Lovely Elder Siesta

Saat ini, aku ingin berbicara tentang salah seorang anak manusia yang cukup aku kenal dan cukup aku sayangi dalam hidupku. Mungkin dia juga sama, menyayangiku pula, tapi tidak diperlihatkan saja olehnya. Karena malu, atau gengsi mungkin. He. Padahal kita begitu dekat, sedekat jantung dan hati, kenapa harus malu dan gengsi? Semestinya kan tidak begitu. Saling memberi semangat dan dukungan tanpa ada rasa yang menghalangi, itulah seharusnya.

Sebut saja namanya Zidny Ilma. The only sister that I have. Aku ingin menulis semuanya, apapun yang aku tahu tentang dia. Meskipun tidak semua aku ketahui dengan sempurna. Karena yang aku tahu, tidak pernah sekalipun dia menceritakan apa yang terjadi dalam hidupnya dalam tulisan. Tidak sekalipun. Tidak ada diary, dan tidak ada ada selembar kertas pun yang dia gunakan untuk menggambarkan kisah hidupnya. Hanya bercerita yang menurut dia perlu dia ceritakan, seperlunya saja. Atau mugkin dia simpan sendiri dalam hatinya, bila ada ‘sesuatu’ yang tidak perlu untuk orang lain ketahui.

Di tempat yang sekarang pun, di kamar kosnya yang berukuran 2x2 meter, di kota pahlawan Surabaya, tidak kujumpai sebuah buku tulis atau selembar kertas kosong pun, untuk sekedar coret-coret atau menuliska ide yang mungkin tiba-tiba muncul. Memang manusia yang tahan akan kesendirian. Kesendirian dalam arti lain. Dalam hal berbagi kisah yang cukup secret ataupun berbagi kasih untuk yang dia sayang.

Disini pula, aku akan menceritakan bagaimana kisah kasih hidupnya yang cukup unik, berbeda dari yang lain. Begini kisahnya…

Dilahirkan di kota kecil yang damai, Pare, tanggal 16 Februari 1989 oleh sang ibunda Sholihatin. Tulisan ini aku buat di hari keempat setelah ulang tahunnya yang ke 23. Terasingakan di kota orang, di hari yang seharusnya dia bisa merasakan kebahagiaan bersama semua keluarga. Dalam kesepian pula, tanpa ada teman yang tahu mungkin, tentang hari istimewanya itu. Saat itu, aku mengucapkan selamat ulang tahun untuknya hanya lewat pesan singkat saja. Betapa herannya, dia malah berkata bahwa dia lupa akan hari lahirnya itu. Hanya mengingatkan saja sebenarnya, bahwa jatah hidupnya berkurang sudah hari itu.

Dalam angan-anganku, sebenarnya aku sangat ingin membawakan kado yang benar-benar  istimewa buat dia. Tapi aku ragu, jika aku memberikan ‘sesuatu’ yang sebenarnya indah itu, apakah dia akan menerima dengan senang hati atau bahkan akan menolak mentah-mentah. Adalah ‘seorang pasangan buat dia’, yang sebenarnya ingin aku persembahankan. Tapi sepertinya tidak semudah yang aku bayangkan.

Berbicara tentang pasangan hidup, yang ku tahu, tak seorang pria pun singgah dalam hatinya. Mungkin juga ada, tapi dia simpan dalam-dalam dalam lubuk hatinya. Meskipun banyak sekali lelaki yang berusaha mendapatkan kasihnya, tapi tidak satupun yang ia terima menjadi kekasih hati kakak perempuanku ini. Dari sejak sekolah menengah pertama hingga saat ini, diusinya yang mencapai 23, sudah cukup banyak teman ataupun orang lain yang tidak ia kenal, atau saudara jauh, ingin menjadi pasangan hidupnya. Tapi, satu hal yang terjadi, sebuah kenyataan yang kurang enak untuk dijelaskan. Padahal, tak sedikit pula yang mengutarakan sebuah pernyataan didepan orang tua. Tetap saja, sia-sia.

Kriteria yang terlalu tinggi atau ‘sesuatu’ yang menjadi pertimbangan dalam hal ini, aku tidak tahu. Yang pasti, dia menginginkan yang terbaik dalam hidupnya, akupun juga. Dari berbagai ceritanya, bisa kusimpulkan mengenai masalah pasangan hidupnya. Bahwa selama ini, pria yang dekat dengannya atau yang menaruh perhatian lebih kepadanya, tak satupun dari mereka yang mengerti apa yang kakakku ini inginkan. Tidak sejalan dan satu pemahaman, begitu hematnya.

Susah memang, untuk mencari seseorang yang mempunyai pemikiran yang sejalan atau yang sama dalam pandangan hidup, karena yang aku tahu, perbedaan akan membuat hidup akan menjadi lebih berwarna dan indah. Begitu juga dengan pasangan.

Saranku, belajarlah untuk mencintai. Ketika kamu dicintai seseorang, cobalah untuk belajar memahami dan mengerti apa yang dia rasakan. Karena tidak akan pernah sia-sia dalam sebuah pembelajaran. Tapi, jangan pernah kamu jatuh cinta, karena bagaimanapun, jatuh itu pasti akan sakit.

Dari kiri, Mbak Zidny, saya, dan Mas Bahar :)

Cuma tulisan singkat yang kupersembahkan buat kamu, my lovely elder sister. 

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Hadna Muthia Izzati
Pare, Kediri, Indonesia
A trainer | A traveler | A dreamer| An Ordinary girl
Lihat profil lengkapku

Ordinary's Friends

Blog contents © Ordinary Little Girl 2010. Blogger Theme by NymFont.