Sebuah Mimpi Dalam Mimpi
Jumat, 01 Juni 2012
‘Perpisahan ini adalah sebuah jalan
untuk meraih mimpi. Dan dalam pencapaian itu, ada sebuah mimpi indah lainnya
yaitu kembali bersama’.
Dalam masaku yang seperti
ini, aku sangat mengamini kata-kata itu. Kata yang keluar dari salah seorang
sahabat dekat. Diam bukan berarti tak punya pendapat, tapi apa perlu disalahkan
kalau sebuah ucapan memang benar adanya.
Hidup memang seperti ini,
begitu banyak hal yang terjadi. Dan tak melulu hal-hal indah yang mewarnainya,
karena kadang bila hidup hanya diwarnai dengan euforia saja, akan menjadikan
sebuah keadaan menjadi stagnan dan mati. Dan pasti, setiap orang menolak hal
yang demikian, mati dan stagnan tanpa pencapaian yang nyata.
Ada seseorang bertanya,
ketika sedang berbincang di persimpangan jalan dan melihat banyak pemuda berkumpul
dalam satu kumpulan motor, dan hanya begitu saja malam-malam yang mereka
habiskan. Hidup mereka bahagia, bersama menghabiskan waktu meskipun tanpa ada
hal yang menantang dalam perjalanannya. ‘Apa kamu hidup seperti mereka?’. Stagnan
dan tak ada pencapaian.
Berbicara soal
perpisahan, memang hal itu adalah hal yang paling dihindari oleh siapapun. Bertemu,
bersama, dan berpisah menjadi suratan hidup yang tak bisa seorang pun terlepas
darinya. Dan selamanya akan begitu, meskipun sebesar apapun usaha manusia untuk
mencegahnya, tak ada yang mampu menahannya.
Perpisahan untuk mimpi. Aku
baru tersadarkan akan maknanya. Bahwa itu adalah hal yang berat tapi indah. Adalah
sebuah reflexi dari sebuah keadaan, keadaan yang mengekang tetapi berbuah
kebahagiaan ketika pencapaian sudah didepan mata. Harapanku pun juga demikian
adanya. Berusaha dan berdo’a untuk hal yang baik.
***
‘Rasa sakit ketika berpisah adalah
pancaran dari ego yang kuat’
Baru kudengar kalimat yang
menusuk itu beberapa saat yang lalu. Bukan tertuju padaku sebenarnya, karena
sahabat ku pun juga tidak pernah tahu apa yang terjadi padaku. Tapi aku merasakannya,
sebuah ucapan bagaikan pedang yang menebasku hingga tak sadar diri bahkan mati.
Sebuah ego, sulit untuk dijelaskan tapi akan berakibat fatal bila dibiarkan.
Dan sayangnya, aku baru
menyadari hal itu. Ego ku terlalu dominan dalam hal ini. Hingga membuat rasa
sakit itu terus mengakar layaknya puluhan jarum menancap didalam dada. Dan mungkin,
itu juga memberatkanmu pada situasi ini. Tapi aku percaya, ego mu tidak sebesar
aku.
Sebuah mimpi yang
menjadikan suatu perpisahan tidaklah menjadi suatu problema ketika ada mimpi
lain dibalik mimpi lain yaitu kembali bersama. Dan aku percaya hal itu. Satu kata
terakhir, ‘Maafkan aku, sayang’.

0 komentar:
Posting Komentar