Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Purnama di Jogja


Pundakku diguncang-guncang oleh seseorang yang duduk disampingku. Sudah hampir delapan jam aku tidur terlelap. Hanya sesekali bangun ketika aku harus berganti posisi dudukku di atas bis ‘Sumber Selamet’ (yang dulu dikenal dengan ‘Sumber Kencono’), yang membawaku ke kota Jogjakarta di minggu ketiga bulan Syawal kemarin.

‘Udah nyampek Na’, begitu ucap mbak Novi, teman yang pergi bersamaku.

Akhirnya, sampai juga, batinku. Punggung terasa kaku dan pegal. Duduk tepat dibawah AC bis yang cukup dingin, dengan kondisi dalam bis umum yang berjubel dengan orang, serta supir yang cukup ugal-ugalan, membuatku sedikit kesal dengan perjalanan kali itu. Terasa capek pake banget. Perutku mual tapi tidak bisa muntah. Bah, tidak enak sekali rasanya.

Aku sedikit lega, ketika memasuki terminal Giwangan. Aku segera menuju masjid, bukan untuk sholat, tapi untuk buang air kecil. Karena aku memang sedang mendapat jatah ‘libur’ kala itu, jadi aku bisa menikmati masa singkat menunggu mbak Novi yang sedang sholat dengan duduk di emperan masjid, sembari menetralkan kembali rasa terguncang-guncang akibat naik bis.

Entah, aku tidak tahu apa tujuanku melakukan perjalanan jauh kali ini. Aku berpikir lagi, dan terus berpikir. Mengapa aku tiba-tiba memutuskan untuk pergi ke Jogjakarta, yang awalnya tidak kurencanakan sama sekali di list jalan-jalanku. Mungkin juga ini adalah ungkapan kekesalanku.

Memang, ada beberapa alasan hingga akhirnya aku tiba juga di kota ini. Alasan terbesarnya adalah karena aku gagal merealisasikan mimpi touring-ku, yang sudah aku dan teman-temanku rencanakan jauh-jauh hari.
Dan alasan kedua adalah penolakan halus dari teman lamaku untuk bertemu. Padahal nyatanya, kami tidak pernah bertemu selama dua tahun terakhir, namun dia tidak ada tekat yang besar untuk setidaknya menyempatkan satu hari saja bertemu.

Mengapa kesenangan-kesenangan yang seakan bisa tercipta dengan jelas luntur dengan perlahan-lahan hanya karena tidak ada keserasian, sebut saja resonansi. Ini yang membuatku pergi hingga sejauh ini, hingga ke Kota Jogjakarta.

Mbak Novi lagi-lagi membuyarkan lamunanku. Dia sebenarnya juga bertanya-tanya mengapa aku mendadak ingin ikut pulang bersamanya?. Jawabku hanya simple, pengen maen aja kerumah sampean. Padahal itu hanya alibi agar aku tidak menyesal dengan diam ku di rumah.

Dia juga bertanya kepadaku, pengen pergi kemana. Aku juga tidak tahu tujuan yang jelas. Dan aku hanya bisa menjawab dengan pasrah, ikut sampean aja mbak. Padahal aku sangat membenci hal itu, ketika aku berpergian, tidak tahu tujuan.

Tapi aku tahu keinginanku, satu yang aku inginkan saat itu, pergi melihat dan mendengar debur ombak pantai selatan. Itu saja cukup. Sayangnya, senja sudah terlalu petang. Dan pantai selatan mungkin hanya di mimpi saja.

Kesal, pasti. Capek, sudah sejak di atas bis. Tapi aku tidak mau hal itu terlihat oleh mbak Novi, yang sudah bersedia membawaku bersamanya hingga Ke Jogja. Aku tidak akan merepotkannya dengan muka yang tertekuk, dan perasaan yang sebenarnya aku rasakan.

Dia membawaku menuju arah barat, Kulonprogo, kampung asalnya. Dengan motor Supra bututnya, aku menikmati dinginnya Jogja, sekali lagi. Aku mencoba untuk tersenyum dan mencoba bersahabat dengan keadaan. Malam itu ternyata sangat indah. Hanya saja aku tidak menyadarinya karena terlalu menggerutu dengan keadaan.

Dan juga, bulan di langit sungguh memesona. Mengapa tidak kusadari dari tadi?. Ternyata, perjalanku kali ini tidak seburuk yang aku pikirkan. Aku hanya perlu sedikit menghilangkan rasa kesal, dan merubahnya dengan rasa kagum. Mungkin, itu cukup untuk membuat keadaan lebih baik.

Special Gift


Seratus dua puluh menit, terhitung dari sekarang, hari esok akan tiba. Aku merasa esok haruslah menjadi hari yang mengesankan, dan tak terlupakan. Menapaki hari dengan angka baru berkepala dua. Bila dapat kupaparkan, detik detik penantian ini adalah saat-saat yang mendebarkan. Akan terjadi apa esok, aku masih bertanya-tanya.

