sebuah hati yang mulai terbuka dengan senyum yang juga mengiringinya.

Semua pria akan luluh dengan satu hal, rengekan atau tangisan. Untuk ketiga kalinya, aku benar-benar tidak sadar melakukan itu semua. Aku pikir itu hal yang bodoh. Dengan sebuah panggilan ayng lebih tepatnya bisa disebut paksaan, dia akhirnya melangkah lagi dan merasakan malam-malam di batas kota ini, di bulan yang sama. Aku benci penyesalan. Hingga aku bisa memaafkan sikapku yang berlebihan padanya.

Melepaskan seseorang lebih terasa sakit dibanding meninggalkan seseorang. Begitu kesimpulan yang bisa aku petik di kehadirannya yang keempat, setelah berpuluh-puluh malam berlalu. Mungkin jika bisa dilihat dengan jelas, hati yang sebelumnya kosong, sudah terisi penuh dengan bunga yang bermekaran dalam beberapa waktu yang berlalu. Tapi, di yang keempat ini, entah mengapa dia seakan membabat pelan-pelan yang sudah tumbuh. Dan aku hanya bisa diam dalam keheningan. Dan mulai menyadari, betapa berharganya hamparan hati itu untuk ditumbuhi bunga-bunga dari orang lain, bukan hanya seorang saja.

Yang kelima kehadirannya, dia datang bersama salah seorang kenalannya. Meskipun aku masih bisa mengembangkan senyumku, tapi aku benar-benar tidak mengaharapkan kedatangannya, sama sekali. Tanaman yang tumbuh itu sudah tiga perempat hilang, meskipun masih ada seperempat lainnya. Sudah cukup untuk menumbuhkan yang sudah mati. Dan malam pun tetap menjadi saksi atas sebuah sikap yang mulai berubah.

Tidak pernah kuperkirakan sebelumnya, akan ada yang keenam. Dengan masih dalam sikap anti-kemapanannya, meskipun tatanan rambutnya sudah sedikit tertur, dia merajuk untuk dijemput di tempat biasa, di persimpangan jalan raya itu. Aku hanya bisa mengabulkan pintanya. Senja semakin tua hingga malam menghitam, tapi mereka membisu. Hanya dia yang bersua. Mencoba menumbuhkan kembali bunga-bunga yang entah sudah mati karena tidak ada pupuk yang menyuburkannya. Benar, sangat susah menghidupkan yang sudah hilang. Aku tidak mau mengganggu hidupnya lagi dengan kejadian yang sudah terjadi sebelumnya. Aku hanya ingin dia melanjutkan hidup yang sudah menjadi pilihannya, mempertahankan apa yang sudah dia punyai, tanpa aku. Itu akan lebih baik. Aku hanya berpesan, panggillah aku ketika ada sesuatu, bukan sebagai yang utama, tapi aku selalu ada.

Aku sudah membersihkan semua sisa-sisa tanaman yang mati dalam hamparan hati. Masih aku  biarkan hamparan itu bersih dengan ketenangan yang menyelimuti. Di saat kondisiku yang seperti itu, dia hadir untuk yang ketujuh. Tujuh, yang menjadi sebuah hal yang indah bagiku. Aku berharap dia juga sama. Tetap tenang dalam kekacauan pikirannya. Aku tetap berharap dia selalu menjadi dia. Tidak ada kata menyerah dalam kamusnya, terus melihat pertanda yang membentang di hadapannya, tetap menjaga keyakinannya dengan baik, selalu memberi solusi pada orang lain yang membutuhkannya, dan tidak akan berhenti pada satu titik yang membuat dia mati.

Yang ketujuh ini adalah yang paling singkat. Tapi, ini adalah yang terbaik. Tidak ada lagi perih tertinggal saat aku menatapnya. Namun, aku percaya, dia akan datang untuk yang kedelapan dengan sebuah berita yang berbeda. Entah yang mengejutkan atau yang biasa-biasa saja. Kalimat terakhirku, meskipun tidak ada lagi benang yang tersambung, aku hanya berharap ada benang tipis lain yang membuat aku dan dia tetap baik-baik saja. Batas kota ini dengan segala kenangan yang tertinggal telah di-maktubkan olehNya. Semua kisah akan punya akhir, tapi tidak untuk kisah yang kita buat sendiri.

Satu Jam dalam Renungan


Semalam aku tiba dirumah jam sembilan lebih. Jauh dari yang kuprediksikan. Setelahnya, tanpa makan malam, aku langsung mengambil air wudlu, sholat, dan pergi tidur. Meskipun aku masih ‘kepikiran’ tentang sikap ke-tidak profesional-an atas pekerjaanku, aku berusaha untuk tidur senyenyak-nyenyaknya. Dan berdo’a semoga hari esok diberi kelancaran oleh Tuhan.

