Pintu ‘Ajaib’ Doraemon
Rabu, 10 April 2013
Alangkah bahagianya kalau aku bisa punya pintu ‘ajaib’
layaknya doraemon. Dalam selangkah saja, sudah bisa berpindah tempat dari satu
wilayah ke wilayah lain, sejauh apapun tempat itu. Dan aku akan sangat
beruntung kalau saja mempunyainya. Tapi itu sangat mustahil terjadi.
‘Keajaiban’. Aku butuh itu sekarang, atau hal-hal yang bersangkutan dengan
hal-hal ajaib lainnya, yang bisa membantuku tersadar atas segala sikapku selama
ini, yang sangat tidak bertanggung jawab atas tugasku.
Sore kemarin, aku terbangun ditengan rintik hujan di
kamar sempit kos mbakku di Surabaya. Telah kurencanakan sebelumnya, aku akan
pulang ke Pare sore itu, sekitar pukul setengah empat. Tapi karena cuaca tidak
bersahabat, mataku pun terpejam melalaikan waktu. Hingga akhirnya, ada
panggilan masuk di HP nokiaku bertuliskan ‘ELFAST’, yang membuat mataku
terbelalak seketika dan entah mengapa jantungku tiba-tiba berdegup kencang.
Pikiranku melayang kemana-mana sebelum aku mengangkat panggilan tersebut.
Sempat terbersit, aku tidak perlu mengangkatnya. Karena kemungkinannya satu,
aku diutus untuk pergi kesana segera.
Dengan kesadaran yang belum 100%, aku menerima panggilan
itu. Dan benar saja, Bos Besar menyuruhku datang saat itu juga. Tidak boleh
terlambat, ada rapat dadakan dan semua harus dikoordinasikan. Ingin pingsan
kala itu, tapi aku tidak dapat berbuat apapun selain menjawab ‘IYA”. Semua
barang bawaan aku masukkan tas ransel sekenanya. Mencuci muka, sholat ashar
kilat, dan aku langsung berlari meninggalkan rumah kos mbakku menuju jalan
besar melalui gang sempit. Dan ASTAGA!!!. Jalanan macet tiada tara.
Kulihat jam
di HP ku, waktu menunjukkan pukul 16:45. Dan hujan juga seakan menghambat lari
kecilku. Saat itu juga, aku segera mengirim pesan pada Bos Besar bahwasannya
aku akan sangat terlambat karena masih di jalan.
Macet parah, tersebab kala itu adalah waktu jam pulang
kerja, yang membuat banyak polisi berjajar di sepanjang jalan mengatur lalu
lintas. Aku berdiri disebelah salah seorang polisi untuk menunggu bis kota.
Tapi bis yang aku tunggu-tunggu tidak kunjung datang. Dan aku berpindah menuju
tempat, yang sekiranya pak polisi tidak akan berteriak ketika angkutan
berhenti, yang akan membuat jalanan lebih macet.
HP ku bergetar. Satu pesan masuk. Dari Mr. Andre (Bos Besar).
Tidak bisa nanti, yang
penting sekarang.
Begitu sms yang dikirim beliau. Deg, bagaimana bisa?.
Harus kes Elfast saat itu juga, padahal aku masih dipinggir jalan ditengah
kemacetan kota Surabaya. Lalu, pesan kedua masuk. Saya tunggu jam 6.30 petang. Otakku terus berputar, satu setengah
jam untuk perjalanan Surabaya- Kediri terlihat sangat mustahil. Ditambah nunggu
bis, jalanan yang macet, plus ‘ngetem’. Allah... aku hanya butuh keajaibanMu
saat itu.
Bis kota tidak segera muncul meski sudah 15 menit aku
menunggu. Pada akhirnya, aku menghampiri seorang ibu yang kelihatannya juga
menunggu hal yang sama. Aku bertanya, angkutan menuju Bungurasih. Dan, aku
temukan keajaiban pertamaku saat itu. Ibu itu mengajakku naik angkutan umum
atau Len. Alasannya, kalau nunggu bis kota, akan lebih lama lagi. karena itu,
aku harus naik Len meskipun harus ‘oper’ lagi dengan Len lain. Beruntungnya
lagi, ibu itu membayar ongkos naik angkutannya.
Hujan masih menemaniku menunggu bis di pintu keluar
terminal Bungurasih. Kulihat jam lagi, pukul 17:45. Aku putus asa, dan degup
jantungku belum berhenti, masih saja kencang. Hingga pilihan terakhirku,
mengirim sms lagi kepada bos besar bahwa aku tidak akan bisa datang pada rapat
tersebut. Sebagai resikonya, beliau akan menceramahiku panjang-panjang dan aku
akan kehilangan kelasku di periode 10 besok. Tapi hanya dengan itulah, degup
jantungku bisa mereda dan aku bisa menunggu bis PATAS tanpa terbebani dengan
pikiran itu.
Sekitar 45 menit menunggu, bis PATAS muncul. Aku berharap
perjalanan akan memakan waktu tidak kurang dari satu setengah jam. Tapi, entah
ada angin apa, bis melaju sangat pelan dan tidak seperti biasanya. Aku memilih
tidur saja, ditengah rasa bersalahku. Dan membuat perjalanan pulangku tidak
terlalu menyiksa.
Tunggu saja, besok akan ada kejutan lain dari bos besar
atas sikap tidak tanggung jawabku lagi. Dan aku rasa pintu ajaib doraemon
seharusnya ada padaku saat itu, yang bisa membukakan pintu dari Surabaya ke
Pare tanpa ada macet dan segala tetek
bengeknya.

0 komentar:
Posting Komentar