Pencapaian, semua orang memiliki itu. Dan aku adalah salah satu diantaranya yang ingin mencapai mimpi dan angan. Berawal dari hal terkecil hari ini, itu akan menjadi sangat berpengaruh nanti. Sebuah keinginan yang sudah kucanangkan beberapa saat yang lalu, menjadi awal titik untuk menggenggam semua mimpi-mimpi yang mengantri untuk sesegera mungkin diwujudkan.

Hari ini, aku telah menyelesaikan berbagai halangan untuk mencapai anganku mengawali dua puluh tahunku. I did it!. Kupersembahkan kado special ini untuk diriku. Aku berhasil mendaki puncak gunung, meskipun hanya sekelas gunung Kelud di Kabupaten Kediri. Yang pada beberapa saat yang lalu, aku bermimpi untuk memberi hadiah istimewa untuk diriku sendiri dengan mendaki Mahameru. Tapi, kemungkinan itu sangat kecil ditengah aktifitas yang sudah tertata rapi.

Ide gila, yah ide ini tiba-tiba muncul disaat setelah perkuliahan siang tadi usai. Masih menunjukkan pukul dua siang, dan aku teringat akan hadiah yang ingin kupersembahkan di awal usia kepala duaku. Huft, kalau dipikir semakin menua saja. Segera kuajak teman lamaku, Anas, untuk segera cabut.

Tak kusangka, baru lima menit perjalanan, rintik hujan berjatuhan. Aah, tidak mungkin... ‘Jangan hujan Ya Allah, aku mau naik gunung’. Tapi, memang sudah jatah turun hujan, dan tidak bisa terelakkan lagi, berbasah-basahan dibawah langit yang menghitam. Hingga butuh satu jam lebih mengendarai motor untuk mencapai lokasi.

Aku lupa memakai jaket. Dan gila saja, angin sangat tidak bersahabat ditengah derasnya hujan, sangat-sangat kencang. Kedinginan, kelaparan, dan keinginan untuk mencapai puncak bercampur menjadi satu. Gila, aku akui itu. Sakit bisa kapan saja menyerang dengan kondisi ku yang tidak berpakaian memadai untuk penghalau dingin dan hujan. Biarlah, aku masih sehat.

Kata teman camp ku, ‘Memang edan orang satu ini, nekat!’.

Kutunggu beberapa saat hingga hujan sedikit mereda ditempat berteduh yang berjajar disekitar area parkir. Pemandangan gunung di tengah hujan kali ini berbeda dari pada biasanya, ketika aku datang saat cuaca cerah. Terasa semakin mencekam dan menakjubkan. Dan waktunya tiba, hujan sedikit  bersahabat dan aku bersama Anas langsung menapaki ratusan anak tangga menuju puncak.

Bbrr, bisa mati kedinginan dengan kondisi angin semakin kencang dan hujan yang tidak segera berhenti. Tapi keadaan itu tidak terasa begitu berat karena terkalahkan oleh semangat untuk sampai puncak sesegera mungkin, karena waktu semakin malam pula. Mp3 ungu kunyalakan, dan hanya cukup dengan lima lagu saja aku sudah mencapai puncak. Aku berteriak, ‘Finally, I did it!’.

Akhirnya, aku persembahkan hadiah puncak ini. Aku harap ini hanyalah awal dari mimpi-mimpi yang menunggu. Dan aku sangat bersyukur masih diberi kekuatan untuk melihat keagungan Tuhan. Selain setengah lingkaran penuh pelangi yang membentang, senja kala itu sangat memanjakan. Semoga kenikamatanMu tidak berhenti sampai disini Tuhan. Thanks a lot God. Berkahi aku Tuhan, Amin.

Kota Kembang


Part 2

Hari kedua di Bandung, badan terasa pegal setelah bangun tidur. Sisa-sisa lelah di kereta dan perjalanan tiada henti di hari pertama. Tapi jalan-jalan masih harus berlanjut. Dengan menaiki angkot, lagi-lagi. Berbicara soal angkot di Bandung, ini sedikit berbeda dengan angkot yang berada di kota lain. Sering aku lihat, orang yang naik angkot rata-rata adalah ibu-ibu yang akan ke pasar, atau anak sekolah dengan seragam. Kebanyakan seperti itu.

Tapi di Bandung berbeda, naik angkot serasa penyegaran mata, khususnya untuk para lelaki. Buatku juga sih,hehe. Karena yang memilih angkot tidak hanya ibu-ibu atau anak sekolah, tapi kebanyakan mojang Bandung yang parasnya terkenal geulis-geulis. Jadi, tidak perlu khawatir dan bosan untuk memilih angkot disana. Mengenai tarif angkutan, sesuai dengan jarak nya. Tidak ada sistem jauh dekat sama tarif. Jadi masih ada tarif 500 ataupun 1000. Khusus angukutan kota, jumlahnya sangat banyak. Jadi, tidak perlu menunggu lama untuk menunggu angkutan umum.

