Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan

Circadian Rhythm




Circadian Rhythm, sebuah teori tentang cara mengatur waktu individu atau bisa juga disebut dengan Personal Time Management. Teori ini aku dapat dari materi atau soal reading yang ada di kelas IELTS. Kebetulan, beberapa periode terakhir ini, mungkin sudah sekitar 6 periode aku meng-handle program tersebut, IELTS. Dan direktur utama atau sang guru besar menugaskan kepadaku untuk mengajar materi reading dan listening. Sangat baru sekali ketika aku harus bersentuhan dengan mereka.

Tidak dipungkiri, tugas ini cukup berat untuk ukuran pengajar junior sepertiku yang belum banyak makan asam garam dalam dunia tersebut. Aku tidak banyak menolak ketika aku harus datang setiap saat ke ELFAST untuk briefing materi yang diajarkan. Setiap malam selama dua pekan lamanya.

Penugasan ini adalah tanggung jawab baru bagiku. Entah, seperti apa sikapku ketika aku berhadapan dan berdiri didepan orang yang lebih matang dari diriku sendiri. Karena kebanyakan dari mereka yang mengambil program ini, adalah orang-orang yang mempunyai ekpektasi yang tinggi. Lulusan universitas negeri dari seluruh penjuru negeri menjadi satu dalam satu kelas ini, dengan tujuan utama adalah melanjutkan pendidikan mereka, S2 atau S3 di luar negeri. Ekspektasi yang tinggi, itu adalah mereka. Tidak jarang pula, mereka mencoba bertanya tentang pertanyaan-pertanyaan sulit, diluar jangkauanku. Tapi, itulah guna materi yang diajarkan di IELTS ini, teori Circadian Rhythm.

Aku banyak belajar tentang bagaimana bersikap dan menghadapi berbagai persoalan lewat kutipan dalam satu bacaan tersebut. ‘We can train ourselves to be proactors by taking the time to sit down and assessing the immediate future and past’. Dalam artian, bermuhasabah tentang apa yang akan datang dan apa yang telah terjadi dalam hidup kita. Mengevaluasi semua kesalahan dan mulai memperbaiki sedikit demi sedikit. Begitu intinya, dengan tujuan kita bisa menjadi manusia yang proactors, manusia yang disebut dengan the right man in the right place.

Kesalahan-kesalahan yang sering kulakukan di awal penugasan ini, menjadikanku semakin mengerti bagaimana seharusnya mengatur waktu, tidak terledor dalam bertindak, dan semakin mengerti bagaimana seharusnya bersikap dengan baik dan tepat. Intinya, bagaimanapun yang terjadi, tetap tenang. Keep calm, and everything will be alright!!!

Satu Jam dalam Renungan


Semalam aku tiba dirumah jam sembilan lebih. Jauh dari yang kuprediksikan. Setelahnya, tanpa makan malam, aku langsung mengambil air wudlu, sholat, dan pergi tidur. Meskipun aku masih ‘kepikiran’ tentang sikap ke-tidak profesional-an atas pekerjaanku, aku berusaha untuk tidur senyenyak-nyenyaknya. Dan berdo’a semoga hari esok diberi kelancaran oleh Tuhan.

Pagi itu, aku mendapat sms lagi dari Bos Besar. Aku tidak akan mengajar kelas IELTS periode 10 ini, tapi aku masih harus tetap masuk kelas beliau untuk mempelajari teknik pengajaran yang masih tergolong baru kujejaki. Sms kedua beliau masuk, berisi tentang materi pertama yang harus aku siapkan, dan juga harus ku foto copy pagi itu. Aku tidak mau menambah masalah, aku hanya membalasnya dengan OK SIR.

Aku tidak tidur lagi pagi itu, karena aku harus mandi lebih pagi dari biasanya dan menyiapkan materi. Sarapan pun juga terpaksa disuapin oleh ibu. Tapi, entah mengapa, sedini apapun aku siap-siap, tetap saja terlambat. Ditambah lagi satu masalah, motor yang susah dinyalakan. Lima belas menit sebelum jam tujuh, sebenarnya aku sudah siap dengan semuanya. Tapi, tidak dengan motorku. Dia membuatku lebih terlambat.

Aku mencoba berkali-kali men-starter dengan menggunakan kaki, hingga sepuluh menit lebih. Tapi, dia tetap tidak nyala. Allah... bagaimana ini?. Akan ada masalah lagi dengan bos besar setelah ini. Aku memanggil bapak untuk meminta bantuan, tapi tidak ada jawaban. Aku terus berusaha menyalakannya, dan akhirnya tetangga ku datang membantu.

Saat motor sudah mulai nyala, ada panggilan masuk. Mr. Andre. Astaghfirullah... Beliau lagi.  Belum selesai degup jantungku sisa kemarin, sekarang ditambah lagi. Ampun Tuhan...

‘Dimana kamu Had?’
‘Ini mau berangkat sir.’
‘Ya Allah Had, gimana to kamu. Sudah kamu fotocopy?’
‘After this sir.’
‘Lhoh, gimana to kamu ini. Kok belum dicopy. Bilang to dari tadi kalau kamu gak bisa datang pagi. Kalau gini kan saya jadi repot.’

Mati. Lengkap sudah.  Beliau benar-benar marah kepadaku. Ada panggilan lagi, Mr. Andre.
‘Udah Had, kamu nggak usah masuk aja.!!’

Nada suara beliau meninggi untuk yang terakhir ini. Aku sudah diatas motorku saat itu, dan berpikir tidak perlu pergi ke Elfast saja pagi itu, karena Mr. Andre pun sudah berkata demikian. Tapi, itu tidak akan menyelesaikan masalah, dan akan berakar menjadi problem yang besar jika aku tidak mengahadap secepatnya.

Aku tiba disana lima menit kemudian. Masuk ke kantor, dan menghadap beliau yang sedang mem-fotocopy materi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Intinya, aku sudah siap dimarahi. Dan, rentetan kalimat-kalimat nasihat beliau beradu di telingaku saat itu. Rasa capek, kecewa, marah, tidak paham atas sikapku, bercampur menjadi satu di diri Mr. Andre. Aku rasa maaf pun tidak bisa membantu atas kesalahanku. Ingin menangis didepan beliau, tapi air mata tidak keluar. Dan aku hanya bisa diam.

Duduk di kantor sendiri, instropeksi kesalahan-kesalahan yang telah kulakukan. Aku kira, sangat banyak sekali. Apalagi di mata bos besar ku. Mungkin salahku lebih banyak dari benarku. Aku tidak boleh masuk kelas beliau, saat ini dan seterusnya. Aku diam, berpikir, dan aku tidak tahu solusinya.

Yang terpikirkan hanya saru, aku memang tidak bisa terikat dengan aturan yang membuatku terkekang. Gilanya, aku malah ingin memutuskan keterikatanku dengan perusahaan itu secepatnya. Tapi, aku berpikir lagi, aku tidak akan mungkin melakukannya. Karena, aku masih punya tanggung jawab untuk membiayai kuliah ku sendiri. Tanpa pekerjaan ini, semuanya akan terbengkalai.

Disaat sendiriku hingga satu jam, istri Mr. Andre memanggilku ke ruangannya. Aku sangat senang melihatnya, begitu anggun dengan jilbab besarnya. Ketika beliau berbicara, terasa menenangkan. Bu Wirda berbasa-basi sejenak dan setelah itu menuju inti pembicaraan tentang masalah ku dengan Mr. Andre. Beliau menanyaiku apa yang terjadi. Dan saat aku mulai berbicara, air mataku tidak tahan lagi untuk terjun bebas. Aku menangis, aku mengadu kepada beliau atas kesalahanku.

Pada akhirnya, Bu Wirda menggaris bawahi atas sikapku. Meskipun tidak sering berkomunikasi, tapi beliau paham betul atas sikapku, yang terkesan easy going. Dari sudut pandang beliau, meskipun dalam kondisi paneng sekalipun, aku masih bisa tersenyum. Dan itu adalah hal positive. Tapi negativenya, ya seperti ini. Aku terkesan dadakan dalam melakukan apapun, tidak suka mempersiapkan segala sesuatu jauh-jauh sebelumnya. Itu menjadi baik ketika aku bisa mengatasinya, tapi menjadi hal yang fatal ketika aku terus menerus melakukannya.

Dari informasi beliau, ternyata Mr Andre juga mempunyai sikap yang sama sepertiku. Berpikir simple. Dan ketika simple dan simple disatukan, maka tidak akan bertemu. Malah akan menimbulkan masalah. Itulah titik temunya.