Pagi itu, aku mendapat sms lagi dari Bos Besar. Aku tidak akan mengajar kelas IELTS periode 10 ini, tapi aku masih harus tetap masuk kelas beliau untuk mempelajari teknik pengajaran yang masih tergolong baru kujejaki. Sms kedua beliau masuk, berisi tentang materi pertama yang harus aku siapkan, dan juga harus ku foto copy pagi itu. Aku tidak mau menambah masalah, aku hanya membalasnya dengan OK SIR.

Aku tidak tidur lagi pagi itu, karena aku harus mandi lebih pagi dari biasanya dan menyiapkan materi. Sarapan pun juga terpaksa disuapin oleh ibu. Tapi, entah mengapa, sedini apapun aku siap-siap, tetap saja terlambat. Ditambah lagi satu masalah, motor yang susah dinyalakan. Lima belas menit sebelum jam tujuh, sebenarnya aku sudah siap dengan semuanya. Tapi, tidak dengan motorku. Dia membuatku lebih terlambat.

Aku mencoba berkali-kali men-starter dengan menggunakan kaki, hingga sepuluh menit lebih. Tapi, dia tetap tidak nyala. Allah... bagaimana ini?. Akan ada masalah lagi dengan bos besar setelah ini. Aku memanggil bapak untuk meminta bantuan, tapi tidak ada jawaban. Aku terus berusaha menyalakannya, dan akhirnya tetangga ku datang membantu.

Saat motor sudah mulai nyala, ada panggilan masuk. Mr. Andre. Astaghfirullah... Beliau lagi.  Belum selesai degup jantungku sisa kemarin, sekarang ditambah lagi. Ampun Tuhan...

‘Dimana kamu Had?’
‘Ini mau berangkat sir.’
‘Ya Allah Had, gimana to kamu. Sudah kamu fotocopy?’
‘After this sir.’
‘Lhoh, gimana to kamu ini. Kok belum dicopy. Bilang to dari tadi kalau kamu gak bisa datang pagi. Kalau gini kan saya jadi repot.’

Mati. Lengkap sudah.  Beliau benar-benar marah kepadaku. Ada panggilan lagi, Mr. Andre.
‘Udah Had, kamu nggak usah masuk aja.!!’

Nada suara beliau meninggi untuk yang terakhir ini. Aku sudah diatas motorku saat itu, dan berpikir tidak perlu pergi ke Elfast saja pagi itu, karena Mr. Andre pun sudah berkata demikian. Tapi, itu tidak akan menyelesaikan masalah, dan akan berakar menjadi problem yang besar jika aku tidak mengahadap secepatnya.

Aku tiba disana lima menit kemudian. Masuk ke kantor, dan menghadap beliau yang sedang mem-fotocopy materi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Intinya, aku sudah siap dimarahi. Dan, rentetan kalimat-kalimat nasihat beliau beradu di telingaku saat itu. Rasa capek, kecewa, marah, tidak paham atas sikapku, bercampur menjadi satu di diri Mr. Andre. Aku rasa maaf pun tidak bisa membantu atas kesalahanku. Ingin menangis didepan beliau, tapi air mata tidak keluar. Dan aku hanya bisa diam.

Duduk di kantor sendiri, instropeksi kesalahan-kesalahan yang telah kulakukan. Aku kira, sangat banyak sekali. Apalagi di mata bos besar ku. Mungkin salahku lebih banyak dari benarku. Aku tidak boleh masuk kelas beliau, saat ini dan seterusnya. Aku diam, berpikir, dan aku tidak tahu solusinya.

Yang terpikirkan hanya saru, aku memang tidak bisa terikat dengan aturan yang membuatku terkekang. Gilanya, aku malah ingin memutuskan keterikatanku dengan perusahaan itu secepatnya. Tapi, aku berpikir lagi, aku tidak akan mungkin melakukannya. Karena, aku masih punya tanggung jawab untuk membiayai kuliah ku sendiri. Tanpa pekerjaan ini, semuanya akan terbengkalai.

Disaat sendiriku hingga satu jam, istri Mr. Andre memanggilku ke ruangannya. Aku sangat senang melihatnya, begitu anggun dengan jilbab besarnya. Ketika beliau berbicara, terasa menenangkan. Bu Wirda berbasa-basi sejenak dan setelah itu menuju inti pembicaraan tentang masalah ku dengan Mr. Andre. Beliau menanyaiku apa yang terjadi. Dan saat aku mulai berbicara, air mataku tidak tahan lagi untuk terjun bebas. Aku menangis, aku mengadu kepada beliau atas kesalahanku.

Pada akhirnya, Bu Wirda menggaris bawahi atas sikapku. Meskipun tidak sering berkomunikasi, tapi beliau paham betul atas sikapku, yang terkesan easy going. Dari sudut pandang beliau, meskipun dalam kondisi paneng sekalipun, aku masih bisa tersenyum. Dan itu adalah hal positive. Tapi negativenya, ya seperti ini. Aku terkesan dadakan dalam melakukan apapun, tidak suka mempersiapkan segala sesuatu jauh-jauh sebelumnya. Itu menjadi baik ketika aku bisa mengatasinya, tapi menjadi hal yang fatal ketika aku terus menerus melakukannya.