Tujuan pada hari kedua, yang pertama adalah Mambo. Pusat makanan enak pula. Tempatnya tidak sebersih dan senyaman ‘Giggle Box’ yang sebelumnya kita kunjungi. Hanya saja, makanan yang dipendagangkan sangat menggugah selera. Lomie, salah satunya. Deskripsi untuk makanan ini, kuah mie yang biasanya encer, tidak berlaku pada lomie. Karena mungkin ada sedikit maizena sehingga kuahnya mengental dan rasanya sangat pas, dengan udang dan irisan daging ayam. Wajib dicoba.

Satu lagi, tujuan ketika berkunjung di kota kembang adalah Pasar Minggu di Gazibu, tepatnya di depan gedung sate persis. Gazibu yang lapangan, disulap menjadi pasar dengan berbagai macam dagangan. Sangat bergam, dari baju, sepatu, makanan, hingga barang pecah belah. Mulai dibuka jam 6 pagi, tempat ini menjadi tujuan utama para warga Bandung dikala libur hari Minggu.

Liburan di Bandung kali ini menjadi sangat berkesan bagiku. Sedikit mempelajari bahasa sunda yang susah-susah gampang adalah pelajaran tersendiri. Melihat sisi lain dari kota Bandung, dari makanan yang sangat membuat lidah selalu  ketagihan hingga para mojang Bandung yang sedap dipandang.

Jadi, perjalanan ke suatu tempat memang dibutuhkan sekali-sekali. Guna merefresh otak akan keruwetan aktifitas yang monoton. Dan mumpung masih muda, tidak ada salahnya untuk selalu memjelajah setiap lini dunia, guna menambah wawasan serta derajat seseorang. Let’s travel around the world.

Kota Kembang


Part 1

Beberapa hari yang melelahkan, untuk sebuah perjalanan yang lebih tepatnya disebut liburan. Sembari liburan, tujuan utama lain adalah silaturahim ke beberapa kerabat di moment lebaran kali ini. Kota kembang Bandung dan ibu kota Jakarta adalah tujuannya. Pergi hanya bersama kakak pertamaku, Isa, memebuat perjalanan kali terasa berbeda. Entah mengapa, aneh rasanya.

Tepat pukul 13.00 WIB hari Kamis 23 Agustus 2012, diperempatan Tulungredjo aku dan mas sudah berdiri mematung menunggu bis yang lewat menuju stasiun Kediri. Butuh sekian menit menunggu, tapi tak satu pun bis melintas. Dan akhirnya angkutan umum atau yang biasa disebut ‘len’ menjadi pilihan kita. Sekitar kurang lebih tiga puluh menit, aku sampai di stasiun Kediri.

Kereta ekonomi Kahuripan siap berangkat ketika aku sampai. Langsung menuju petugas untuk boarding pass, satu peraturan baru untuk semua penumpang kerera ekonomi, harus menunjukkan identitas baik KTP ataupun SIM yang sesuai dengan nama yang tertera di tiket. Tujuan pertama adalah Bandung, kota yang dikenal dengan makanannya yang sangat nikmat, dan juga mojang Bandung yang geulis dan kasep pisan.

Stasiun Kiara Condong, Bandung. Butuh tujuh belas jam untuk mencapainya. Sangat lama sekali. Karena kereta Kahuripan ini harus beberapa kali berhenti di banyak stasiun dari Jawa Timur hingga Jawa Barat. Dan selanjutnya wisata keliling Bandung siap dimulai.

Tidak perlu mencari penginapan untuk tiga hari keliling Bandung, karena telah direncanakan dari awal, aku dan mas akan menginap di salah satu rumah teman di daerah Cigadung, dan itu semua free of charge. Cuma perlu membawa oleh-oleh dari Kediri sebagai pemanis. Menghemat budget pula.

Hari setibanya di Bandung kebetulan adalah hari Jum’at. Setelah menunggu sholat Jum’at selesai, segera aku, mas, Manda (sang tuan rumah) bergegas menuju Braga city Walk dan berjumpa dengan bang Bintang (murid mas saat di Pare). Menyusuri sepanjang jalan Braga yang suasananya sangat mirip seperti jalan Malioboro di Jogja. Banyak bangunan kuno berjajar di jalanan tersebut, dan berderet-deret toko lukisan kuno yang sangat menakjubkan. Serasa merasakan suasana tempo dulu, dengan keadaan tersebut. Tidak salah jika jalan tersebut selalu ramai akan wisatawan lokal maupun asing.

Di ujung jalan Braga, terdapat bangunan tua yang disebut Gedung Merdeka. Lebih tepatnya adalah bangunan yang difungsikan sebagai Museum Konferensi Asia Afrika. Memang, beberapa puluh tahun yang lalu para petinggi negara selalu mengadakan sebuah konferensi atau KAA di gedung ini. Banyak dipamerkan sejarah KAA dan juga gambar-gambar tentang situasi berlangsungnya KAA yang dipimpin oleh presiden pertama Indonesia, Soekarno. Tempat yang wajib dikunjungi pula ketika bersinggah di kota Kembang ini.