Satu pesan beliau, aku harus berbicara baik-baik dengan bos besar dan mencoba untuk merubah sikap yang terlalu santai ini. Karakter tidak mudah untuk dirubah. Dan begitupun dalam diriku. Karakter cuek dan easy going sudah terlanjur mengakar lama, lebih lama dari aku mulai memahami sikapku. Tapi, tidak ada cara lain untuk menjadi lebih baik, selain merubahnya pelan-pelan. Semoga Tuhan membantu.

Pintu ‘Ajaib’ Doraemon



Alangkah bahagianya kalau aku bisa punya pintu ‘ajaib’ layaknya doraemon. Dalam selangkah saja, sudah bisa berpindah tempat dari satu wilayah ke wilayah lain, sejauh apapun tempat itu. Dan aku akan sangat beruntung kalau saja mempunyainya. Tapi itu sangat mustahil terjadi. ‘Keajaiban’. Aku butuh itu sekarang, atau hal-hal yang bersangkutan dengan hal-hal ajaib lainnya, yang bisa membantuku tersadar atas segala sikapku selama ini, yang sangat tidak bertanggung jawab atas tugasku.

Sore kemarin, aku terbangun ditengan rintik hujan di kamar sempit kos mbakku di Surabaya. Telah kurencanakan sebelumnya, aku akan pulang ke Pare sore itu, sekitar pukul setengah empat. Tapi karena cuaca tidak bersahabat, mataku pun terpejam melalaikan waktu. Hingga akhirnya, ada panggilan masuk di HP nokiaku bertuliskan ‘ELFAST’, yang membuat mataku terbelalak seketika dan entah mengapa jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Pikiranku melayang kemana-mana sebelum aku mengangkat panggilan tersebut. Sempat terbersit, aku tidak perlu mengangkatnya. Karena kemungkinannya satu, aku diutus untuk pergi kesana segera.

Dengan kesadaran yang belum 100%, aku menerima panggilan itu. Dan benar saja, Bos Besar menyuruhku datang saat itu juga. Tidak boleh terlambat, ada rapat dadakan dan semua harus dikoordinasikan. Ingin pingsan kala itu, tapi aku tidak dapat berbuat apapun selain menjawab ‘IYA”. Semua barang bawaan aku masukkan tas ransel sekenanya. Mencuci muka, sholat ashar kilat, dan aku langsung berlari meninggalkan rumah kos mbakku menuju jalan besar melalui gang sempit. Dan ASTAGA!!!. Jalanan macet tiada tara.

Kulihat jam di HP ku, waktu menunjukkan pukul 16:45. Dan hujan juga seakan menghambat lari kecilku. Saat itu juga, aku segera mengirim pesan pada Bos Besar bahwasannya aku akan sangat terlambat karena masih di jalan.

Macet parah, tersebab kala itu adalah waktu jam pulang kerja, yang membuat banyak polisi berjajar di sepanjang jalan mengatur lalu lintas. Aku berdiri disebelah salah seorang polisi untuk menunggu bis kota. Tapi bis yang aku tunggu-tunggu tidak kunjung datang. Dan aku berpindah menuju tempat, yang sekiranya pak polisi tidak akan berteriak ketika angkutan berhenti, yang akan membuat jalanan lebih macet.

HP ku bergetar. Satu pesan masuk. Dari Mr. Andre (Bos Besar).
Tidak bisa nanti, yang penting sekarang.

Begitu sms yang dikirim beliau. Deg, bagaimana bisa?. Harus kes Elfast saat itu juga, padahal aku masih dipinggir jalan ditengah kemacetan kota Surabaya. Lalu, pesan kedua masuk. Saya tunggu jam 6.30 petang. Otakku terus berputar, satu setengah jam untuk perjalanan Surabaya- Kediri terlihat sangat mustahil. Ditambah nunggu bis, jalanan yang macet, plus ‘ngetem’. Allah... aku hanya butuh keajaibanMu saat itu.

Bis kota tidak segera muncul meski sudah 15 menit aku menunggu. Pada akhirnya, aku menghampiri seorang ibu yang kelihatannya juga menunggu hal yang sama. Aku bertanya, angkutan menuju Bungurasih. Dan, aku temukan keajaiban pertamaku saat itu. Ibu itu mengajakku naik angkutan umum atau Len. Alasannya, kalau nunggu bis kota, akan lebih lama lagi. karena itu, aku harus naik Len meskipun harus ‘oper’ lagi dengan Len lain. Beruntungnya lagi, ibu itu membayar ongkos naik angkutannya.

Hujan masih menemaniku menunggu bis di pintu keluar terminal Bungurasih. Kulihat jam lagi, pukul 17:45. Aku putus asa, dan degup jantungku belum berhenti, masih saja kencang. Hingga pilihan terakhirku, mengirim sms lagi kepada bos besar bahwa aku tidak akan bisa datang pada rapat tersebut. Sebagai resikonya, beliau akan menceramahiku panjang-panjang dan aku akan kehilangan kelasku di periode 10 besok. Tapi hanya dengan itulah, degup jantungku bisa mereda dan aku bisa menunggu bis PATAS tanpa terbebani dengan pikiran itu.

Sekitar 45 menit menunggu, bis PATAS muncul. Aku berharap perjalanan akan memakan waktu tidak kurang dari satu setengah jam. Tapi, entah ada angin apa, bis melaju sangat pelan dan tidak seperti biasanya. Aku memilih tidur saja, ditengah rasa bersalahku. Dan membuat perjalanan pulangku tidak terlalu menyiksa.

Tunggu saja, besok akan ada kejutan lain dari bos besar atas sikap tidak tanggung jawabku lagi. Dan aku rasa pintu ajaib doraemon seharusnya ada padaku saat itu, yang bisa membukakan pintu dari Surabaya ke Pare tanpa ada macet dan segala tetek  bengeknya.


Lanjutkan Saja


Catatan ini, memang tidak pernah usai. Mengisahkan lika liku panjangnya perjalan hingga nanti berakhir pada ujungya. Aku tidak tahu apa yang ingin kugoreskan di dalam malam yang terasa sepi didalam keramaian tempat tinggalku ini. Lagi-lagi rasa ini menyerang, sepi dan sendiri aku benci. Meskipun ditengah-tengah  celoteh para wanita yang saling bercerita tentang kisah cinta mereka. Aah, ingin segera kupasang earphone dan kuputar lagu sekencang-kencangnya dari notebook ungu mudaku. Muak sudah mendengar celoteh perempuan-perempuan yang tidak tahu dimana akhirnya. Dan lagi-lagi, lagu ‘owlcity’ tetap menjadi playlist utama ku didalam setiap sepiku. Setidaknya lagu-lagunya bisa membuat kuping yang panas karena gumaman para wanita disekitarku menjadi lebih baik. Sudah tidak terdengar lagi apa saja yang mereka katakan, tapi bisa kupastikan mereka masih berbicara seputar para kekasih hati mereka. Shit, apa-apaan ini. Ingin ku-stop saja apa yang mereka obrolkan, karena  semaki n lama semakin tidak ada ujungnya. Tapi, apa hakku melarang mereka berbicara?. Yah, aku yang harus mengalah. Tidak ikut campur dalam perbincangan mereka, dan menyetel lagu semakin keras lagi. Itu lebih baik. Namun, ada hal yang aneh, kenapa aku harus muak dengan cerita mereka?. Entah, aku juga tidak tahu, tidak ada yang salah dalam perbincangan kawan-kawanku. Atau aku yang salah?. Merasa asing ditengah celoteh mereka, mungkin demikian. Tapi biarlah, aku menghindar saja. Setidaknya aku tidak perlu menjawab pertanyaan interogasi dari mereka ketika aku ikut didalamnya, itu lebih baik menurutku. Kalau begitu, teruskan saja celotehmu kawan, meski kau semua tidak mengerti apa yang temanmu satu ini pendam, dan rasakan.

Kultum Subuh Tadi


Tiba-tiba mataku terbelalak didalam kesunyian subuh yang mulai menyapa. Hari ini aku harus beradaptasi lagi, ditengah-tengah lingkungan yang baru, dan memulai semua awalnya. Jamaah subuh. Ya, itu yang harus kulakukan mulai detik tesebut.

Menyimak kuliah tujuh menit setelah sholat, jarang sekali aku lakukan. Tapi subuh itu terasa berbeda saat mendengar kultum yang sangat menyentuh oleh seorang ustadz. Singkat cerita, beginilah isinya.