Dari informasi beliau, ternyata Mr Andre juga mempunyai sikap yang sama sepertiku. Berpikir simple. Dan ketika simple dan simple disatukan, maka tidak akan bertemu. Malah akan menimbulkan masalah. Itulah titik temunya.

Satu pesan beliau, aku harus berbicara baik-baik dengan bos besar dan mencoba untuk merubah sikap yang terlalu santai ini. Karakter tidak mudah untuk dirubah. Dan begitupun dalam diriku. Karakter cuek dan easy going sudah terlanjur mengakar lama, lebih lama dari aku mulai memahami sikapku. Tapi, tidak ada cara lain untuk menjadi lebih baik, selain merubahnya pelan-pelan. Semoga Tuhan membantu.

Pintu ‘Ajaib’ Doraemon



Alangkah bahagianya kalau aku bisa punya pintu ‘ajaib’ layaknya doraemon. Dalam selangkah saja, sudah bisa berpindah tempat dari satu wilayah ke wilayah lain, sejauh apapun tempat itu. Dan aku akan sangat beruntung kalau saja mempunyainya. Tapi itu sangat mustahil terjadi. ‘Keajaiban’. Aku butuh itu sekarang, atau hal-hal yang bersangkutan dengan hal-hal ajaib lainnya, yang bisa membantuku tersadar atas segala sikapku selama ini, yang sangat tidak bertanggung jawab atas tugasku.

Sore kemarin, aku terbangun ditengan rintik hujan di kamar sempit kos mbakku di Surabaya. Telah kurencanakan sebelumnya, aku akan pulang ke Pare sore itu, sekitar pukul setengah empat. Tapi karena cuaca tidak bersahabat, mataku pun terpejam melalaikan waktu. Hingga akhirnya, ada panggilan masuk di HP nokiaku bertuliskan ‘ELFAST’, yang membuat mataku terbelalak seketika dan entah mengapa jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Pikiranku melayang kemana-mana sebelum aku mengangkat panggilan tersebut. Sempat terbersit, aku tidak perlu mengangkatnya. Karena kemungkinannya satu, aku diutus untuk pergi kesana segera.

Dengan kesadaran yang belum 100%, aku menerima panggilan itu. Dan benar saja, Bos Besar menyuruhku datang saat itu juga. Tidak boleh terlambat, ada rapat dadakan dan semua harus dikoordinasikan. Ingin pingsan kala itu, tapi aku tidak dapat berbuat apapun selain menjawab ‘IYA”. Semua barang bawaan aku masukkan tas ransel sekenanya. Mencuci muka, sholat ashar kilat, dan aku langsung berlari meninggalkan rumah kos mbakku menuju jalan besar melalui gang sempit. Dan ASTAGA!!!. Jalanan macet tiada tara.

Kulihat jam di HP ku, waktu menunjukkan pukul 16:45. Dan hujan juga seakan menghambat lari kecilku. Saat itu juga, aku segera mengirim pesan pada Bos Besar bahwasannya aku akan sangat terlambat karena masih di jalan.

Macet parah, tersebab kala itu adalah waktu jam pulang kerja, yang membuat banyak polisi berjajar di sepanjang jalan mengatur lalu lintas. Aku berdiri disebelah salah seorang polisi untuk menunggu bis kota. Tapi bis yang aku tunggu-tunggu tidak kunjung datang. Dan aku berpindah menuju tempat, yang sekiranya pak polisi tidak akan berteriak ketika angkutan berhenti, yang akan membuat jalanan lebih macet.

HP ku bergetar. Satu pesan masuk. Dari Mr. Andre (Bos Besar).
Tidak bisa nanti, yang penting sekarang.

Begitu sms yang dikirim beliau. Deg, bagaimana bisa?. Harus kes Elfast saat itu juga, padahal aku masih dipinggir jalan ditengah kemacetan kota Surabaya. Lalu, pesan kedua masuk. Saya tunggu jam 6.30 petang. Otakku terus berputar, satu setengah jam untuk perjalanan Surabaya- Kediri terlihat sangat mustahil. Ditambah nunggu bis, jalanan yang macet, plus ‘ngetem’. Allah... aku hanya butuh keajaibanMu saat itu.

Bis kota tidak segera muncul meski sudah 15 menit aku menunggu. Pada akhirnya, aku menghampiri seorang ibu yang kelihatannya juga menunggu hal yang sama. Aku bertanya, angkutan menuju Bungurasih. Dan, aku temukan keajaiban pertamaku saat itu. Ibu itu mengajakku naik angkutan umum atau Len. Alasannya, kalau nunggu bis kota, akan lebih lama lagi. karena itu, aku harus naik Len meskipun harus ‘oper’ lagi dengan Len lain. Beruntungnya lagi, ibu itu membayar ongkos naik angkutannya.