Selanjutnya adalah masjid agung Jawa Barat, yang memiliki dua menara kembar. Tinggal berjalan sekitar 500 meter dari gedung Merdeka, sampailah pada tujuan. Dari atas menara, keindahan kota Bandung akan terlihat sangat elok. Kemacetan yang menjadi pemandangan di jalan utama adalah salah satunya. Selain itu, jajaran gedung pencakar langit bisa diamati dengan sangat jelas dari atas menara dengan 19 lantai tersebut. Cukup ramai pula masjid ini, karena selain tempat ibadah umat muslim, halaman masjid ini juga dijadikan sebagai tempat berjualan para pedagang, baik berjualan makanan, baju, tas, dan lain sebagainya.

Puas menikmati keindahan Bandung dari atas menara, saatnya untuk wisata kuliner. Banyak orang bilang, Bandung memang terkenal untuk semua makanannya, karena mereka sangat kreatif dalam mengolah bahan makanan. Dan aku akan membuktikan sendiri apakah hal itu benar adanya. Dari batagor, siomay, surabi, lomie, es oyen, cimol,cilor, roti bakar, hingga stik siap aku cicipi semua. Dan tentunya, perlu perut kosong dan siap kantong terkuras.

Bang Bintang, yang memang asli orang Bandung yang menjadi guide-ku kali ini memang sangat piawai dan hafal benar dimana tempat-tempat makanan enak yang ada di Bandung. Dan aku sangat bersyukur. Setidaknya tidak perlu ambil pusing untuk memilih makanan enak.

Dengan harga yang relatif mahal dibandingkan makanan yang serupa tapi imitasi yang ada di Pare, kita tidak perlu kecewa. Karena harga akan sesuai dengan rasa. Info lagi, jikalau mau wisata kuliner, datang aja ke Ciwalk, mall yang menyediakan berbagai macam makanan khas Bandung. Tinggal memilih sesuai keinginan.

Saat memasuki mall tersebut, pemandangan kota Kembang juga bisa dinikmati diatas fly over. Disamping itu, jajaran resto-resto makanan yang menggugah selera dan membuat perut langsung bernyanyi ria telah tersuguh didepan mata. Bingung harus memilih mana yang harus dilahap petama. Mata kita tertuju pada satu kios berwarna hijau bertuliskan ‘Cireng Isi’ yang menyediakan Cireng dengan berbagai macam isi. Dari isi sosis, daging, ayam pedas, dan masih banyak lagi. Setelah potongan-potongan cireng masuk ke dalam mulut, rasanya nikmat langsung terasa. Benar-benar berbeda dan sangat-sangat enak.

Makanan ringan kedua yang wajib dicicipi adalah batagor dan siomay Bandung. Apa bedanya dengan yang ada di Pare?. Jawab bang Bintang, sangat-sangat berbeda. Harga memang jauh lebih mahal dibanding di Pare, tapi jangan salah, saat mulut sudah mulai mengunyah makanan, kenikmatan bakso, tahu, yang digoreng serta siomay berasa nendang di mulut.

Puas mencicipi itu semua?. Tentu saja belum. Hari masih sore tepat menunjukkan pukul lima ketika selesai merasakan tiga makanan itu. Dan malam masih panjang untuk sekedar jalan-jalan dan berwisata kuliner lagi. Perut masih penuh jika harus beradu dengan makanan khas Bandung lainnya. Sholat Magrib dahulu, selanjutnya berjalan di sepanjang kawasan Cihampelas, dan setelah itu kita memutuskan untuk bermain bowling di daerah Dago. Pengalaman pertama bermain bowling, dan tidak terlalu mengecewakan untuk hasilnya.

‘Kuliner lagi?’, ajak bang Bintang setelah permainan bowling selesai, dengan dia sebagai pemenang. Hayuk saja aku mah. Hehe. Berjalan lagi menyusuri kota Kembang malam hari, tidak begitu dingin sedingin Pare dimalam hari. Mencari lokasi yang tepat sesuai rekomendasi bang Bintang, dan berbeloklah kita berempat pada satu tempat yang sangat unik. Feminim sekali resto ini, pikirku. Desainnya sangat imut dengan banyaknya lukisan-lukisan bunga di dinding dan sangat nyaman sekali untuk dijadikan tempat favorit nongkrong. ‘Giggle Box’, nama dari resto tersebut.

Makanan yang ditawarkan sangat bervariasi. Dari main food hingga desert dan juga minumannya pun sangat bermacam-macam. Memilih menu yang berbeda, motto kita sejak awal. Karena dengan begitu, kita bisa merasakan berbagai macam jenis makanan. Keputusannya, kita memesan satu spagetti, stik, fish and chicken, big beef, potatoz, dengan minuman bervariasi yang nama aku lupa, karena aneh-aneh memang.
Soal harga, sesuai dengan rasa lagi-lagi. Nikmat nya sangat terasa. Dan hari itu, kita sangat puas dengan menyusuri jalanan kota kembang, dan mencicipi masih sebagian makanan khas Bandung.

Perjalanan hari pertama usai di tengah malam yang tidak terlalu mencekam. Dan perpisahan dengan bang Bintang berakhir di atas angkot. Masih ada dua hari yang tersisa di Bandung.

