Sebuah Cerita
Jumat, 20 April 2012
Kubuka loker
paling ujung dari semua loker yang ada di ruangan itu guna mengambil beberapa
materi. Duduk bersila dan membacanya sekilas. Kulihat pintu disebelah utara aku
duduk, tampak seseorang yang sepertinya akan membawa sebuah berita. Dia melihat
kearahku, dan aku pun sama, menatapnya pula. Tampak sesungging senyum yang
dipersembahkan untukku. Aku tahu maksutnya, dia pasti sedang bahagia, pikirku.
Tak lama
kemudian, dia sudah duduk berhadapan denganku. Bersila dan siap meluncurkan
rentetan kata-kata atas semua peristiwa yang baru saja terjadi pada dirinya.
Dia seorang wanita, berperawakan sedang, hampir sama dengan tinggi badanku.
Sebenarnya, baru beberapa bulan saja kita bertemu, tapi keakraban sudah
terjalin diantara kita. Dia selalu bercerita tentang dirinya dan apapun yang terjadi
padanya. Tapi maaf, aku cukup menjadi seorang pendengar yang baik saja untuk
dia, karena masalahku tidak untuk dipublikasikan, meskipun dengan orang yang
dekat denganku sekalipun.
‘Gimana?’,
tanyaku mengawali perbincangan sore itu. Dia hanya tersenyum awalnya, dibuat
bingung aku jadinya. Lalu kemudian, dia mulai bertutur kata tentang semua
peristiwa yang baru saja terjadi padanya. Dia, seorang perempuan yang sungguh
mempunyai nyali yang besar, aku akui. Berani jujur mengungkapkan semua yang dia
rasakan pada lawan jenisnya. Bukan hal yang biasa, namun sungguh luar biasa
bagiku.
Memang sekarang tidak ada ketentuan bahwa seorang laki-laki harus
mengungkapkan lebih dahulu sebuah kenyataan, yang menyangkut tentang perasaan.
Tapi dalam kamusku, tidak ada ungkapan itu. Harus mengungkapkan lebih dahulu
sebuah rasa kepada seorang pria adalah sebuah tindakan yang berat bagiku.
Percakapan
singkat antara aku dan dia di depan deretan loker abu-abu tua, menjadi sebuah
percakapan yang menyisakan kekagumanku atas keberaniannya. Dia utarakan semua
yang ada dalam lubuk hatinya, nyata di depan sang pria. Meskipun dengan
tergagap, dan tidak lancar dalam berucap, akhirnya dia berhasil menyampaikan
semuanya. Sukses, dan tanpa hambatan!. Tinggal menunggu detik-detik yang
mendebarkan menunggu sebuah jawaban yang akan terasa manis ataupun pahit.
Sang pria
pun sudah menduga sebelumnya, bahwa sang wanita akan mengungkapkan semuanya.
Sang pria telah mendapatkan sinyal-sinyal yang berbeda dari sang wanita
sebelumnya, hampir selama dua minggu lebih. Aku mendengarkan semua kata-kata
yang keluar dari mulut sang wanita dengan seksama. Dan penasaran akan keputusan
yang disampaikan oleh sang pria kepadanya. Dia berhenti, menghela nafasnya.
Melihatku dengan senyuman yang berbeda. Aku tidak mengerti apa maksutnya.
Apakah senyum bahagia atau senyum luka?. Hanya diam, dan siap menjadi tempat
menampung semua cerita, ketika ada orang butuh untuk mengungkapakan semua
kisahnya.
‘Dia nggak
bilang nggak, Na’, itu ucapan yang dia katakan setelah diamnya beberapa saat.
Aku tersenyum dan ingin pula merasakan apa yang dia rasakan, betapa bahagianya.
Kujabat tangannya mengucapkan selamat atas keberaniannya. Tapi, dia malah heran
atas sikapku.
‘Tapi dia
juga nggak bilang iya, Naa’. Ucapan terakhirnya membuatku kembali ternganga,
diam beberapa saat. Jadi apa maksutnya??. Kenyataan yang ternyata tidak cukup
membahagiakan. Tapi, malah sebuah senyuman tersungging dibibirnya. Dia hanya
berkata, memang itu mungkin yang terbaik dan dia tidak akan menyesal telah
mengatakan semua isi hatinya kepada sang pujaan hati. Keputusan terakhir, bukan
menjadi masalah buatnya. Karena sebuah silaturrahmi masih akan tetap terjalin
meskipun saat itu pula, kenyataan pahit baru saja dia alami.
Satu hal
dari curhatan temanku itu yang akan aku jadikan pelajaran, yaitu tidak pernah
ada ruginya mengungkapkan apa yang ada benak kita, selama itu masih wajar.
Semua itu akan menjadi proses yang indah, membuat perasaan lebih tenang, dan
menjadikan sebuah rangkaian cerita yang menarik.

0 komentar:
Posting Komentar