Hujan masih menemaniku menunggu bis di pintu keluar terminal Bungurasih. Kulihat jam lagi, pukul 17:45. Aku putus asa, dan degup jantungku belum berhenti, masih saja kencang. Hingga pilihan terakhirku, mengirim sms lagi kepada bos besar bahwa aku tidak akan bisa datang pada rapat tersebut. Sebagai resikonya, beliau akan menceramahiku panjang-panjang dan aku akan kehilangan kelasku di periode 10 besok. Tapi hanya dengan itulah, degup jantungku bisa mereda dan aku bisa menunggu bis PATAS tanpa terbebani dengan pikiran itu.

Sekitar 45 menit menunggu, bis PATAS muncul. Aku berharap perjalanan akan memakan waktu tidak kurang dari satu setengah jam. Tapi, entah ada angin apa, bis melaju sangat pelan dan tidak seperti biasanya. Aku memilih tidur saja, ditengah rasa bersalahku. Dan membuat perjalanan pulangku tidak terlalu menyiksa.

Tunggu saja, besok akan ada kejutan lain dari bos besar atas sikap tidak tanggung jawabku lagi. Dan aku rasa pintu ajaib doraemon seharusnya ada padaku saat itu, yang bisa membukakan pintu dari Surabaya ke Pare tanpa ada macet dan segala tetek  bengeknya.


His Confession


                

(Tulisan konyol tentang mas-ku)

Tidakkah sempurna mempunyai banyak saudara?. Kalau sedang berada dalam kondisi susah, pasti banyak yang membantu. Dan ketika dalam kondisi bahagia, bisa dirasakan bersama-sama. (Benarkah?). Iya aja deh. Karena memang kebanyakan seperti itu.

Beruntungnya aku, dilahirkan di keluarga sederhana dengan banyak saudara. Bukan yang pertama atau yang terakhir, tapi tengah-tengah. Kalau dibilang, tidak ada tekanan atau omongan yang menyangkut anak (apa yang sesuai untuk menyebutnya? Anak tengah-tengah? Baiklah) tengah-tengah.

Tidak ada tanggung jawab yang berat sebagai seperti kedudukan anak pertama atau tidak ada omongan kalau anak terakhir selalu manja. Setidaknya, aku bisa merasa nyaman menjadi anak tengah-tengah.

Mengenai anak pertama, tidak semua anak memiliki sikap tanggung jawab yang tinggi atas keluarga. Aku kira, tetap saja bapak yang bertanggung jawab atas semuanya. Seperti kakak pertamaku. (Lagi-lagi, aku bercerita tentang kakak-kakakku. Toh juga mereka tidak tahu kalau aku ngomongin mereka di Blog). Tidak terlalu dewasa untuk ukuran kakak pertama, menurutku saja. Tapi, memang begitu. Banyak rekan kerja bilang kalau mas-ku ini masih sedikit kekanak-kanakan.

Dilihat dari sikapnya, yang masih sering minta diperhatikan oleh ibu. Untuk urusan makan, pakaian, dan waktu masih harus diingatkan, meskipu aku juga iya. Dan kadang, aku tidak paham apa jalan pikirannya. Dan lebih baik diam saja.

Tapi, itu dulu. Sebelum aku mengobrak-abrik, membuka dan melihat sebuah video dia, yang sengaja dia simpan di file notebook ku. Tentang dia, dan ceritanya. Semua anggapan ku luntur, tentang dia yang kekanak-kanakan dan belum dewasa. Ini semua karena satu, wanita.

Ternyata benar, bahwa sikap seseorang bisa berubah drastis disebabkan oleh satu. Hati. Dan aku sungguh-sungguh ingin berteriak sekencang-kencangnya, bahwa kakakku bisa serius dan romantis juga. Hahahaha...

Ini terjadi beberapa saat yang lalu, iseng kubuka file titipan dari masku. Ku buka semua file dan kutemukan satu judul benama ‘My confession’. Video berlatar pasir putih disertai deburan ombak pantai selatan dan karang- karang berjajar disepanjang pesisir pantai. Jejak langkah kaki yang tertinggal dan tiba-tiba muncul sesosok makhluk yang sangat aku kenal, masku.

Video macam ini?. Dipinggir pantai, suara ombak, apa yang akan dia lakukan?. Berdurasi tidak sampai tujuh menit, dan membuatku tercengang. Dia mengikat seorang wanita lewat video. Dengan kata-kata yang diucapkan, tak pernah terpikirkan olehku. Tidak ada gombalan, tidak ada basa-basi. Semua lancar terpaparkan.

Sungguh dewasa, tidak kekanak-kanakan. Dan aku suka gayanya. Hebat untuk seorang pria yang tidak pernah mempunyai hubungan dengan wanita sebelumnya. Tapi, langsung berani mengikat seorang wanita.

Betapa bahagia wanita tersebut. Meskipun hanya sebatas video, karena jarak mereka jauh, tapi hal apa lagi yang dibutuhkan wanita selain pengakuan dan ikatan yang jelas. Bukan janji palsu, atau yang sering disebut dengan PHP (Pemberi Harapan Palsu). 