The Virgin Beach


Menjalani aktifitas di Bulan Ramadhan dengan menjalankan seluruh aturan-Nya adalah hal yang sangat berat tapi disukai oleh-Nya. Bukan diartikan, karena puasa, menahan segala nafsu,yang harus pula menahan diri dari makan dan minum, badan menjadi tak bergairah untuk beraktifitas apapun. Malahan, jika melakukan aktifitas seperti biasa, puasa akan menjadi lebih nikmat apalagi saat berbuka.

Bukan hanya berdiam diri dirumah. Itu lebih tepatnya. Dan bukan karena alasan puasa pula, kegiatan yang menjadi kesenangan baruku terlewatkan yaitu travelling. Entah mengapa, jika mendapat ajakan pergi ke suatu tempat, naluriku langsung meng-iyakan ajakan tersebut bagaimanapun caranya dan sesibuk apapun, harus sebisa mungkin aku beri waktu khusus untuk aktifitas satu ini.

‘Na,, aku sekarang mau ke Blitar, ayo melu’. Pesan singkat dari Betty, salah seorang sahabat lama yang untuk sementara mengajar di Pare. Dan dia berencana untuk pergi ke rumah salah seorang temanku juga di
Blitar tepatnya. Ku-reply smsnya, ‘Kmu dimana?’. Langsung muncul balasan di HP nokia ku. ‘Udah di stasiun Kediri, cepetan nyusul, jam 11 kereta berangkat. Ayo!!!’. Kulihat jam dinding yang berdetak pelan tapi pasti. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.40 , itu berarti dua puluh menit mereka, Betty dan Chimo akan berangkat.

‘Gendeng a bet? 20 menit ke kediri, ya udah kamu berangkat ae. Ati-ati’, balasku sedikit memicingkan mata karena ajakan dari Betty yang benar-benar tidak logis. Entah mengapa, ada perasaan mengganjal di hati.

Kenapa tidak mengajakku sedari kemarin?. Kan aku bisa meluangkan waktu yang memang free pada hari itu. Blitar, tidak seberapa jauh, pikirku. Aku segera mengirimkan pesan singkat ke Mr. Anas untuk ide ku yang sedikit gila, yang tiba-tiba muncul. ‘Anterin aku ke Blitar habis ini pak’. Kutunggu balasan beberapa saat, aku sangat berharap dia langsung meng-iyakan permintaanku. ‘Okey, sekarang?’. Waah...bahagianya, dia langsung mengabulkan permintaanku. ‘Ok, Sekarang’.
Langsung tancap gas di siang bolong. Dalam waktu tidak sampai dua jam, aku sampai dirumah temanku.

Tapi, apa mau dikata, mereka berdua malah pergi ‘nyalon’. Gubraak!!!. Kutunggu beberapa saat hingga mereka berdua datang dengan wajah sumringah layaknya baru mendapat rejeki nomplok gara-gara habis ‘nyalon’. Hanya geleng-geleng kepala melihat dua makhluk aneh didepanku.

Bukan itu intinya dalam perjalanan ku kali ini. Malamnya pun, dengan dua motor aku dan kedua temanku tancap gas ke salah satu pusat kota, tepatnya di cafe tempat tongkrongan remaja disana. Sempat merencanakan pula kegiatan esok harinya pada hari Minggu. Kita putuskan untuk pergi ke salah satu pantai di Blitar yang tergolong masih virgin dengan pasir putihnya. Gondo Mayit, adalah pantai perawan itu.

Tanpa mandi pagi, kita berempat plus pacar Chimo berangkat sekitar pukul 8. Hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari satu jam, kita sampai di lokasi. Dengan tiket hanya 3000 saja, hamparan pantai dengan perahu berjajar rapi di pinggirnya langsung terlihat jelas dan menjadi suguhan yang sangat memanjakan mata. Tapi itu masih penampakan awal, masih ada pantai yang lebih menakjubkan dibalik bukit. Yaitu sang perawan Gondo Mayit, yang namanya sedikit membuat bulu kuduk bergidik.

Untuk mencapainya, gunung kecil atau biasa disebut bukit, perlu kita daki sebelum tiba di tujuan. Ngos-ngos an ditengah jalan, dalam kondisi perut kosong dan tenggorokan kering karena puasa, tidak menghalangi kita semua untuk mencapainya. Sedikit mengeluh dua teman wanita ku ini, karena memang mereka tidak sering melakukan hal ini.

Dan tidak sia-sia usaha kita saat itu, karena memang gulungan ombak putih, beserta riak-riak nya langsung hadir tepat dipelupuk mata. Permukaan laut yang biru, dipadu dengan karang-karang disekeliling pantai sungguh sangat istimewa. Ditambah dengan awan putih dengan background biru nya langit menjadikan hari semakin cerah. Sangat tepat dijadikan objek fotografi.

Semakin menambah rasa syukur ku kepada sang pencipta yang membuat gulungan ombak begitu teraturnya, tinggi dan besar ketika ditengah dan surut ketika ditepian. Yang membuat deretan karang tersusun rapi meskipun terkena terpaan ombak setiap saat, yang menciptakan hiasan awan tepat ditengah birunya langit, dan yang menghidupkan ikan-ikan kecil yang berebut tempat disela-sela karang.