Suatu masa ada seorang anak dan seorang ibu yang berbincang-bincang ringan. Waktu itu, sang anak masih dalam masa Sekolah Dasar, bisa dikatakan masa pertumbuhan. Di dalam perbincangan tersebut, sang ibu bertanya kepada sang anak,

“ Nak, tahukah kamu bagian tubuh mana yang paling penting?” tanya sang ibu.

“ Bagian tubuh yang paling penting?” pikir sang anak. “Mata, karena kalau aku tidak mempunyai mata, aku tidak akan bisa melihat bu.” Begitulah jawaban sang anak.

“ Jawaban mu benar, tapi kurang tepat nak.” Sang ibu menjawab.

Seiring berjalannya waktu, ucapan sang anak terbukti bahwasannya ungkapan tersebut kurang tepat adanya.
Memang, mata adalah panca indra yang berfungsi untuk melihat. Tapi apakah tanpa mata, hidup kita akan berakhir?. Tidak. Masih ada hati yang bisa lebih peka untuk melihat, tidak hanya lahiriah, melainkan juga batiniyah.

Setelah beranjak remaja, sang ibu bertanya lagi kepada sang anak tentang pertanyaan yang sama.

“ Nak, tahukah kamu bagian tubuh mana yang paling penting?” tanya sang ibu.

Kali ini, sang anak menjawab dengan jawaban yang berbeda.

“ Telinga bu, karena telinga sangat penting untuk mendengar. Kalau kita tidak mempunyai telinga kita pasti tuli, tidak bisa mendengar.” Jawab sang anak yakin.
Ibu hanya tersenyum, “Jawaban yang bagus, tapi belum tepat juga nak. Coba kamu pikirkan lagi.” Jawab sang ibu.

Sama halnya dengan mata, telinga pun juga merupakan organ penting di dalam tubuh manusia. Tapi, apakah tanpa telinga, hidup akan berakhir pula?. Jikalau seseorang tuli, ataupun buta, orang itu masih mendengar dan juga melihat. Karena adanya hati yang masih berfungsi.

Lalu, apakah hati merupakan bagian tubuh yang penting?. Sang anak masih terus berpikir.
Bergulirnya hari demi hari, sang anak pun tumbuh menjadi dewasa. Namun dia masih belum bisa menemukan jawaban dari pertanyaan sang ibu dengan tepat.

Suatu hari, tepat di hari kematian kakek sang anak, semua keluarganya berkumpul dan mereka menangis dikarenakan kepergian sang ayah. Menangis sejadi-jadinya, begitu pula ibu sang anak. Melihat kondisi tersebut, sang anak tidak tahan menahan genangan air matanya. Karena kesedihan ditinggal oleh seseorang yang disayang.

Saat itu, sang anak mendekat kepada sang ibu. Mereka menangis. Karena merasa kehilangan serta kesedihan yang teramat. Sang ibu merapat kepada sang anak dan memberi pelukan agar sang anak tidak lagi menangis. Dan pada saat itu pula, sang ibu bertanya kembali. “Disaat kondisi seperti ini, tahukah kau sekarang, bagian tubuh yang mana yang paling penting?.”

Sang anak yang sembari tadi menangis, hanya bisa menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu ibu. Aku tidak tahu,” jawab sang anak sambil sesenggukan.

Melihat kondisi sang anak yang terus menangis, sang ibu mengusap air matanya dan mulai mendekap sang anak lebih erat lagi.

“Bagian tubuh yang paling penting itu adalah Bahu. Tahukah kamu nak, kenapa bahu menjadi bagian terpenting diantara yang lain?. Mungkin kamu beranggapan bahwa hati adalah yang paling penting. Tapi, selain itu ada bagian tubuh lain yang lebih penting lagi, yaitu bahu.”

Karena filosofi bahu bermakna, bahu adalah tempat untuk memberi ketenangan disaat seseorang gundah, bahu untuk memberi kedamaian disaat seseorang bersedih, bahu untuk menghilangkan amarah, dan bahu adalah tempat yang paling tepat untuk menjadikan seseorang menjadi tenang, damai, bahagia, serta menghilangkan kesedihan.

Bahu sang ayah, bahu ibu, bahu teman, bahu sahabat, dan bahu orang terkasih adalah tempat yang paling tepat untuk berkeluh. Dan begitulah jawaban sang ibu.

Itulah kisah dari seorang ibu dan anak. Bahu. Ya, bagian itu memang paling nyaman untuk berkeluh ketika dirundung masalah, kesedihan, dan apapun. Mungkin saat ini, akupun sangat merindukan bahu yang pas untuk tempatku bersandar..

Kota Kembang


Part 2

Hari kedua di Bandung, badan terasa pegal setelah bangun tidur. Sisa-sisa lelah di kereta dan perjalanan tiada henti di hari pertama. Tapi jalan-jalan masih harus berlanjut. Dengan menaiki angkot, lagi-lagi. Berbicara soal angkot di Bandung, ini sedikit berbeda dengan angkot yang berada di kota lain. Sering aku lihat, orang yang naik angkot rata-rata adalah ibu-ibu yang akan ke pasar, atau anak sekolah dengan seragam. Kebanyakan seperti itu.

Tapi di Bandung berbeda, naik angkot serasa penyegaran mata, khususnya untuk para lelaki. Buatku juga sih,hehe. Karena yang memilih angkot tidak hanya ibu-ibu atau anak sekolah, tapi kebanyakan mojang Bandung yang parasnya terkenal geulis-geulis. Jadi, tidak perlu khawatir dan bosan untuk memilih angkot disana. Mengenai tarif angkutan, sesuai dengan jarak nya. Tidak ada sistem jauh dekat sama tarif. Jadi masih ada tarif 500 ataupun 1000. Khusus angukutan kota, jumlahnya sangat banyak. Jadi, tidak perlu menunggu lama untuk menunggu angkutan umum.

Tujuan pada hari kedua, yang pertama adalah Mambo. Pusat makanan enak pula. Tempatnya tidak sebersih dan senyaman ‘Giggle Box’ yang sebelumnya kita kunjungi. Hanya saja, makanan yang dipendagangkan sangat menggugah selera. Lomie, salah satunya. Deskripsi untuk makanan ini, kuah mie yang biasanya encer, tidak berlaku pada lomie. Karena mungkin ada sedikit maizena sehingga kuahnya mengental dan rasanya sangat pas, dengan udang dan irisan daging ayam. Wajib dicoba.

Satu lagi, tujuan ketika berkunjung di kota kembang adalah Pasar Minggu di Gazibu, tepatnya di depan gedung sate persis. Gazibu yang lapangan, disulap menjadi pasar dengan berbagai macam dagangan. Sangat bergam, dari baju, sepatu, makanan, hingga barang pecah belah. Mulai dibuka jam 6 pagi, tempat ini menjadi tujuan utama para warga Bandung dikala libur hari Minggu.

Liburan di Bandung kali ini menjadi sangat berkesan bagiku. Sedikit mempelajari bahasa sunda yang susah-susah gampang adalah pelajaran tersendiri. Melihat sisi lain dari kota Bandung, dari makanan yang sangat membuat lidah selalu  ketagihan hingga para mojang Bandung yang sedap dipandang.

Jadi, perjalanan ke suatu tempat memang dibutuhkan sekali-sekali. Guna merefresh otak akan keruwetan aktifitas yang monoton. Dan mumpung masih muda, tidak ada salahnya untuk selalu memjelajah setiap lini dunia, guna menambah wawasan serta derajat seseorang. Let’s travel around the world.

Kota Kembang


Part 1

Beberapa hari yang melelahkan, untuk sebuah perjalanan yang lebih tepatnya disebut liburan. Sembari liburan, tujuan utama lain adalah silaturahim ke beberapa kerabat di moment lebaran kali ini. Kota kembang Bandung dan ibu kota Jakarta adalah tujuannya. Pergi hanya bersama kakak pertamaku, Isa, memebuat perjalanan kali terasa berbeda. Entah mengapa, aneh rasanya.

Tepat pukul 13.00 WIB hari Kamis 23 Agustus 2012, diperempatan Tulungredjo aku dan mas sudah berdiri mematung menunggu bis yang lewat menuju stasiun Kediri. Butuh sekian menit menunggu, tapi tak satu pun bis melintas. Dan akhirnya angkutan umum atau yang biasa disebut ‘len’ menjadi pilihan kita. Sekitar kurang lebih tiga puluh menit, aku sampai di stasiun Kediri.