Jika saja aku menjadi wanita yang dikirimi video itu, tidak ada jawaban yang sesuai selain men-iya-kan apa mau sang empunya video. Dan aku juga turut berbahagia. Mempunyai calon kakak ipar baru yang Subhanallah, cantik. Pintar juga memilih mas ku ini. Tapi harus sabar dulu. Tunggu dulu mbak Zidny menikah, baru boleh menyusul. ~,~ LOL

11 Bulan 11 Hari Lagi


(Tulisan konyol, buat mbak-ku)

Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
(Yovie N The Nuno-Janji Suci)

-Wooi, ini masih pagi. Udah ngedengerin lagu yang ngebuat angan-angan melambung aje. Hehe. Bawaan umur-

Ba’da sholat subuh, pacar lamaku, laptop mini ungu ini kunyalakan. Entah ada angin pagi apa yang merasuk dalam sanubari hingga tiba-tiba jari-jari imut ini membuka file musik dan kupilih lagu diatas. Suara abang Digta dan kawan-kawan lewat headset terdengar lembut sekali di telinga. Aduhai sekali. Membayangkan lirik-lirik itu berubah menjadi sebuah sketsa nyata. (Ngayal mulu).

Baiklah, aku tidak akan menyangkut tentang ‘aku’ lagi. Tapi, ini berkaitan tentang kakak keduaku, yang paling gokil, imut, lucu, dan baik hati sedunia (ada maunya kalo kayak gini). Keinget omongan ibu kemarin siang, ‘Mbakmu gimana sama mas yang dulu?’. Waduh, pertanyaan yang menggalaukan. Ternyata ibu belum tahu kalau mbak Zidny udah PUTUS!.

‘Nggak mau cerita ah, nggak boleh sama mbak Zidny’, jawabku santai.
‘Lho, biar ibu ngerti. Kamu pikir to nduk, mbak’e itu udah gede. Ibu gak mau kalau dia menikah lebih dari umur 25’.

Well, lagi-lagi dipikiran orang tua kepada para anak perawannya adalah ‘MENIKAH’. Okelah, setidaknya bukan aku yang disuruh untuk itu. Kalaupun iya, sama siapa?hehe... bingung juga. Balik ke mbakku tersayang, tanggal 16 Februari kemarin umurnya genap 24. Lumayan lah, udah lama juga dia bernapas di bumi ini. Hussh.

Bagaimapun, aku mikir juga tentang hal ini. Bagaimana tidak?. Dia cukup dekat denganku, untuk hubungan persaudaraan dan sesi curhat-curhatan. Tapi, kelihatannya dia memang terlalu santai dan tidak memikirkan akan hal ini, menikah. Mungkin mikir juga kali ya, tapi mana kelihatan?. Usahaku hanya satu buat dia, ikut berpartisipasi nyariin juga pria yang sholeh, ganteng, baik, kaya (perfect bgt, mana nemu?) atau setidaknya mantengin laki-laki di Elfast yang buanyak sekali. Tapi, susah ternyata.

Aku sangat terharu saat dia bercerita kalau dia punya tambatan hati, beberapa bulan yang lalu. Dunia terbalik. Hehe. Teman satu kantor, dan bisa menarik perhatian kakakku ini. Hebat juga tu bapak. Lho, kok bapak?. Bukan ding, OM lebih tepatnya.

Hari-harinya menjadi lebih berwarna, menjadi lebih teratur, dan mulai menunjukkan sisi yang terkubur sejak sekian lama yakni, perhatian. Aku jadi heran, ternyata dia lebih lebay dari aku, hehe. Tapi ya maklum, dimabuk asmara. Jadi wajar lah.

Saat ke Surabaya sekitar dua bulan yang lalu, aku bilang ke kakakku ini kalau aku pengen tau mana sih om-om itu. La haulawala kuwwata illa billa. Dia udah PUTUS!. Wooi, yang bener aja?. Dikenalin aja belom, udah maen diputusin aja. Gak seru en gak keren, harusnya dikenalin dulu, baru diputus. Lhoh?. Malah lebih gak keren kalau itu.

Ya ya... Aku paham setelah dia bertutur selama satu jam lebih dua puluh lima menit lebih tiga puluh lima detik. Kesimpulannya, om itu bukan yang tepat buat mbakku. Itu aja?. Ga juga sih, tapi lupain lah. Susah memang, menyatukan hati. Apalagi kalau udah pada dewasa, yang dipikir semakin banyak. Bisa dibilang, masa penjajakan sebelum lanjut ke hubungan yang lebih serius. Dan itu TIDAK GAMPANG.

Setelah kuhitung, ternyata waktu tersisa untuk dia sebelum umur 25 hanya sekitar 11 bulan 11 hari. Dan harapan ibu, menikah sebelum umur 25. Tekanan batin gak tu?. Tapi, siapa tau akan jodoh?. Mungkin tiba-tiba aja besok muncul pangeran dengan kuda putih dan para dayang-dayang berbaju sutra lembut, dengan membawa mahar dan segala tetek-bengeknya. Haha. Ngayal lagi.