Dan perjalanan pada bulan yang mulia ini menjadikanku semakin mencintai ciptaan Tuhan yang sungguh-sungguh sempurna. Tinggal bagaimana cara kita saja untuk bersyukur atas semuanya. Sampai jumpa lagi Gondo Mayit, lain kali aku akan menjajakimu keperawananmu lagi.

-Foto menyusul-

Going To Europe?! When Will It Happen?


Tertulis dalam catatanku, planning yang satu ini termasuk dream-list ku yang ke-23. Memang, dari satu tahun yang lalu, aku berusaha membuat sebuat list-list mimpi. Dari situ, aku akan berusaha mewujudkannya satu persatu. Semua kutuliskan didalamnya, dari hal terkecil hingga impian besar ku dimasa mendatang. Karena aku yakin, sebuah harapan yang baik akan menjadi nyata jika didukung dengan hal yang positif pula. Berjuang, berusaha, disertai dengan do’a.

Adalah keliling Eropa, dream list ku pada poin ke-23. Entahlah, mengapa aku tuliskan pada jejeran teratas pada listku, dari sekitar 120 list, posisi itu menduduki yang ke 23. Mungkin hanya sebuah kebetulan saja, tapi tak apalah untuk sebuah mimpi yang tinggi. Mungkin Tuhan mendengar dan mengabulkannya.
Eropa (2017). Begitu goresanku. Bisa terhitung dari sekarang, lima tahun lagi aku akan pergi kesana. Hanyalan yang singkat pada waktu itu. Dan sebuah harapan tinggi yang semoga Tuhan menaruh iba pada hambaNya dan akhirnya mengabulkan do’anya. Mungkin hanya mimpi untuk saat ini.

Benua dengan beribu cerita, sejarah, dan tempat-tempat dimana kita bisa mengambil sebuah hikmah didalamnya. Banyak yang belum aku ketahui tentang benua dengan segala hedonisme dan hingar bingar masyarakatnya. Tentang kisah dari masing-masing negara, sejarah, ataupun penduduk yang minoritas disana. Aku hanya mencoba membaca sedikit demi sedikit tentang itu. Mungkin ini bisa menjadi bekal, meski masih terbatas.

Dari ibu kota Paris, yang dikenal dengan kota romantisme, London, Brussels, Cologne, Frankfrut, Stuggart, Munich, Leipzig, Prague, Wroclaw, Lods, Krakow, Lviv, Kiev, Vienna, Budapest, Zargeb, Chisinau, Dessa, Belgrade, Sarajevo, Sofia, Bucharest, Istanbul, Ankar, Eskisehir, Konya, Antalya, Izmir, Nome d’ Anthenes, Paleermo, Naples, Rome, Milan, Turin, Genoa, Marseille, Barcelona, Zaragoza, Madrid, Valencia, Algiers, Malaga, Sevilla, Lisa bon, Granada dan terakhir Cordoba. Itu adalah kota-kota yang berada di Eropa. Hanya beberapa saja yang sering kudengar, dan sebagian lainnya sangat asing di telingaku. Ingin mengunjungi semua tempat itu? Pastinya.

Baru kuketahui sebenarnya, bahwasannya peradaban Islam sangat berkembang di Eropa dimasa lalu. Dan itu baru saja kubaca dari buku yang kupinjam dari salah seorang teman lama. '99 Cahaya di Langit Eropa’, buku ini ditulis oleh Hanum Salsabila Rais, putri dari Amien Rais. Mengisahkan tentang kisah perjalannya menjelajahi Eropa selama kurun waktu tiga tahun dia disana.

Perjalanan bukan dalam arti melakukan suatu travelling yang biasa, tapi dari sini bisa kuambil hikmah bahwasannya melakukan suatu perjalanan bukanlah hanya mencari tempat-tempat bagus, dan menikmati keunikan dan keindahan dari suatu tempat. Ada hal lain yang sebenarnya bisa kita petik dari setiap perjalanan yang kita lakukan. Yakni dapat menbawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan, dan itu yang terpenting.

Kata-kata itu kupetik dari ungkapan Hanum sendiri, hidup itu adalah perjalanan. Yang akan membuat seseorang itu tidak berada dalam kondisi stagnan. Melainkan membuat seseorang akan bertambah dari segi keilmuannya, dan agamanya. Dan lebih mendekatkan diri kepada pemilik semesta atas semua keagunganNya.

Semakin berhasrat untuk menjelajahi setiap lini dari bumi ini setelah membaca ungkapan dari salah seorang sahabat nabi, Ali bin Abi Thalib tentang suatu perjalanan. ‘ Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra ciptaan-ciptaan Nya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutan pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu, dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan’.

Dan do’a ku selalu kupanjatkan kepada Mu Tuhan, agar nantinya semua list-list yang sekarang masih sebatas mimpi akan terkabul atas ijinMu.