Kereta ekonomi Kahuripan siap berangkat ketika aku sampai. Langsung menuju petugas untuk boarding pass, satu peraturan baru untuk semua penumpang kerera ekonomi, harus menunjukkan identitas baik KTP ataupun SIM yang sesuai dengan nama yang tertera di tiket. Tujuan pertama adalah Bandung, kota yang dikenal dengan makanannya yang sangat nikmat, dan juga mojang Bandung yang geulis dan kasep pisan.

Stasiun Kiara Condong, Bandung. Butuh tujuh belas jam untuk mencapainya. Sangat lama sekali. Karena kereta Kahuripan ini harus beberapa kali berhenti di banyak stasiun dari Jawa Timur hingga Jawa Barat. Dan selanjutnya wisata keliling Bandung siap dimulai.

Tidak perlu mencari penginapan untuk tiga hari keliling Bandung, karena telah direncanakan dari awal, aku dan mas akan menginap di salah satu rumah teman di daerah Cigadung, dan itu semua free of charge. Cuma perlu membawa oleh-oleh dari Kediri sebagai pemanis. Menghemat budget pula.

Hari setibanya di Bandung kebetulan adalah hari Jum’at. Setelah menunggu sholat Jum’at selesai, segera aku, mas, Manda (sang tuan rumah) bergegas menuju Braga city Walk dan berjumpa dengan bang Bintang (murid mas saat di Pare). Menyusuri sepanjang jalan Braga yang suasananya sangat mirip seperti jalan Malioboro di Jogja. Banyak bangunan kuno berjajar di jalanan tersebut, dan berderet-deret toko lukisan kuno yang sangat menakjubkan. Serasa merasakan suasana tempo dulu, dengan keadaan tersebut. Tidak salah jika jalan tersebut selalu ramai akan wisatawan lokal maupun asing.

Di ujung jalan Braga, terdapat bangunan tua yang disebut Gedung Merdeka. Lebih tepatnya adalah bangunan yang difungsikan sebagai Museum Konferensi Asia Afrika. Memang, beberapa puluh tahun yang lalu para petinggi negara selalu mengadakan sebuah konferensi atau KAA di gedung ini. Banyak dipamerkan sejarah KAA dan juga gambar-gambar tentang situasi berlangsungnya KAA yang dipimpin oleh presiden pertama Indonesia, Soekarno. Tempat yang wajib dikunjungi pula ketika bersinggah di kota Kembang ini.

Selanjutnya adalah masjid agung Jawa Barat, yang memiliki dua menara kembar. Tinggal berjalan sekitar 500 meter dari gedung Merdeka, sampailah pada tujuan. Dari atas menara, keindahan kota Bandung akan terlihat sangat elok. Kemacetan yang menjadi pemandangan di jalan utama adalah salah satunya. Selain itu, jajaran gedung pencakar langit bisa diamati dengan sangat jelas dari atas menara dengan 19 lantai tersebut. Cukup ramai pula masjid ini, karena selain tempat ibadah umat muslim, halaman masjid ini juga dijadikan sebagai tempat berjualan para pedagang, baik berjualan makanan, baju, tas, dan lain sebagainya.

Puas menikmati keindahan Bandung dari atas menara, saatnya untuk wisata kuliner. Banyak orang bilang, Bandung memang terkenal untuk semua makanannya, karena mereka sangat kreatif dalam mengolah bahan makanan. Dan aku akan membuktikan sendiri apakah hal itu benar adanya. Dari batagor, siomay, surabi, lomie, es oyen, cimol,cilor, roti bakar, hingga stik siap aku cicipi semua. Dan tentunya, perlu perut kosong dan siap kantong terkuras.

Bang Bintang, yang memang asli orang Bandung yang menjadi guide-ku kali ini memang sangat piawai dan hafal benar dimana tempat-tempat makanan enak yang ada di Bandung. Dan aku sangat bersyukur. Setidaknya tidak perlu ambil pusing untuk memilih makanan enak.

Dengan harga yang relatif mahal dibandingkan makanan yang serupa tapi imitasi yang ada di Pare, kita tidak perlu kecewa. Karena harga akan sesuai dengan rasa. Info lagi, jikalau mau wisata kuliner, datang aja ke Ciwalk, mall yang menyediakan berbagai macam makanan khas Bandung. Tinggal memilih sesuai keinginan.

Saat memasuki mall tersebut, pemandangan kota Kembang juga bisa dinikmati diatas fly over. Disamping itu, jajaran resto-resto makanan yang menggugah selera dan membuat perut langsung bernyanyi ria telah tersuguh didepan mata. Bingung harus memilih mana yang harus dilahap petama. Mata kita tertuju pada satu kios berwarna hijau bertuliskan ‘Cireng Isi’ yang menyediakan Cireng dengan berbagai macam isi. Dari isi sosis, daging, ayam pedas, dan masih banyak lagi. Setelah potongan-potongan cireng masuk ke dalam mulut, rasanya nikmat langsung terasa. Benar-benar berbeda dan sangat-sangat enak.

Makanan ringan kedua yang wajib dicicipi adalah batagor dan siomay Bandung. Apa bedanya dengan yang ada di Pare?. Jawab bang Bintang, sangat-sangat berbeda. Harga memang jauh lebih mahal dibanding di Pare, tapi jangan salah, saat mulut sudah mulai mengunyah makanan, kenikmatan bakso, tahu, yang digoreng serta siomay berasa nendang di mulut.

Puas mencicipi itu semua?. Tentu saja belum. Hari masih sore tepat menunjukkan pukul lima ketika selesai merasakan tiga makanan itu. Dan malam masih panjang untuk sekedar jalan-jalan dan berwisata kuliner lagi. Perut masih penuh jika harus beradu dengan makanan khas Bandung lainnya. Sholat Magrib dahulu, selanjutnya berjalan di sepanjang kawasan Cihampelas, dan setelah itu kita memutuskan untuk bermain bowling di daerah Dago. Pengalaman pertama bermain bowling, dan tidak terlalu mengecewakan untuk hasilnya.

‘Kuliner lagi?’, ajak bang Bintang setelah permainan bowling selesai, dengan dia sebagai pemenang. Hayuk saja aku mah. Hehe. Berjalan lagi menyusuri kota Kembang malam hari, tidak begitu dingin sedingin Pare dimalam hari. Mencari lokasi yang tepat sesuai rekomendasi bang Bintang, dan berbeloklah kita berempat pada satu tempat yang sangat unik. Feminim sekali resto ini, pikirku. Desainnya sangat imut dengan banyaknya lukisan-lukisan bunga di dinding dan sangat nyaman sekali untuk dijadikan tempat favorit nongkrong. ‘Giggle Box’, nama dari resto tersebut.

Makanan yang ditawarkan sangat bervariasi. Dari main food hingga desert dan juga minumannya pun sangat bermacam-macam. Memilih menu yang berbeda, motto kita sejak awal. Karena dengan begitu, kita bisa merasakan berbagai macam jenis makanan. Keputusannya, kita memesan satu spagetti, stik, fish and chicken, big beef, potatoz, dengan minuman bervariasi yang nama aku lupa, karena aneh-aneh memang.
Soal harga, sesuai dengan rasa lagi-lagi. Nikmat nya sangat terasa. Dan hari itu, kita sangat puas dengan menyusuri jalanan kota kembang, dan mencicipi masih sebagian makanan khas Bandung.

Perjalanan hari pertama usai di tengah malam yang tidak terlalu mencekam. Dan perpisahan dengan bang Bintang berakhir di atas angkot. Masih ada dua hari yang tersisa di Bandung.

Gadis Kecil, Tersenyumlah....

Sangat mengiris-iris hati, melihat seorang gadis kecil berpakaian lusuh berlarian kecil diantara kerumunan orang. Berlari bukan karena bermain-main dengan teman sebayanya, melainkan untuk menjajakan dagangannya, koran. Perasaanku seketika iba melihatnya. Kudatangi gadis kecil itu, dan dia berlari. Namun dia berbalik badan, menatapku lagi dan duduk di pojokan parkiran. Aku mendatanginya, lagi. Dan mulai bertanya kepada gadis kecil itu.

Risky, nama gadis kecil itu. Berwajah polos, rambut diikat berantakan, dengan pakaian seadaanya. Masih tergolong sangat dini untuk berjuang melawan kehidupan yang berat baginya, di Ibu kota Provinsi Jawa Timur, Surabaya. Berjualan koran, yah itulah yang dia lakukan setiap harinya, sehabis magrib hingga petang menjelang. meskipun dia masih bersekolah di tingkat kelas satu Sekolah Dasar.