At least, aku pernah melihatmu tersenyum karena hatimu, mbak. Dan sedikit senang akan hal itu. Berusahalah untuk hidupmu, aku selalu membantumu, atau merepotkan mu lagi. Dan terakhir, menikahlah!. Karena bapak pengen gendong cucu juga. ~.~

Mimpi Raffi



‘Biarpun hanya mimpi, apa salahnya untuk mencoba mempenjuangkannya?’. Inilah yang terlintas dalam benakku. Saat ini, dalam imajinasi yang melampaui batas. Tentang sebuah mimpi, apakah itu pertanda baik atau hanya sebagai bunga tidur saja.

Pagi tadi, seorang anak SMP itu datang menghampiriku, dan bertutur lancar tentang mimpinya.  Awalnya aku heran tentang mimpinya, dimana ‘aku’ adalah pemeran utama dalam putaran kejadiannya. Anak ini suka menulis, membaca, dan bertanya tentang apa saja yang ingin dia ketahui. Tidak jarang, aku memberi sekedar wejangan saja, mungkin sedikit memberikan suntikan nyawa pada dia, dan itu sangat wajar menurutku untuk hubungan anak didik dan pengajarnya.

‘Aku’ sebagai sang pemeran utama, merasa tersanjung saja atas apa yang terjadi dalam mimpinya. Bukankah meng-amin-kan hal yang baik tidak akan sia-sia, mungkin saja menjadi nyata dan benar-benar terwujud.

‘Miss Hadna sekarang lagi nulis sesuatu nggak?’, tanya anak itu. ‘Nulis?, nggak kok’, jawabku.

‘Semalam aku ngimpi, tentang miss. Aku datang ke acara launching buku’, lanjutnya. ‘Hubungannya sama saya?’, tanyaku. ‘Aku ngimpinya miss yang nulis buku itu. Pas acara launching-nya aku dateng. Di mimpi itu aku udah lulus kuliah miss, di Amerika. Hebat kan miss?’, tuturnya. ‘Disitu miss Hadna udah agak tua,hehe. Pake kacamata, tapi keren’,lanjutnya.

‘Wah, iya keren. Trus?’, rasa ingin tahuku tumbuh dan semakin ingin mengetahui kelanjutan dari mimpinya.
‘Judul bukunya “Aku dan Dunia”. Ceritanya miss waktu itu udah keliling dunia. Trus perjalanannya ditulis trus dijadiin novel sama miss-nya’, jelasnya.

Woow sekali. Tidak kusangka bahwa bukan aku sendiri yang bermimpi untuk melihat apa yang akan terjadi, tapi seorang anak SMP yang mengenalpun hanya sebatas guru dan murid. Tapi mimpi itu, sama seperti apa yang aku inginkan. Traveling keliling dunia, dan berniat untuk merangkum semuanya. Meskipun aku tak tahu entah kapan akan terjadi.

Aku mau menyebut dia sebagai anak ajaib saja. Bisa mengetahui dan bermimpi atas apa yang orang lain inginkan. Dan semoga mimpi anak ajaib itu bisa terwujud. Amin. Dan akan betapa bahagianya saya....

‘Ada lanjutan ceritanya di mimpi aku’, dia mengagetkanku atas angan-angan yang sudah terbang. ‘Di Amerika, aku kuliah ambil jurusan teater miss, terus berhubung aku kenal sama beberapa sutradara Hollywood, gimana kalau novel miss dibukukan?’. Cetaar sekali mimpinyaaa. Sungguh membuat aku terbang dan melayang setinggi-tingginya.

“Me and World”. Begitu judul filmnya. Lengkap dengan soundtrack Owl City (lagu favorit saya) dan para pemain dan  tanggal premiernya.

Bagaimana mungkin aku tidak menganga, mendengar semua mimpinya?. Siapa tidak bahagia mendengar sebuah pertanda meskipun hanya dalam mimpi?. Dan itu yang menyulutkan keinginan ku yang selama ini aku simpan menjadi lebih dekat lagi, dan lagi.

‘Think what you want!. Work hard for it, and it will come closer and closer’

Penikahan Suku



Setelah keluar dari kelas sore tadi, seseorang memanggilku dari lantai dasar. Kudongakkan kepala melihat siapa yang memanggil. Ternyata, salah satu tutor speaking yang biasa mendendangkan cerita galaunya. Hehe, langsung saja aku menuruni tangga dan mengahampirinya. Karena sedang berbaik hati, ku terima ajakannya untuk mengantarkan ke ATM dan makan sore itu.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam ketika selesai makan di Quick Chicken dan aku belum melaksanakan sholat magrib. Akhirnya masjid An Nur adalah tujuan kita selanjutnya. Tidak lebih dari sepuluh menit, sholat selesai. Duduk di emperan masjid dan berbicara apa saja. Dari kegalauan dia hingga menangis beberapa hari yang mengakibatkan suaranya hilang entah kemana, menghadapi suatu masa yang sulit dalam hidup, hingga tentang rencana menikah dan seluk beluk dalam pernikahan.