‘Sarkem Ala Embong Anyar’


Beberapa hari yang lalu, sahabat dekatku yang sedang menuntut ilmu di salah perguruan tinggi di Malang, datang untuk mengunjungiku di Pare. Rencana awal dia menginap di tempat ku, namun karena ada ‘sesuatu’, akhirnya dia harus berteduh di camp temanku yang lain. Memang, plus minus delapan bulan kita tidak bertatap muka. Dimulai dari akhir lebaran tahun lalu dan baru saja bertemu sekitar lima hari yang lalu.

Setelah kurang lebih dua malam dia bersinggah di kota tunggu yang besar ini, akhirnya kita memutuskan untuk keluar bersama menikmati hawa malam Pare yang khas, dingin dan menusuk. Aku menjemputnya di salah satu lembaga kursusan tempat dia berada saat itu, sekitar pukul sembilan malam lebih. Harus menunggu nya berganti pakaian beberapa saat, hingga akhirnya aku dan dua temanku memutuskan untuk berkeliling Pare dengan bonceng rangkap tiga. Tidak masalah, sudah malam, pikirku. Dan aku rasa, polisi sudah tidak ada yang bersiaga dalam lindungan malam berhawa dua puluh lima derajat.

Aku menjadi sopir mereka berdua, karena memang posisinya aku sebagai tuan rumah. Menjadi tuan rumah yang baik, bijaksana, dan tidak sombong dengan mengajak tamu keluar atau setidaknya melayani mereka. Mengajak mereka berputar-putar disepanjang kota yang bisa dikatakan, kota simple but perfect. Aku melewati sepanjang jalan raya, alun-alun, berbelok kanan dan hingga mencapai Jl. Jaya Wijaya. Tau nggak?. Jalan itu biasa disebut ‘Embong Anyar’ oleh masyarakat setempat, yang artinya adalah jalan baru. Jalan ini tidak bisa dikatakan baru sebenarnya, karena memang pembangunan jalannya sudah sejak beberapa tahun yang lalu.

Mungkin karena sejarah-lah yang membuat nama jalan ini disebut ‘Embong Anyar’.  Jalan ini bisa dikategorikan seperti Gang Doli yang ada di Surabaya ataupun Sarkem yang ada di Jogja. Yups, tepat sekali, jalan ini memang tempat untuk prostitusi illegal di daerah Pare. Berbeda dengan gang Doli ataupun Sarkem yang memang sudah terkenal seantero negeri, Embong Anyar hanya sebatas tempat prostitusi untuk kalangan ekonomi kelas bawah. Bagaimana dengan para pelanggan yang mampir?. Bisa ditebak, para pengguna jasa pelacur hanyalah tukang becak ataupun pekerja kelas bawah lainnya.

Sempat melihat seorang pelacur ‘bencong’ sedang berdiri menunggu pelanggan yang mau menyewanya seharga lima ribu rupiah atau mungkin kurang dari angka itu, saat aku mengarahkan setir motor ke jalan itu. Berpakaian gaun putih yang sudah lusuh, dengan membawa tas jinjing,memakai rambut palsu yang sudah kumal pula, dan berdandan ala kadarnya denga bedak warna kontras dengan permukaan wajahnya, yang membuat wajah orang itu sedikit menakutkan.

Sudah sekitar pukul sepuluh malam lebih, ketika kita bertiga melewati jalan itu. Kita terpana menyaksikan
seorang pelacur yang sabar menunggu para konsumen bertangan kasar yang bersedia berhenti untuknya. 
Dengan gelapnya malam dan sunyinya malam, kita hanya berpikir apakah ada orang malam itu yang mau bersenggama dengannya. Perasaan iba tiba-tiba hinggap di dalam hati dan pikiran kita masing-masing. Sungguh berat hidup pelacur itu. Dan rasa syukurlah akhirnya yang muncul pada akhir perjalanan kita hingga tiba di Garuda Park untuk sekedar berbincang, meneguk segelas kopi disertai jagung bakar.

Gagahnya 'Tretes'


Refreshing, tujuan utama perjalanan kali ini, bersama semua rekan-rekan dan pastinya atas ajakan bos besar Elfast Mr. Andre. Setelah selesainya program fullday satu minggu penuh yang memang cukup menguras tenaga dan pikiran kita semua. Akhirnya, hari Minggu tanggal 29 Mei kemarin, team yang berjumlah sekitar 15 orang siap untuk memulai perjalanan liburan singkat waktu itu.

Rencana awal memang pergi ke tempat yang memanjakan mata, ada dua pilihan sebenarnya. Antara air terjun Sedudo di Nganjuk dan pantai pasir putih di Situbondo. Dengan pertimbangan lamanya perjalanan, air terjun Sedudo-lah yang menjadi pilihan. Menjelang satu hari keberangkatan, beredar kabar bahwa air terjun Sedudo tidak begitu cantik dan menawan. Batal-lah rencana pergi kesana. Dan keputusan terakhir di hari keberangkatan adalah keputusan dari sang empunya hajat sendiri, Mr. Andre.