Aku ingin menangis dihadapannya, malu rasanya.Seakan tamparan keras yang mungkin tidak telihat oleh orang lain, menyaksikan gadis yang masih sangat dini, mempertahankan hidupnya, untuk membiayai sekolah bahkan mungkin untuk sekedar sesuap nasi.

Perasaan sesak memenuhi rongga dada, sangat ironi. Melihat situasi yang ada. Diantara banyaknya orang yang sedang membuang uang di pusat perbelanjaan, terdapat beberapa anak yang bekerja keras untuk kelangsungan hidup mereka. Aku hanya berharap untuk Risky khususnya, semangat untuk hidupmu ya deek....

Semoga Allah memberimu yang terbaik, dan kamu bisa terus melanjutkan sekolahmu. Maaf, aku tidak bisa membantu banyak kemarin, hanya dengan membeli koranmu. Dan semoga kita bisa berjumpa di lain waktu. Sabar dan Semangat buatmu ya dek Risky.....



Going To Europe?! When Will It Happen?


Tertulis dalam catatanku, planning yang satu ini termasuk dream-list ku yang ke-23. Memang, dari satu tahun yang lalu, aku berusaha membuat sebuat list-list mimpi. Dari situ, aku akan berusaha mewujudkannya satu persatu. Semua kutuliskan didalamnya, dari hal terkecil hingga impian besar ku dimasa mendatang. Karena aku yakin, sebuah harapan yang baik akan menjadi nyata jika didukung dengan hal yang positif pula. Berjuang, berusaha, disertai dengan do’a.

Adalah keliling Eropa, dream list ku pada poin ke-23. Entahlah, mengapa aku tuliskan pada jejeran teratas pada listku, dari sekitar 120 list, posisi itu menduduki yang ke 23. Mungkin hanya sebuah kebetulan saja, tapi tak apalah untuk sebuah mimpi yang tinggi. Mungkin Tuhan mendengar dan mengabulkannya.
Eropa (2017). Begitu goresanku. Bisa terhitung dari sekarang, lima tahun lagi aku akan pergi kesana. Hanyalan yang singkat pada waktu itu. Dan sebuah harapan tinggi yang semoga Tuhan menaruh iba pada hambaNya dan akhirnya mengabulkan do’anya. Mungkin hanya mimpi untuk saat ini.

Benua dengan beribu cerita, sejarah, dan tempat-tempat dimana kita bisa mengambil sebuah hikmah didalamnya. Banyak yang belum aku ketahui tentang benua dengan segala hedonisme dan hingar bingar masyarakatnya. Tentang kisah dari masing-masing negara, sejarah, ataupun penduduk yang minoritas disana. Aku hanya mencoba membaca sedikit demi sedikit tentang itu. Mungkin ini bisa menjadi bekal, meski masih terbatas.

Dari ibu kota Paris, yang dikenal dengan kota romantisme, London, Brussels, Cologne, Frankfrut, Stuggart, Munich, Leipzig, Prague, Wroclaw, Lods, Krakow, Lviv, Kiev, Vienna, Budapest, Zargeb, Chisinau, Dessa, Belgrade, Sarajevo, Sofia, Bucharest, Istanbul, Ankar, Eskisehir, Konya, Antalya, Izmir, Nome d’ Anthenes, Paleermo, Naples, Rome, Milan, Turin, Genoa, Marseille, Barcelona, Zaragoza, Madrid, Valencia, Algiers, Malaga, Sevilla, Lisa bon, Granada dan terakhir Cordoba. Itu adalah kota-kota yang berada di Eropa. Hanya beberapa saja yang sering kudengar, dan sebagian lainnya sangat asing di telingaku. Ingin mengunjungi semua tempat itu? Pastinya.

Baru kuketahui sebenarnya, bahwasannya peradaban Islam sangat berkembang di Eropa dimasa lalu. Dan itu baru saja kubaca dari buku yang kupinjam dari salah seorang teman lama. '99 Cahaya di Langit Eropa’, buku ini ditulis oleh Hanum Salsabila Rais, putri dari Amien Rais. Mengisahkan tentang kisah perjalannya menjelajahi Eropa selama kurun waktu tiga tahun dia disana.

Perjalanan bukan dalam arti melakukan suatu travelling yang biasa, tapi dari sini bisa kuambil hikmah bahwasannya melakukan suatu perjalanan bukanlah hanya mencari tempat-tempat bagus, dan menikmati keunikan dan keindahan dari suatu tempat. Ada hal lain yang sebenarnya bisa kita petik dari setiap perjalanan yang kita lakukan. Yakni dapat menbawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan, dan itu yang terpenting.

Kata-kata itu kupetik dari ungkapan Hanum sendiri, hidup itu adalah perjalanan. Yang akan membuat seseorang itu tidak berada dalam kondisi stagnan. Melainkan membuat seseorang akan bertambah dari segi keilmuannya, dan agamanya. Dan lebih mendekatkan diri kepada pemilik semesta atas semua keagunganNya.

Semakin berhasrat untuk menjelajahi setiap lini dari bumi ini setelah membaca ungkapan dari salah seorang sahabat nabi, Ali bin Abi Thalib tentang suatu perjalanan. ‘ Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra ciptaan-ciptaan Nya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutan pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu, dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan’.

Dan do’a ku selalu kupanjatkan kepada Mu Tuhan, agar nantinya semua list-list yang sekarang masih sebatas mimpi akan terkabul atas ijinMu.

Gara-Gara Flash Disk


Masih ingatkah anda saat  pertama kali mengenal benda multi fungsi yang bernama flash disk?. Saya masih. Waktu itu saya masih berada dalam masa Sekolah Menengah Pertama, kurang lebih sekitar tahun 2006, enam tahun yang lalu. Ketika itu, guru saya yang merangkap sebagai kepala sekolah mempresentasikan benda itu. Beliau mengeluarkan sesuatu ditengah-tengah pelajaran fisika dari dalam saku kemeja kotak-kotaknya. Membuka mulut dan memulai berbicara. ‘Taukah kalian benda apa ini?’. Kita,siswa ababil yang beranjak dewasa yang hanya berjumlah sebelas butir, terpana dengan mulut ternganga tanpa dosa.

‘Sebuah benda yang kalian semua pasti belum tau sebelumnya, benar?’. ‘Iya pak, benda apa itu?’, tanya kita serempak. Beliau mulai memamerkan didepan masing-masing wajah kita. Serasa melihat wahyu yang baru saja turun, ingin mengetahui gerangan apakah itu. Usut punya usut, beliau mulai menjelaskan secara rinci tentang fungsi, asal usul, dan apapun yang berkaitan dengan wahyu mengenai benda ajaib yang baru turun dari tangan seorang guru fisika.

Di jaman saya SMP dulu, teknologi belum maju sepesat sekarang. Tentang hal proses simpan-menyimpan file dan data penting lainnya hanya bisa disimpan dalam bentuk CD yang kapasitansnya tidak seberapa, atau kita harus menyimpan di dalam disket yang harganya hanya 1500 rupiah, itu untuk sekali pakai, dan tidak jarang virus-virus jahat mengancam, sungguh merepotkan.

Namun, setelah perkenalan dengan flash disk, hidup saya serasa berubah lebih mudah. Apalagi dalam hal simpan-menyimpan file, atau copy-paste data, itu sangat efektif. Dan hingga sekarang saya sudah menghabiskan empat flash disk karena kebanyakan dari mereka raib ditelan bumi. Huft, dan saya tidak menyesalkan hal itu. Karena memang setiap data yang saya simpan di flash disk pasti akan saya save juga di laptop.

Tapi, hal yang membuat saya tidak bisa tidur beberapa malam yang lalu adalah kehilangan flash disk pula. Bukan flash disk saya tepatnya. Karena saya harus meminjam untuk memindah beberapa data, dan saya berlaku sebagai tersangka kali ini. Ini berhubungan dengan hidup dan mati seorang teman. Saya meraibkan flash disk yang berisi hal yang sangat important bagi kelangsungan hidup teman saya, yaitu soft file dari skripsinya.

Sempat mengangis karena bodohnya saya karena sifat amnesia kambuh, atau mungkin sang flash disk telah dicintai orang lain dan masuk kedalam kotak pensilnya. Tidak tahulah, pusing saya memikirkan hal itu. Sudah berpuluh-puluh kali saya harus bertanya kepada ‘orang pintar’ yang kebetulan saya kenal beberapa. Tapi, jawaban mereka selalu tidak pasti, karena benda itu sering berpindah tangan lah, atau apalah. Dan yang lebih parah lagi, kata teman saya, sang flash disk telah dibawa seseorang pulang ke kampung halamannya.