Pada akhirnya, setelah sharing mengenai masalah pernikahan dan seluk beluk didalamnya, aku sangat bersyukur sekali dilahirkan di tanah Jawa. Yang notabennya tidak ada adat yang mengatur secara keras dalam pelaksanaannya. Temanku ini adalah keturunan Bugis, dialahirkan di tanah Makassar. Ketika dia akan menikah, maka nantinya, calon mempelai pria harus memberikan uang (bisa disebut juga mahar) sesuai dengan tingkat pendidikan yang ditempuh sang mempelai wanita. Semakin tinggi pendidikan sang wanita, maka semakin mahal pula ia.

Ibaratnya ada seorang wanita yang akan menikah, setelah lulus S1. Maka setidaknya, sang pria harus bisa membayar minimal 50 sampai 100 juta, tengantung negosiasi dari dua keluarga. Ketika kedua keluarga sudah memutuskan mahar yang sesuai, maka pernikahan bisa dilangsungkan dengan melaksanakan tiga hari pernikahan sesuai adat Makassar. Dan yang paling membuatku heran adalah uang mahar tersebut hanya digunakan dalam tiga hari pelaksanaan pesta. Hal yang baru kuketahui, membuatku menganga dan terlalu berlebihan dan sangat mubadzir menurutku.

Tetapi, ketika tidak ada kesepakatan yang sesuai diantara kedua keluarga, maka pasti. Pernikahan tidak akan berlangsung. Sebesar apapun usaha maupun cinta sepasang kekasih yang akan menikah itu, tapi ketika hal awal tersebut tidak terpenuhi, gagal-lah pernikahan. Satu hal lagi, keturunan raja yang bermarga Andy didepan nama mereka, hal yang menyangkut mahar yang tinggi masih sangat erat ketika akan dilangsungkannya pesta pernikahan. Jarang ada sejarah menuliskan, orang bermarga Andy akan menikah selain mereka. Setidaknya, mereka harus mencari yang setara, begitu anggapannya.

Temanku ini adalah salah satu yang menentang adat dalam sukunya. Dia tidak pernah setuju dengan kebiasaan yang sudah mengakar pada masyarakat di Bugis. Dia selalu menentang keluarganya yang selalu bersikukuh untuk bernegosiasi dengan pihak pria berkaitan dengan mahar yang akan diberikan. Menurutnya, itu bukanlah adat. Hal tersebut hanya sebuah kegengsian yang tinggi yang sudah mendarah daging dalam masyarakat. Melihatnya saja, dia sungguh geram dibuatnya.

Miss Pipi namanya. Sekarang dia sudah menempuh pendidikan S2 nya. Dan aku yakin, ketika menikah nantinya, mahar yang di tawarkan oleh keluarganya kepada pihak pria pasti sangat tinggi, bisa sekitar 100 juta bahkan lebih. Karena pendidikan yang tinggi sangat berpengaruh dalam mahar yang diberikan. Huuft, tak terbayangkan sang pria harus menyiapkan beratus ratus juta untuk menyunting seorang gadis, dan uang itu akan lenyap hanya sekitar tiga hari. Gengsi dalam masyarakat yang sudah menjadi adat.

Dia berusaha menentang itu semua. Tapi, fakta belum bisa membuktikan. Karena dia memang belum menikah. Dan salah satu yang dia pusingkan adalah ketika sang pria adalah orang selain suku tersebut dan tidak bisa memenuhi kebiasaan dalam sukunya. Hingga permasalahan timbul, dia tidak akan bisa menikah jika sang pria hanya bisa membayar dengan 20 juta. Betapa susah dan berat ketika sudah bertarung dan menentang kebiasaan. Karena kadang, membenarkan kebiasaan itu lebih mudah dari pada membiasakan kebenaran.

Itu yang membuatku bersyukur sekali lagi, dilahirkan di tanah yang sangat-sangat damai. Tidak ada adat dan kebiasaan yang terlalu mengikat dan berat, khususnya dalam pernikahan. Tidak perlu mahar yang tinggi untuk melamar seorang gadis. Ketika sudah ada janji yang mengikat, meskipun hanya bermahar seperangkat alat sholat, pernikahanpun bisa terjadi.

Hal lain yang sangat penting, sebenarnya bukanlah terletak dalam perayaan atau dalam pesta pernikahannya. Tapi hal yang penting dalam pernikahan adalah hari-hari yang akan berlangsung setelah pernikahan tersebut. Karena percuma saja ketika satu hari saat pesta, bisa saja terlihat berbahagia, tapi tidak untuk selanjutnya. Semua itu percuma, dan tidak ada gunanya. Karena pernikahan yang berbahagia adalah ketika pasangan pria dan wanita bisa melewati segala rintangan dan permasalahan hidup setelah mereka menikah dengan dukungan satu dengan lainnya. Mengucap janji setia dari sejak akad nikah hingga kembali lagi kesisiNya.