Akhirnya, air terjun Tretes di perbatasan Malang dan Jombang yang menjadi tujuan. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit dengan mobil, melewati jalan meliuk-liuk dengan pemandangan pepohonan hijau yang membentang sepanjang jalan di sisi kanan-kiri. Sejuk dan damai rasanya. Berhenti sejenak di tengah hutan untuk mengabadikan beberapa foto bersama. Kebetulan, ada fotografer amatir yang siap mengambil semua foto kita, Mr. Fais. Hehe.

Elfast Crew
 Menurut informasi dari beberapa sumber, air terjun ini adalah yang tertinggi di Jawa Timur. Yang tingginya mencapai 170 meter. Hm, betapa indahnya, bayangan kita semua pada awal mendengar info itu. Mempersiapkan beberapa botol air untuk bekal perjalanan panjang yang akan kita tempuh. Dan tak lupa membawa gula merah untuk penambah tenaga ketika tenaga mulai berkurang di tengah jalan.

Perjalanan melewati hutan yang masih alami untuk sampai di air terjun memakan waktu yang cukup lama. Jalan yang menanjak, rerimbunan semak, pohon besar yang tumbang, hingga lintah-lintah ganas yang siap menghisap darah segar manusia menjadi sensasi yang menantang untuk perjalanan saat itu. Namun, itu tidak menjadi kendala yang menghambat aku dan rekan-rekan untuk segera sampai di satu tujuan yang katanya, memang sangat luar biasa indah. Dan hal itu menjadi satu penyemangat untuk mempercepat perjalanan meskipun dengan berbagai macam rintangan.


Tidak jarang kita berhenti di tengah sungai yang mengalir indah dengan airnya yang sedingin air es, untuk mengistirahatkan urat-urat kaki yang mulai pegal dan juga berfoto ria untuk menambah semangat pula. Dengan tenaga yang berbeda, rombongan kita banyak yang terpisah di tengah perjalan. Ada yang mendahului dan ada pula yang masih tertinggal jauh dibelakang. Aku tidak sadar, bahwa aku hanya seorang diri berjalan di tengah hutan tanpa seorang pun yang berada didepan maupun debelakangku. Kunikmati saja perjalanan itu dengan sesekali melihat bagian kaki, mungkin saja lintah sudah menikmati darah segarku. Tapi, darahku terlalu pahit mungkin, hingga lintah pun tak mau menghisap darah segarku. Hehe.

Setelah berjalan selama kurang lebih satu setengah jam, tampaklah sang air terjun yang gagah dengan tingginya yang menjulang menyentuh langit. Tidak sabar saja ingin segera sampai dan merasakan tajamnya cipratan air yang jatuh dari ketinggian 170 meter. Baju yang basah karena harus melewati aliran sungai di sepanjang jalan, semakin menambah heboh rasa dingin yang menusuk tulang. Tiupan angin yang kencang dari sumber air membuat badan menggigil dibuatnya.

Tretes Waterfall
Ingin teriak sekencang-kencangnya saat sampai di bawah air terjun Tretes. Memang benar, air terjunnya sangat indah dengan ketinggiannya. Bisa dibilang, air terjun ini mempunyai tinggi tiga kali dari air terjun Coban Rondo di Malang. Sungguh luar biasa, meskipun volume air yang jatuh tidak seberapa.

Segera kurasakan sentuhan cipratan air yang membelai pipi dan sekujur tubuh hingga gigi pun terasa gemetar dibuatnya. Duduk diatas batu kali yang besar didepan air terjunnya tepat. Namun sayangnya, momen indah dibawah air tejun tidak diabadikan oleh Mr. Fais, karena khawatir kameranya akan error bila terkena air. Padahal, kita semua menunggu saat-saat yang indah dengan mengabadikan gambar dibawah air terjun langsung. Untungnya, aku membawa kamera digital yang bisa dibuat cadangan untuk memotret momen bersama dibawah air terjun Tretes. Seneng kan kalian semua bisa tetap eksis. Hehe.

Setelah merasakan dahsyatnya hawa dingin yang merasuk hingga tulang, cacing-cacing di perut mulai berdendang ria, ingin segera diberi makanan. Namun sayangnya, kita tidak membawa apapun yang bisa dinikmati. Dan semuanya merasakan hal yang sama, perut yang mililit karena perjalanan yang begitu menantang. Hm, menyesal karena tidak ada persiapan sebelumnya.

Hanya bisa menahan rasa lapar yang teramat sangat dalam perjalanan pulang melewati rimbunan hutan lagi. Tapi petualangan saat itu memang beda dari petualangan yang lain. Benar-benar menantang. Dan suatu saat nanti, berharap bisa kesana lagi dengan orang yang berbeda.

Dan satu hal yang pasti, otak kita semua benar-benar fresh lagi setelah melakukan perjalan kali itu. Suasana alam memang kadang membuat pikiran bersih dan semangat lagi untuk melakukan rutinitas yang biasa kita jalani. Dan pastinya, pengalaman indah dalam suatu perjalanan akan selalu didapat.

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Hadna Muthia Izzati
Pare, Kediri, Indonesia
A trainer | A traveler | A dreamer| An Ordinary girl
Lihat profil lengkapku

Ordinary's Friends

Blog contents © Ordinary Little Girl 2010. Blogger Theme by NymFont.