Tidaaaaaaaak!!!!!. Saya ingin menjerit sekencang-kencangnya mendengar kenyatanyaan ini. Bagaimana pertanggung jawaban saya?. Sangatlah tidak mungkin saya membuatkan file skripsi baru untuk teman saya. Apakah saya mampu?.

‘Sarkem Ala Embong Anyar’


Beberapa hari yang lalu, sahabat dekatku yang sedang menuntut ilmu di salah perguruan tinggi di Malang, datang untuk mengunjungiku di Pare. Rencana awal dia menginap di tempat ku, namun karena ada ‘sesuatu’, akhirnya dia harus berteduh di camp temanku yang lain. Memang, plus minus delapan bulan kita tidak bertatap muka. Dimulai dari akhir lebaran tahun lalu dan baru saja bertemu sekitar lima hari yang lalu.

Setelah kurang lebih dua malam dia bersinggah di kota tunggu yang besar ini, akhirnya kita memutuskan untuk keluar bersama menikmati hawa malam Pare yang khas, dingin dan menusuk. Aku menjemputnya di salah satu lembaga kursusan tempat dia berada saat itu, sekitar pukul sembilan malam lebih. Harus menunggu nya berganti pakaian beberapa saat, hingga akhirnya aku dan dua temanku memutuskan untuk berkeliling Pare dengan bonceng rangkap tiga. Tidak masalah, sudah malam, pikirku. Dan aku rasa, polisi sudah tidak ada yang bersiaga dalam lindungan malam berhawa dua puluh lima derajat.

Aku menjadi sopir mereka berdua, karena memang posisinya aku sebagai tuan rumah. Menjadi tuan rumah yang baik, bijaksana, dan tidak sombong dengan mengajak tamu keluar atau setidaknya melayani mereka. Mengajak mereka berputar-putar disepanjang kota yang bisa dikatakan, kota simple but perfect. Aku melewati sepanjang jalan raya, alun-alun, berbelok kanan dan hingga mencapai Jl. Jaya Wijaya. Tau nggak?. Jalan itu biasa disebut ‘Embong Anyar’ oleh masyarakat setempat, yang artinya adalah jalan baru. Jalan ini tidak bisa dikatakan baru sebenarnya, karena memang pembangunan jalannya sudah sejak beberapa tahun yang lalu.

Mungkin karena sejarah-lah yang membuat nama jalan ini disebut ‘Embong Anyar’.  Jalan ini bisa dikategorikan seperti Gang Doli yang ada di Surabaya ataupun Sarkem yang ada di Jogja. Yups, tepat sekali, jalan ini memang tempat untuk prostitusi illegal di daerah Pare. Berbeda dengan gang Doli ataupun Sarkem yang memang sudah terkenal seantero negeri, Embong Anyar hanya sebatas tempat prostitusi untuk kalangan ekonomi kelas bawah. Bagaimana dengan para pelanggan yang mampir?. Bisa ditebak, para pengguna jasa pelacur hanyalah tukang becak ataupun pekerja kelas bawah lainnya.

Sempat melihat seorang pelacur ‘bencong’ sedang berdiri menunggu pelanggan yang mau menyewanya seharga lima ribu rupiah atau mungkin kurang dari angka itu, saat aku mengarahkan setir motor ke jalan itu. Berpakaian gaun putih yang sudah lusuh, dengan membawa tas jinjing,memakai rambut palsu yang sudah kumal pula, dan berdandan ala kadarnya denga bedak warna kontras dengan permukaan wajahnya, yang membuat wajah orang itu sedikit menakutkan.

Sudah sekitar pukul sepuluh malam lebih, ketika kita bertiga melewati jalan itu. Kita terpana menyaksikan
seorang pelacur yang sabar menunggu para konsumen bertangan kasar yang bersedia berhenti untuknya. 
Dengan gelapnya malam dan sunyinya malam, kita hanya berpikir apakah ada orang malam itu yang mau bersenggama dengannya. Perasaan iba tiba-tiba hinggap di dalam hati dan pikiran kita masing-masing. Sungguh berat hidup pelacur itu. Dan rasa syukurlah akhirnya yang muncul pada akhir perjalanan kita hingga tiba di Garuda Park untuk sekedar berbincang, meneguk segelas kopi disertai jagung bakar.

Semua Karena Satu


Kabar kabur di negara kita tercinta, Indonesia, menjadi salah satu trend yang menjamur dewasa ini. Tidak jarang sebuah pemberitaan menjadi hot topic satu hari, tapi dalam kemudian hari menjadi angin lalu yang tak menarik lagi untuk diperbincangkan. Tentang politik, kehidupan sosial dan berbagai macam persoalan. Seakan suatu kabar, entah itu kabar baik ataupun buruk menjadi hiburan yang menyelingi kehidupan.

Hot topic yang menjadi pembahasan beberapa waktu lalu oleh seluruh komponen masyarakat Indonesia yang penyiarannya juga sangat gencar di media, adalah masalah penyakit yang disebabkan oleh makhluk kecil bernama ‘Tom Cat’. Entahlah, makhluk itu tiba-tiba naik daun oleh karena penayangan yang gencar di beberapa stasiun TV, hingga menjadi tayangan yang sangat dinantikan. Alhasil, sang raising star ini mendadak mendapat rating tertinggi beberapa bulan lalu. Hingga Nikita Willy, sang ratu sinetron tergeser sementara akan ketenarannya karena sang makhluk imut satu ini.

Tidak ada yang salah sebenarnya dengan makhluk kecil ini. Dia sudah menginjak panasnya bumi beratus-ratus tahun yang lalu mungkin, dan lebih dahulu pastinya dari nenek buyut saya, apalagi saya. Habitat aslinya adalah area persawahan yang kaya akan asupan nutrisi untuk dirinya. Dan dia pun juga sangat bermanfaat dalam kelangsungan rantai makanan dalam dunia persawahan. Tapi, dia selalu menjadi pihak yang paling bersalah ketika terdapat korban yang berjatuhan karenanya.

Sang ‘Tom Cat’ bukanlah hewan yang membahayakan, terutama bagi para petani. Mereka adalah sahabat setia yang saling menguntungkan, dengan kata lain simbiosis mutualisme. Manfaatnya begitu besar bagi para pencocok tanam yang berjibaku dengan hama setiap harinya. Tapi, karena beberapa alasan yang diutarakan manusia, makhluk ini menjadi tersangka yang seakan-akan wajib dibasmi selamanya.

Alasannya sederhana, mereka menyebabkan manusia berpenyakit. Penyakit ‘Tom Cat’, begitu saja sebutannya. Gejala yang nampak adalah kulit bagian luar melepuh, merah, dan rasanya perih dan panas (tutur para korban sang makhluk ini, karena saya tidak pernah dan tidak akan pernah ingin merasakannya). Bagian luar dari kulit pun akan menjadi berubah warna dari warna awal kulit asli. Dan kelihatannya meamang perih sekali.

Ini adalah penuturan dari beberapa murid SMA dari Jakarta yang menghabiskan liburan mereka di kampung Inggris, dan kebetulan menjadi member saya. Camp di Jalan Kemuning adalah tempat dimana kita semua berlindung dari sengatan matahari dan dinginnya angin malam. Dan tinggal pada wilayah camp pada area persawahan memberikan kita banyak sekali cerita. Begini ceritanya.

Tidak terlepas dari makhluk kecil yang bernama ‘Tom Cat’, karena setiap hari saya harus bertatap muka dengannya. Entah di dalam kamar, di kamar mandi, di tempat beribadah, hingga pada nasi yang saya makan, sejenis makhluk halus, ada dimana-mana. Yang awalnya saya sangat penarasan akan bentuk dan rupa makhluk ini, menjadi muak karenanya. Menjadi mimpi buruk ketika tiba-tiba saja makhluk ini menikmati tubuh saya dengan sengatannya.

Namun naas, dengan populasi Tom Cat yang sedemikian rupa di area ini, korban yang desebabkan hewan ini pun tidak sedikit. Terhitung sekitar delapan orang berhasil dia tahlukkan karena racunnya. Benar-benar menjadi berita yang booming di TV jika saja kejadian saat ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Namun sayang, hewan ini sudah tidak menjadi pilihan tontonan yang cukup menarik lagi di hati masyarakat jika ditayangkan dalam suatu berita.