Untuk Sang Dewi


Sesungging senyumnya pagi tadi, terlihat berbeda dari biasanya. Lebih lebar dan lebih menawan. Percayalah, tidak ada yang mengira kamu mempunyai masalah yang rumit dan besar ketika kamu selalu tersenyum manis kepada setiap orang yang menyapamu. Bukan dengan selalu memasang wajah tertekuk dan seakan hidupmu paling menderita diantara yang lain. Tapi cobalah selalu ceria, sesulit apa keadaanmu. Maka kamu akan merasa lebih baik.

Kejadian beberapa bulan silam terjadi lagi ketika pada akhirnya, sang dewi memutuskan untuk mengawali semuanya. Mengawali yang bukan menjadi biasanya. Mungkin, dia mencoba membuat sesuatu yang belum biasa menjadi ada. Dan yang benar saja, hasilnya pun seakan sama dan tidak ada yang berbeda. Lagi-lagi, aku masih saja merasa heran dibuatnya.

Ada satu hal sebenarnya yang ingin kutanyakan kepadanya, mengapa dia tidak membaca kembali beberapa hal dari apa yang telah terjadi kepadanya?. Mengapa harus selalu bersikap sama disetiap kesempatan?. Tapi mungkin itu adalah jalanmu dalam menjalani hidup ini. Menjadi pihak yang selalu ada, mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membantu meringankan perjalanan kisah pilumu. Semoga semua cepat berlalu. Atau lanjutkan saja apa maumu.

Kepingan Puzzle Itu...



Hari ini adalah hari dimana akhirnya aku mampu mengungkapkan apa yang aku rasakan kepada seorang teman. Teman dekat lebih tepatnya. Dan sudah beberapa saat memang, memendam sendiri perasaan yang selalu mengganjal dihati. Rasanya pun sangat tidak nyaman. Tapi pada akhirnya aku bisa bercerita banyak kepada teman lama.

Perasaan yang selalu membawaku kedalam memori yang terlewatkan. Mengenang hal yang mungkin tidak bisa terulang lagi. Terlalu indah untuk selalu dikenang, padahal pada akhirnya akulah yang kalah dan menjadi diam. Meskipun sudah melawan perasaan ini, rasanya sangat berat sekali untuk meninggalkan apa yang sudah mengakar. Layaknya akar pohon oak, yang akan selalu berdiri kokoh menahan kerasnya angin yang bertiup kencang.

Aku selalu berkata, entah kapan aku memulai berprinsip seperti ini. Bahwasannya, ketika aku sudah menaruh hati kepada seseorang, maka aku akan selalu berusaha meyukainya sepenuh hati. Karena aku tahu dan paham benar dengan hatiku sendiri. Sangat susah untuk mencintai, dan ketika sudah ada yang bersemayam dalam hati, akan sangat susah untuk melupakannya. Dan itu yang terjadi saat ini. 

Betapa susahnya melupakan seseorang yang pernah menjadi hidup, meskipun hanya dalam hitungan bulan. Dan aku tidak bisa menyangkalnya. Sekeras apapun berusaha untuk melupakannya, maka aku akan lebih dalam lagi mengingatnya. Seperti sebuah perkataan, ‘Melupakan seseorang yang penting dalam hidup adalah seperti mengingat seseorang yang belum pernah dikenal’. Sangat susah.

Pesakitan ini muncul kembali. Ketika aku terus dan terus mencoba untuk menyangkal bahwa tidak lagi ada perasaan apapun kepadanya. Dan aku kalah, aku mengakuinya. Masih ada yang tertinggal dalam hati ini. Dan benar saja, prinsipku selama ini. Bahwa sebenarnya yang memilih adalah hati, dan dia membuktikannya. Terlalu berat untuk meninggalkan kenangan indah meskipun hanya beberapa saat saja.

Terkadang, hanya air mata yang bisa membuktikannya. Dia menjadi saksi bisu untuk segala pesakitan ini. Tidak ada jalan lain selain itu. Karena kadang, tidak ada yang mendengar keluh kesah yang sudah berakar ini, apalagi mencari obat yang tepat takarannya. Aku butuh penawar, yaitu seseorang yang baru, yang tepat untuk menggantikannya. Melupakan pesakitan yang dalam. Dan menciptakan lembaran baru yang lebih berwarna.

Kadang aku selalu berpikir tentang hal itu. Berpikir keras tentang hal yang akan membuat tidak lagi selalu mengingat hal yang sudah terlewatkan dan tidak akan kembali lagi. Aku ingin berusaha memulai awal baru. Dimana aku bisa memasang kepingan puzzle yang kosong, dan diisi dengan potongan-potongan puzzle yang tepat dan pas. Aku akan berusaha untuk itu. Selama apapun waktunya. Karena aku yakin, seseorang itu pasti akan datang. Untukku dan untuknya. Menyudahi pencarian dan penantian kepingan puzzle yang tercecer, menjadi utuh dan nyata pada akhirnya.

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Hadna Muthia Izzati
Pare, Kediri, Indonesia
A trainer | A traveler | A dreamer| An Ordinary girl
Lihat profil lengkapku

Ordinary's Friends

Blog contents © Ordinary Little Girl 2010. Blogger Theme by NymFont.