Lovely Elder Siesta
Kamis, 19 April 2012
Saat ini,
aku ingin berbicara tentang salah seorang anak manusia yang cukup aku kenal dan
cukup aku sayangi dalam hidupku. Mungkin dia juga sama, menyayangiku pula, tapi
tidak diperlihatkan saja olehnya. Karena malu, atau gengsi mungkin. He. Padahal
kita begitu dekat, sedekat jantung dan hati, kenapa harus malu dan gengsi?
Semestinya kan tidak begitu. Saling memberi semangat dan dukungan tanpa ada
rasa yang menghalangi, itulah seharusnya.
Sebut saja namanya Zidny Ilma. The only sister that I have. Aku
ingin menulis semuanya, apapun yang aku tahu tentang dia. Meskipun tidak semua
aku ketahui dengan sempurna. Karena yang aku tahu, tidak pernah sekalipun dia menceritakan
apa yang terjadi dalam hidupnya dalam tulisan. Tidak sekalipun. Tidak ada
diary, dan tidak ada ada selembar kertas pun yang dia gunakan untuk
menggambarkan kisah hidupnya. Hanya bercerita yang menurut dia perlu dia
ceritakan, seperlunya saja. Atau mugkin dia simpan sendiri dalam hatinya, bila
ada ‘sesuatu’ yang tidak perlu untuk orang lain ketahui.
Di tempat
yang sekarang pun, di kamar kosnya yang berukuran 2x2 meter, di kota pahlawan
Surabaya, tidak kujumpai sebuah buku tulis atau selembar kertas kosong pun,
untuk sekedar coret-coret atau menuliska ide yang mungkin tiba-tiba muncul.
Memang manusia yang tahan akan kesendirian. Kesendirian dalam arti lain. Dalam
hal berbagi kisah yang cukup secret ataupun berbagi kasih untuk yang dia
sayang.
Disini pula,
aku akan menceritakan bagaimana kisah kasih hidupnya yang cukup unik, berbeda
dari yang lain. Begini kisahnya…
Dilahirkan
di kota kecil yang damai, Pare, tanggal 16 Februari 1989 oleh sang ibunda
Sholihatin. Tulisan ini aku buat di hari keempat setelah ulang tahunnya yang ke
23. Terasingakan di kota orang, di hari yang seharusnya dia bisa merasakan
kebahagiaan bersama semua keluarga. Dalam kesepian pula, tanpa ada teman yang
tahu mungkin, tentang hari istimewanya itu. Saat itu, aku mengucapkan selamat ulang
tahun untuknya hanya lewat pesan singkat saja. Betapa herannya, dia malah
berkata bahwa dia lupa akan hari lahirnya itu. Hanya mengingatkan saja
sebenarnya, bahwa jatah hidupnya berkurang sudah hari itu.
Dalam
angan-anganku, sebenarnya aku sangat ingin membawakan kado yang
benar-benar istimewa buat dia. Tapi aku
ragu, jika aku memberikan ‘sesuatu’ yang sebenarnya indah itu, apakah dia akan
menerima dengan senang hati atau bahkan akan menolak mentah-mentah. Adalah
‘seorang pasangan buat dia’, yang sebenarnya ingin aku persembahankan. Tapi
sepertinya tidak semudah yang aku bayangkan.
Berbicara
tentang pasangan hidup, yang ku tahu, tak seorang pria pun singgah dalam
hatinya. Mungkin juga ada, tapi dia simpan dalam-dalam dalam lubuk hatinya. Meskipun
banyak sekali lelaki yang berusaha mendapatkan kasihnya, tapi tidak satupun
yang ia terima menjadi kekasih hati kakak perempuanku ini. Dari sejak sekolah
menengah pertama hingga saat ini, diusinya yang mencapai 23, sudah cukup banyak
teman ataupun orang lain yang tidak ia kenal, atau saudara jauh, ingin menjadi
pasangan hidupnya. Tapi, satu hal yang terjadi, sebuah kenyataan yang kurang
enak untuk dijelaskan. Padahal, tak sedikit pula yang mengutarakan sebuah
pernyataan didepan orang tua. Tetap saja, sia-sia.
Kriteria
yang terlalu tinggi atau ‘sesuatu’ yang menjadi pertimbangan dalam hal ini, aku
tidak tahu. Yang pasti, dia menginginkan yang terbaik dalam hidupnya, akupun
juga. Dari berbagai ceritanya, bisa kusimpulkan mengenai masalah pasangan
hidupnya. Bahwa selama ini, pria yang dekat dengannya atau yang menaruh
perhatian lebih kepadanya, tak satupun dari mereka yang mengerti apa yang
kakakku ini inginkan. Tidak sejalan dan satu pemahaman, begitu hematnya.
Susah
memang, untuk mencari seseorang yang mempunyai pemikiran yang sejalan atau yang
sama dalam pandangan hidup, karena yang aku tahu, perbedaan akan membuat hidup
akan menjadi lebih berwarna dan indah. Begitu juga dengan pasangan.
Saranku,
belajarlah untuk mencintai. Ketika kamu dicintai seseorang, cobalah untuk
belajar memahami dan mengerti apa yang dia rasakan. Karena tidak akan pernah sia-sia dalam sebuah pembelajaran. Tapi,
jangan pernah kamu jatuh cinta, karena bagaimanapun, jatuh itu pasti akan
sakit.
![]() |
| Dari kiri, Mbak Zidny, saya, dan Mas Bahar :) |
Cuma tulisan
singkat yang kupersembahkan buat kamu, my lovely elder sister.


0 komentar:
Posting Komentar