The Virgin Beach


Menjalani aktifitas di Bulan Ramadhan dengan menjalankan seluruh aturan-Nya adalah hal yang sangat berat tapi disukai oleh-Nya. Bukan diartikan, karena puasa, menahan segala nafsu,yang harus pula menahan diri dari makan dan minum, badan menjadi tak bergairah untuk beraktifitas apapun. Malahan, jika melakukan aktifitas seperti biasa, puasa akan menjadi lebih nikmat apalagi saat berbuka.

Bukan hanya berdiam diri dirumah. Itu lebih tepatnya. Dan bukan karena alasan puasa pula, kegiatan yang menjadi kesenangan baruku terlewatkan yaitu travelling. Entah mengapa, jika mendapat ajakan pergi ke suatu tempat, naluriku langsung meng-iyakan ajakan tersebut bagaimanapun caranya dan sesibuk apapun, harus sebisa mungkin aku beri waktu khusus untuk aktifitas satu ini.

‘Na,, aku sekarang mau ke Blitar, ayo melu’. Pesan singkat dari Betty, salah seorang sahabat lama yang untuk sementara mengajar di Pare. Dan dia berencana untuk pergi ke rumah salah seorang temanku juga di
Blitar tepatnya. Ku-reply smsnya, ‘Kmu dimana?’. Langsung muncul balasan di HP nokia ku. ‘Udah di stasiun Kediri, cepetan nyusul, jam 11 kereta berangkat. Ayo!!!’. Kulihat jam dinding yang berdetak pelan tapi pasti. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.40 , itu berarti dua puluh menit mereka, Betty dan Chimo akan berangkat.

‘Gendeng a bet? 20 menit ke kediri, ya udah kamu berangkat ae. Ati-ati’, balasku sedikit memicingkan mata karena ajakan dari Betty yang benar-benar tidak logis. Entah mengapa, ada perasaan mengganjal di hati.

Kenapa tidak mengajakku sedari kemarin?. Kan aku bisa meluangkan waktu yang memang free pada hari itu. Blitar, tidak seberapa jauh, pikirku. Aku segera mengirimkan pesan singkat ke Mr. Anas untuk ide ku yang sedikit gila, yang tiba-tiba muncul. ‘Anterin aku ke Blitar habis ini pak’. Kutunggu balasan beberapa saat, aku sangat berharap dia langsung meng-iyakan permintaanku. ‘Okey, sekarang?’. Waah...bahagianya, dia langsung mengabulkan permintaanku. ‘Ok, Sekarang’.
Langsung tancap gas di siang bolong. Dalam waktu tidak sampai dua jam, aku sampai dirumah temanku.

Tapi, apa mau dikata, mereka berdua malah pergi ‘nyalon’. Gubraak!!!. Kutunggu beberapa saat hingga mereka berdua datang dengan wajah sumringah layaknya baru mendapat rejeki nomplok gara-gara habis ‘nyalon’. Hanya geleng-geleng kepala melihat dua makhluk aneh didepanku.

Bukan itu intinya dalam perjalanan ku kali ini. Malamnya pun, dengan dua motor aku dan kedua temanku tancap gas ke salah satu pusat kota, tepatnya di cafe tempat tongkrongan remaja disana. Sempat merencanakan pula kegiatan esok harinya pada hari Minggu. Kita putuskan untuk pergi ke salah satu pantai di Blitar yang tergolong masih virgin dengan pasir putihnya. Gondo Mayit, adalah pantai perawan itu.

Tanpa mandi pagi, kita berempat plus pacar Chimo berangkat sekitar pukul 8. Hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari satu jam, kita sampai di lokasi. Dengan tiket hanya 3000 saja, hamparan pantai dengan perahu berjajar rapi di pinggirnya langsung terlihat jelas dan menjadi suguhan yang sangat memanjakan mata. Tapi itu masih penampakan awal, masih ada pantai yang lebih menakjubkan dibalik bukit. Yaitu sang perawan Gondo Mayit, yang namanya sedikit membuat bulu kuduk bergidik.

Untuk mencapainya, gunung kecil atau biasa disebut bukit, perlu kita daki sebelum tiba di tujuan. Ngos-ngos an ditengah jalan, dalam kondisi perut kosong dan tenggorokan kering karena puasa, tidak menghalangi kita semua untuk mencapainya. Sedikit mengeluh dua teman wanita ku ini, karena memang mereka tidak sering melakukan hal ini.

Dan tidak sia-sia usaha kita saat itu, karena memang gulungan ombak putih, beserta riak-riak nya langsung hadir tepat dipelupuk mata. Permukaan laut yang biru, dipadu dengan karang-karang disekeliling pantai sungguh sangat istimewa. Ditambah dengan awan putih dengan background biru nya langit menjadikan hari semakin cerah. Sangat tepat dijadikan objek fotografi.

Semakin menambah rasa syukur ku kepada sang pencipta yang membuat gulungan ombak begitu teraturnya, tinggi dan besar ketika ditengah dan surut ketika ditepian. Yang membuat deretan karang tersusun rapi meskipun terkena terpaan ombak setiap saat, yang menciptakan hiasan awan tepat ditengah birunya langit, dan yang menghidupkan ikan-ikan kecil yang berebut tempat disela-sela karang.

Dan perjalanan pada bulan yang mulia ini menjadikanku semakin mencintai ciptaan Tuhan yang sungguh-sungguh sempurna. Tinggal bagaimana cara kita saja untuk bersyukur atas semuanya. Sampai jumpa lagi Gondo Mayit, lain kali aku akan menjajakimu keperawananmu lagi.

-Foto menyusul-

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Hadna Muthia Izzati
Pare, Kediri, Indonesia
A trainer | A traveler | A dreamer| An Ordinary girl
Lihat profil lengkapku

Ordinary's Friends

Blog contents © Ordinary Little Girl 2010. Blogger Theme by NymFont.