Sebuah Cerita

Kubuka loker paling ujung dari semua loker yang ada di ruangan itu guna mengambil beberapa materi. Duduk bersila dan membacanya sekilas. Kulihat pintu disebelah utara aku duduk, tampak seseorang yang sepertinya akan membawa sebuah berita. Dia melihat kearahku, dan aku pun sama, menatapnya pula. Tampak sesungging senyum yang dipersembahkan untukku. Aku tahu maksutnya, dia pasti sedang bahagia, pikirku.

Tak lama kemudian, dia sudah duduk berhadapan denganku. Bersila dan siap meluncurkan rentetan kata-kata atas semua peristiwa yang baru saja terjadi pada dirinya. Dia seorang wanita, berperawakan sedang, hampir sama dengan tinggi badanku. Sebenarnya, baru beberapa bulan saja kita bertemu, tapi keakraban sudah terjalin diantara kita. Dia selalu bercerita tentang dirinya dan apapun yang terjadi padanya. Tapi maaf, aku cukup menjadi seorang pendengar yang baik saja untuk dia, karena masalahku tidak untuk dipublikasikan, meskipun dengan orang yang dekat denganku sekalipun.

‘Gimana?’, tanyaku mengawali perbincangan sore itu. Dia hanya tersenyum awalnya, dibuat bingung aku jadinya. Lalu kemudian, dia mulai bertutur kata tentang semua peristiwa yang baru saja terjadi padanya. Dia, seorang perempuan yang sungguh mempunyai nyali yang besar, aku akui. Berani jujur mengungkapkan semua yang dia rasakan pada lawan jenisnya. Bukan hal yang biasa, namun sungguh luar biasa bagiku. 

Memang sekarang tidak ada ketentuan bahwa seorang laki-laki harus mengungkapkan lebih dahulu sebuah kenyataan, yang menyangkut tentang perasaan. Tapi dalam kamusku, tidak ada ungkapan itu. Harus mengungkapkan lebih dahulu sebuah rasa kepada seorang pria adalah sebuah tindakan yang berat bagiku.

Percakapan singkat antara aku dan dia di depan deretan loker abu-abu tua, menjadi sebuah percakapan yang menyisakan kekagumanku atas keberaniannya. Dia utarakan semua yang ada dalam lubuk hatinya, nyata di depan sang pria. Meskipun dengan tergagap, dan tidak lancar dalam berucap, akhirnya dia berhasil menyampaikan semuanya. Sukses, dan tanpa hambatan!. Tinggal menunggu detik-detik yang mendebarkan menunggu sebuah jawaban yang akan terasa manis ataupun pahit.

Sang pria pun sudah menduga sebelumnya, bahwa sang wanita akan mengungkapkan semuanya. Sang pria telah mendapatkan sinyal-sinyal yang berbeda dari sang wanita sebelumnya, hampir selama dua minggu lebih. Aku mendengarkan semua kata-kata yang keluar dari mulut sang wanita dengan seksama. Dan penasaran akan keputusan yang disampaikan oleh sang pria kepadanya. Dia berhenti, menghela nafasnya. Melihatku dengan senyuman yang berbeda. Aku tidak mengerti apa maksutnya. Apakah senyum bahagia atau senyum luka?. Hanya diam, dan siap menjadi tempat menampung semua cerita, ketika ada orang butuh untuk mengungkapakan semua kisahnya.

‘Dia nggak bilang nggak, Na’, itu ucapan yang dia katakan setelah diamnya beberapa saat. Aku tersenyum dan ingin pula merasakan apa yang dia rasakan, betapa bahagianya. Kujabat tangannya mengucapkan selamat atas keberaniannya. Tapi, dia malah heran atas sikapku.

‘Tapi dia juga nggak bilang iya, Naa’. Ucapan terakhirnya membuatku kembali ternganga, diam beberapa saat. Jadi apa maksutnya??. Kenyataan yang ternyata tidak cukup membahagiakan. Tapi, malah sebuah senyuman tersungging dibibirnya. Dia hanya berkata, memang itu mungkin yang terbaik dan dia tidak akan menyesal telah mengatakan semua isi hatinya kepada sang pujaan hati. Keputusan terakhir, bukan menjadi masalah buatnya. Karena sebuah silaturrahmi masih akan tetap terjalin meskipun saat itu pula, kenyataan pahit baru saja dia alami.

Satu hal dari curhatan temanku itu yang akan aku jadikan pelajaran, yaitu tidak pernah ada ruginya mengungkapkan apa yang ada benak kita, selama itu masih wajar. Semua itu akan menjadi proses yang indah, membuat perasaan lebih tenang, dan menjadikan sebuah rangkaian cerita yang menarik.

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Hadna Muthia Izzati
Pare, Kediri, Indonesia
A trainer | A traveler | A dreamer| An Ordinary girl
Lihat profil lengkapku

Ordinary's Friends

Blog contents © Ordinary Little Girl 2010. Blogger Theme by NymFont.