Saya ternganga saja ketika semua korban yang jatuh adalah kebanyakan perempuan, dan hanya satu yang pria. Semua Tom Cat berjenis kelamin pria mungkin, dan kalaupun ada yang menyengat pria, itupun bisa dikatakan Tom Cat KW. Parahnya, hewan ini menyerang daerah tubuh yang rawan dan sensitif. Misalnya pada daerah leher, pinggul,dada, hingga tepat pada bibir. Apa maksud dari hewan ini?. Apakah dia tidak mempunyai pasangan lain untuk melampiaskan nafsunya?. Sangat menyedihkan.

Dan saya pun menaruh iba pada semua korban yang berjatuhan hari demi hari. Rasanya panas dan perih, tutur mereka. Dan saya pun berharap pada sang makhluk imut ini agar tidak lagi menaruh hasrat pada korban yang tidak sepatutnya dijadikan pelampiasan. Demikian pesanku padamu. Terimakasih.

Sebuah Mimpi Dalam Mimpi


‘Perpisahan ini adalah sebuah jalan untuk meraih mimpi. Dan dalam pencapaian itu, ada sebuah mimpi indah lainnya yaitu kembali bersama’.

Dalam masaku yang seperti ini, aku sangat mengamini kata-kata itu. Kata yang keluar dari salah seorang sahabat dekat. Diam bukan berarti tak punya pendapat, tapi apa perlu disalahkan kalau sebuah ucapan memang benar adanya.

Hidup memang seperti ini, begitu banyak hal yang terjadi. Dan tak melulu hal-hal indah yang mewarnainya, karena kadang bila hidup hanya diwarnai dengan euforia saja, akan menjadikan sebuah keadaan menjadi stagnan dan mati. Dan pasti, setiap orang menolak hal yang demikian, mati dan stagnan tanpa pencapaian yang nyata.

Ada seseorang bertanya, ketika sedang berbincang di persimpangan jalan dan melihat banyak pemuda berkumpul dalam satu kumpulan motor, dan hanya begitu saja malam-malam yang mereka habiskan. Hidup mereka bahagia, bersama menghabiskan waktu meskipun tanpa ada hal yang menantang dalam perjalanannya. ‘Apa kamu hidup seperti mereka?’. Stagnan dan tak ada pencapaian.

Berbicara soal perpisahan, memang hal itu adalah hal yang paling dihindari oleh siapapun. Bertemu, bersama, dan berpisah menjadi suratan hidup yang tak bisa seorang pun terlepas darinya. Dan selamanya akan begitu, meskipun sebesar apapun usaha manusia untuk mencegahnya, tak ada yang mampu menahannya.

Perpisahan untuk mimpi. Aku baru tersadarkan akan maknanya. Bahwa itu adalah hal yang berat tapi indah. Adalah sebuah reflexi dari sebuah keadaan, keadaan yang mengekang tetapi berbuah kebahagiaan ketika pencapaian sudah didepan mata. Harapanku pun juga demikian adanya. Berusaha dan berdo’a untuk hal yang baik.
***
‘Rasa sakit ketika berpisah adalah pancaran dari ego yang kuat’

Baru kudengar kalimat yang menusuk itu beberapa saat yang lalu. Bukan tertuju padaku sebenarnya, karena sahabat ku pun juga tidak pernah tahu apa yang terjadi padaku. Tapi aku merasakannya, sebuah ucapan bagaikan pedang yang menebasku hingga tak sadar diri bahkan mati. Sebuah ego, sulit untuk dijelaskan tapi akan berakibat fatal bila dibiarkan.

Dan sayangnya, aku baru menyadari hal itu. Ego ku terlalu dominan dalam hal ini. Hingga membuat rasa sakit itu terus mengakar layaknya puluhan jarum menancap didalam dada. Dan mungkin, itu juga memberatkanmu pada situasi ini. Tapi aku percaya, ego mu tidak sebesar aku.

Sebuah mimpi yang menjadikan suatu perpisahan tidaklah menjadi suatu problema ketika ada mimpi lain dibalik mimpi lain yaitu kembali bersama. Dan aku percaya hal itu. Satu kata terakhir, ‘Maafkan aku, sayang’.

Puisi Terakhir Untukku


Dengan perasaan yang campur aduk, aku meninggalkan kalian. Di kota itu, aku berkenalan hingga melambaikan tangan tanda perpisahan untuk kalian. Singkatnya waktu saat itu, bukan menjadi halangan untuk saling mengerti dan mengasihi. Dengan pengertian dan rasa tulus untuk saling memahami, itu cukup membuat kita dekat meski waktu yang hanya sesaat.

Hanya beberapa saat saja aku bersama kalian, hingga waktu jua yang memisahkan kita. Salah seorang dari kalian membuat sebuah kenangan yang benar-benar mengesankan. Sepucuk surat dia selipkan di saku bajuku. Dengan menahan derai air mata yang akan jatuh, dia berlari menghindar dariku. Takut kalau benar-benar menangis di hadapanku karena berpisah. Hanya diam tanpa kata-kata, menatap dia berlari menjauh dariku. Benar-benar kehilangan.

Setiba ditempat tinggalku, aku langsung membuka dan membaca sepucuk kertas dengan tulisan tangan yang cukup rapi untuk anak Sekolah Menengah Pertama. Aku baca dari baris ke baris. Dengan kata-kata yang disusun sedemikian rupa oleh anak itu, membuat mataku pedih, hingga ingin meneteskan air mata. Meskipun aku bisa menahannya.

Kembali Tiada

Jauh sebelum kalian ada
Aku dilanda kegelapan
Yang ditelan sang malam
Dan tak tahu apa-apa

Kau datang bagai matahari
Sinar terang menyinariku
Mengangkat otakku
Untuk menuju masa depan

Kau, menjadikanku lebih tahu
Lebih mencintai ilmu itu
Dan membuatku lebih maju

Dari pertama hingga berujungnya masa
Kalian selalu bersama
Tapi sejak saat ini dan nanti
Kalian kembali tiada
(Felach Aunur, tanpa perubahan)

Sepucuk puisi dari seorang anak SMP yang benar-benar tulus diungkap dari segenap perasaan hatinya. Menjadikan kenangan tak terlupakan dibalik kesedihan karena sebuah perpisahan. Terimakasih untuk semuanya, kenangan dan semua yang kalian berikan kepadaku membuat hidupku lebih berwarna dan merasa lebih bermanfaat bagi orang lain. Thanks.

Gagahnya 'Tretes'


Refreshing, tujuan utama perjalanan kali ini, bersama semua rekan-rekan dan pastinya atas ajakan bos besar Elfast Mr. Andre. Setelah selesainya program fullday satu minggu penuh yang memang cukup menguras tenaga dan pikiran kita semua. Akhirnya, hari Minggu tanggal 29 Mei kemarin, team yang berjumlah sekitar 15 orang siap untuk memulai perjalanan liburan singkat waktu itu.

Rencana awal memang pergi ke tempat yang memanjakan mata, ada dua pilihan sebenarnya. Antara air terjun Sedudo di Nganjuk dan pantai pasir putih di Situbondo. Dengan pertimbangan lamanya perjalanan, air terjun Sedudo-lah yang menjadi pilihan. Menjelang satu hari keberangkatan, beredar kabar bahwa air terjun Sedudo tidak begitu cantik dan menawan. Batal-lah rencana pergi kesana. Dan keputusan terakhir di hari keberangkatan adalah keputusan dari sang empunya hajat sendiri, Mr. Andre.

Akhirnya, air terjun Tretes di perbatasan Malang dan Jombang yang menjadi tujuan. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit dengan mobil, melewati jalan meliuk-liuk dengan pemandangan pepohonan hijau yang membentang sepanjang jalan di sisi kanan-kiri. Sejuk dan damai rasanya. Berhenti sejenak di tengah hutan untuk mengabadikan beberapa foto bersama. Kebetulan, ada fotografer amatir yang siap mengambil semua foto kita, Mr. Fais. Hehe.

Elfast Crew
 Menurut informasi dari beberapa sumber, air terjun ini adalah yang tertinggi di Jawa Timur. Yang tingginya mencapai 170 meter. Hm, betapa indahnya, bayangan kita semua pada awal mendengar info itu. Mempersiapkan beberapa botol air untuk bekal perjalanan panjang yang akan kita tempuh. Dan tak lupa membawa gula merah untuk penambah tenaga ketika tenaga mulai berkurang di tengah jalan.

Perjalanan melewati hutan yang masih alami untuk sampai di air terjun memakan waktu yang cukup lama. Jalan yang menanjak, rerimbunan semak, pohon besar yang tumbang, hingga lintah-lintah ganas yang siap menghisap darah segar manusia menjadi sensasi yang menantang untuk perjalanan saat itu. Namun, itu tidak menjadi kendala yang menghambat aku dan rekan-rekan untuk segera sampai di satu tujuan yang katanya, memang sangat luar biasa indah. Dan hal itu menjadi satu penyemangat untuk mempercepat perjalanan meskipun dengan berbagai macam rintangan.


