The Virgin Beach
Senin, 06 Agustus 2012
Menjalani aktifitas di
Bulan Ramadhan dengan menjalankan seluruh aturan-Nya adalah hal yang sangat berat
tapi disukai oleh-Nya. Bukan diartikan, karena puasa, menahan segala nafsu,yang
harus pula menahan diri dari makan dan minum, badan menjadi tak bergairah untuk
beraktifitas apapun. Malahan, jika melakukan aktifitas seperti biasa, puasa
akan menjadi lebih nikmat apalagi saat berbuka.
Bukan hanya berdiam diri
dirumah. Itu lebih tepatnya. Dan bukan karena alasan puasa pula, kegiatan yang menjadi
kesenangan baruku terlewatkan yaitu travelling. Entah mengapa, jika mendapat
ajakan pergi ke suatu tempat, naluriku langsung meng-iyakan ajakan tersebut
bagaimanapun caranya dan sesibuk apapun, harus sebisa mungkin aku beri waktu
khusus untuk aktifitas satu ini.
‘Na,, aku sekarang mau ke
Blitar, ayo melu’. Pesan singkat dari Betty, salah seorang sahabat lama yang
untuk sementara mengajar di Pare. Dan dia berencana untuk pergi ke rumah salah
seorang temanku juga di
Blitar tepatnya. Ku-reply smsnya, ‘Kmu dimana?’.
Langsung muncul balasan di HP nokia ku. ‘Udah di stasiun Kediri, cepetan
nyusul, jam 11 kereta berangkat. Ayo!!!’. Kulihat jam dinding yang berdetak
pelan tapi pasti. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.40 , itu berarti dua puluh
menit mereka, Betty dan Chimo akan berangkat.
‘Gendeng a bet? 20 menit
ke kediri, ya udah kamu berangkat ae. Ati-ati’, balasku sedikit memicingkan
mata karena ajakan dari Betty yang benar-benar tidak logis. Entah mengapa, ada
perasaan mengganjal di hati.
Kenapa tidak mengajakku sedari kemarin?. Kan aku
bisa meluangkan waktu yang memang free pada hari itu. Blitar, tidak seberapa
jauh, pikirku. Aku segera mengirimkan pesan singkat ke Mr. Anas untuk ide ku
yang sedikit gila, yang tiba-tiba muncul. ‘Anterin aku ke Blitar habis ini
pak’. Kutunggu balasan beberapa saat, aku sangat berharap dia langsung
meng-iyakan permintaanku. ‘Okey, sekarang?’. Waah...bahagianya, dia langsung
mengabulkan permintaanku. ‘Ok, Sekarang’.
Langsung tancap gas di
siang bolong. Dalam waktu tidak sampai dua jam, aku sampai dirumah temanku.
Tapi, apa mau dikata, mereka berdua malah pergi ‘nyalon’. Gubraak!!!. Kutunggu
beberapa saat hingga mereka berdua datang dengan wajah sumringah layaknya baru
mendapat rejeki nomplok gara-gara habis ‘nyalon’. Hanya geleng-geleng kepala
melihat dua makhluk aneh didepanku.
Bukan itu intinya dalam
perjalanan ku kali ini. Malamnya pun, dengan dua motor aku dan kedua temanku
tancap gas ke salah satu pusat kota, tepatnya di cafe tempat tongkrongan remaja
disana. Sempat merencanakan pula kegiatan esok harinya pada hari Minggu. Kita
putuskan untuk pergi ke salah satu pantai di Blitar yang tergolong masih virgin
dengan pasir putihnya. Gondo Mayit, adalah pantai perawan itu.
Tanpa mandi pagi, kita
berempat plus pacar Chimo berangkat sekitar pukul 8. Hanya membutuhkan waktu
tidak lebih dari satu jam, kita sampai di lokasi. Dengan tiket hanya 3000 saja,
hamparan pantai dengan perahu berjajar rapi di pinggirnya langsung terlihat
jelas dan menjadi suguhan yang sangat memanjakan mata. Tapi itu masih
penampakan awal, masih ada pantai yang lebih menakjubkan dibalik bukit. Yaitu
sang perawan Gondo Mayit, yang namanya sedikit membuat bulu kuduk bergidik.
Untuk mencapainya, gunung
kecil atau biasa disebut bukit, perlu kita daki sebelum tiba di tujuan.
Ngos-ngos an ditengah jalan, dalam kondisi perut kosong dan tenggorokan kering
karena puasa, tidak menghalangi kita semua untuk mencapainya. Sedikit mengeluh
dua teman wanita ku ini, karena memang mereka tidak sering melakukan hal ini.
Dan tidak sia-sia usaha
kita saat itu, karena memang gulungan ombak putih, beserta riak-riak nya
langsung hadir tepat dipelupuk mata. Permukaan laut yang biru, dipadu dengan
karang-karang disekeliling pantai sungguh sangat istimewa. Ditambah dengan awan
putih dengan background biru nya langit menjadikan hari semakin cerah. Sangat
tepat dijadikan objek fotografi.
Semakin menambah rasa
syukur ku kepada sang pencipta yang membuat gulungan ombak begitu teraturnya,
tinggi dan besar ketika ditengah dan surut ketika ditepian. Yang membuat
deretan karang tersusun rapi meskipun terkena terpaan ombak setiap saat, yang
menciptakan hiasan awan tepat ditengah birunya langit, dan yang menghidupkan
ikan-ikan kecil yang berebut tempat disela-sela karang.
Dan perjalanan pada bulan
yang mulia ini menjadikanku semakin mencintai ciptaan Tuhan yang
sungguh-sungguh sempurna. Tinggal bagaimana cara kita saja untuk bersyukur atas
semuanya. Sampai jumpa lagi Gondo Mayit, lain kali aku akan menjajakimu keperawananmu
lagi.
-Foto menyusul-

0 komentar:
Posting Komentar