Tidak jarang kita berhenti di tengah sungai yang mengalir indah dengan airnya yang sedingin air es, untuk mengistirahatkan urat-urat kaki yang mulai pegal dan juga berfoto ria untuk menambah semangat pula. Dengan tenaga yang berbeda, rombongan kita banyak yang terpisah di tengah perjalan. Ada yang mendahului dan ada pula yang masih tertinggal jauh dibelakang. Aku tidak sadar, bahwa aku hanya seorang diri berjalan di tengah hutan tanpa seorang pun yang berada didepan maupun debelakangku. Kunikmati saja perjalanan itu dengan sesekali melihat bagian kaki, mungkin saja lintah sudah menikmati darah segarku. Tapi, darahku terlalu pahit mungkin, hingga lintah pun tak mau menghisap darah segarku. Hehe.

Setelah berjalan selama kurang lebih satu setengah jam, tampaklah sang air terjun yang gagah dengan tingginya yang menjulang menyentuh langit. Tidak sabar saja ingin segera sampai dan merasakan tajamnya cipratan air yang jatuh dari ketinggian 170 meter. Baju yang basah karena harus melewati aliran sungai di sepanjang jalan, semakin menambah heboh rasa dingin yang menusuk tulang. Tiupan angin yang kencang dari sumber air membuat badan menggigil dibuatnya.

Tretes Waterfall
Ingin teriak sekencang-kencangnya saat sampai di bawah air terjun Tretes. Memang benar, air terjunnya sangat indah dengan ketinggiannya. Bisa dibilang, air terjun ini mempunyai tinggi tiga kali dari air terjun Coban Rondo di Malang. Sungguh luar biasa, meskipun volume air yang jatuh tidak seberapa.

Segera kurasakan sentuhan cipratan air yang membelai pipi dan sekujur tubuh hingga gigi pun terasa gemetar dibuatnya. Duduk diatas batu kali yang besar didepan air terjunnya tepat. Namun sayangnya, momen indah dibawah air tejun tidak diabadikan oleh Mr. Fais, karena khawatir kameranya akan error bila terkena air. Padahal, kita semua menunggu saat-saat yang indah dengan mengabadikan gambar dibawah air terjun langsung. Untungnya, aku membawa kamera digital yang bisa dibuat cadangan untuk memotret momen bersama dibawah air terjun Tretes. Seneng kan kalian semua bisa tetap eksis. Hehe.

Setelah merasakan dahsyatnya hawa dingin yang merasuk hingga tulang, cacing-cacing di perut mulai berdendang ria, ingin segera diberi makanan. Namun sayangnya, kita tidak membawa apapun yang bisa dinikmati. Dan semuanya merasakan hal yang sama, perut yang mililit karena perjalanan yang begitu menantang. Hm, menyesal karena tidak ada persiapan sebelumnya.

Hanya bisa menahan rasa lapar yang teramat sangat dalam perjalanan pulang melewati rimbunan hutan lagi. Tapi petualangan saat itu memang beda dari petualangan yang lain. Benar-benar menantang. Dan suatu saat nanti, berharap bisa kesana lagi dengan orang yang berbeda.

Dan satu hal yang pasti, otak kita semua benar-benar fresh lagi setelah melakukan perjalan kali itu. Suasana alam memang kadang membuat pikiran bersih dan semangat lagi untuk melakukan rutinitas yang biasa kita jalani. Dan pastinya, pengalaman indah dalam suatu perjalanan akan selalu didapat.

Sebuah Cerita

Kubuka loker paling ujung dari semua loker yang ada di ruangan itu guna mengambil beberapa materi. Duduk bersila dan membacanya sekilas. Kulihat pintu disebelah utara aku duduk, tampak seseorang yang sepertinya akan membawa sebuah berita. Dia melihat kearahku, dan aku pun sama, menatapnya pula. Tampak sesungging senyum yang dipersembahkan untukku. Aku tahu maksutnya, dia pasti sedang bahagia, pikirku.

Tak lama kemudian, dia sudah duduk berhadapan denganku. Bersila dan siap meluncurkan rentetan kata-kata atas semua peristiwa yang baru saja terjadi pada dirinya. Dia seorang wanita, berperawakan sedang, hampir sama dengan tinggi badanku. Sebenarnya, baru beberapa bulan saja kita bertemu, tapi keakraban sudah terjalin diantara kita. Dia selalu bercerita tentang dirinya dan apapun yang terjadi padanya. Tapi maaf, aku cukup menjadi seorang pendengar yang baik saja untuk dia, karena masalahku tidak untuk dipublikasikan, meskipun dengan orang yang dekat denganku sekalipun.

‘Gimana?’, tanyaku mengawali perbincangan sore itu. Dia hanya tersenyum awalnya, dibuat bingung aku jadinya. Lalu kemudian, dia mulai bertutur kata tentang semua peristiwa yang baru saja terjadi padanya. Dia, seorang perempuan yang sungguh mempunyai nyali yang besar, aku akui. Berani jujur mengungkapkan semua yang dia rasakan pada lawan jenisnya. Bukan hal yang biasa, namun sungguh luar biasa bagiku. 

Memang sekarang tidak ada ketentuan bahwa seorang laki-laki harus mengungkapkan lebih dahulu sebuah kenyataan, yang menyangkut tentang perasaan. Tapi dalam kamusku, tidak ada ungkapan itu. Harus mengungkapkan lebih dahulu sebuah rasa kepada seorang pria adalah sebuah tindakan yang berat bagiku.

Percakapan singkat antara aku dan dia di depan deretan loker abu-abu tua, menjadi sebuah percakapan yang menyisakan kekagumanku atas keberaniannya. Dia utarakan semua yang ada dalam lubuk hatinya, nyata di depan sang pria. Meskipun dengan tergagap, dan tidak lancar dalam berucap, akhirnya dia berhasil menyampaikan semuanya. Sukses, dan tanpa hambatan!. Tinggal menunggu detik-detik yang mendebarkan menunggu sebuah jawaban yang akan terasa manis ataupun pahit.

Sang pria pun sudah menduga sebelumnya, bahwa sang wanita akan mengungkapkan semuanya. Sang pria telah mendapatkan sinyal-sinyal yang berbeda dari sang wanita sebelumnya, hampir selama dua minggu lebih. Aku mendengarkan semua kata-kata yang keluar dari mulut sang wanita dengan seksama. Dan penasaran akan keputusan yang disampaikan oleh sang pria kepadanya. Dia berhenti, menghela nafasnya. Melihatku dengan senyuman yang berbeda. Aku tidak mengerti apa maksutnya. Apakah senyum bahagia atau senyum luka?. Hanya diam, dan siap menjadi tempat menampung semua cerita, ketika ada orang butuh untuk mengungkapakan semua kisahnya.

‘Dia nggak bilang nggak, Na’, itu ucapan yang dia katakan setelah diamnya beberapa saat. Aku tersenyum dan ingin pula merasakan apa yang dia rasakan, betapa bahagianya. Kujabat tangannya mengucapkan selamat atas keberaniannya. Tapi, dia malah heran atas sikapku.

‘Tapi dia juga nggak bilang iya, Naa’. Ucapan terakhirnya membuatku kembali ternganga, diam beberapa saat. Jadi apa maksutnya??. Kenyataan yang ternyata tidak cukup membahagiakan. Tapi, malah sebuah senyuman tersungging dibibirnya. Dia hanya berkata, memang itu mungkin yang terbaik dan dia tidak akan menyesal telah mengatakan semua isi hatinya kepada sang pujaan hati. Keputusan terakhir, bukan menjadi masalah buatnya. Karena sebuah silaturrahmi masih akan tetap terjalin meskipun saat itu pula, kenyataan pahit baru saja dia alami.

Satu hal dari curhatan temanku itu yang akan aku jadikan pelajaran, yaitu tidak pernah ada ruginya mengungkapkan apa yang ada benak kita, selama itu masih wajar. Semua itu akan menjadi proses yang indah, membuat perasaan lebih tenang, dan menjadikan sebuah rangkaian cerita yang menarik.

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Hadna Muthia Izzati
Pare, Kediri, Indonesia
A trainer | A traveler | A dreamer| An Ordinary girl
Lihat profil lengkapku

Ordinary's Friends

Blog contents © Ordinary Little Girl 2010. Blogger Theme by NymFont.