Sebuah Mimpi Dalam Mimpi


‘Perpisahan ini adalah sebuah jalan untuk meraih mimpi. Dan dalam pencapaian itu, ada sebuah mimpi indah lainnya yaitu kembali bersama’.

Dalam masaku yang seperti ini, aku sangat mengamini kata-kata itu. Kata yang keluar dari salah seorang sahabat dekat. Diam bukan berarti tak punya pendapat, tapi apa perlu disalahkan kalau sebuah ucapan memang benar adanya.

Hidup memang seperti ini, begitu banyak hal yang terjadi. Dan tak melulu hal-hal indah yang mewarnainya, karena kadang bila hidup hanya diwarnai dengan euforia saja, akan menjadikan sebuah keadaan menjadi stagnan dan mati. Dan pasti, setiap orang menolak hal yang demikian, mati dan stagnan tanpa pencapaian yang nyata.

Ada seseorang bertanya, ketika sedang berbincang di persimpangan jalan dan melihat banyak pemuda berkumpul dalam satu kumpulan motor, dan hanya begitu saja malam-malam yang mereka habiskan. Hidup mereka bahagia, bersama menghabiskan waktu meskipun tanpa ada hal yang menantang dalam perjalanannya. ‘Apa kamu hidup seperti mereka?’. Stagnan dan tak ada pencapaian.

Berbicara soal perpisahan, memang hal itu adalah hal yang paling dihindari oleh siapapun. Bertemu, bersama, dan berpisah menjadi suratan hidup yang tak bisa seorang pun terlepas darinya. Dan selamanya akan begitu, meskipun sebesar apapun usaha manusia untuk mencegahnya, tak ada yang mampu menahannya.

Perpisahan untuk mimpi. Aku baru tersadarkan akan maknanya. Bahwa itu adalah hal yang berat tapi indah. Adalah sebuah reflexi dari sebuah keadaan, keadaan yang mengekang tetapi berbuah kebahagiaan ketika pencapaian sudah didepan mata. Harapanku pun juga demikian adanya. Berusaha dan berdo’a untuk hal yang baik.
***
‘Rasa sakit ketika berpisah adalah pancaran dari ego yang kuat’

Baru kudengar kalimat yang menusuk itu beberapa saat yang lalu. Bukan tertuju padaku sebenarnya, karena sahabat ku pun juga tidak pernah tahu apa yang terjadi padaku. Tapi aku merasakannya, sebuah ucapan bagaikan pedang yang menebasku hingga tak sadar diri bahkan mati. Sebuah ego, sulit untuk dijelaskan tapi akan berakibat fatal bila dibiarkan.

Dan sayangnya, aku baru menyadari hal itu. Ego ku terlalu dominan dalam hal ini. Hingga membuat rasa sakit itu terus mengakar layaknya puluhan jarum menancap didalam dada. Dan mungkin, itu juga memberatkanmu pada situasi ini. Tapi aku percaya, ego mu tidak sebesar aku.

Sebuah mimpi yang menjadikan suatu perpisahan tidaklah menjadi suatu problema ketika ada mimpi lain dibalik mimpi lain yaitu kembali bersama. Dan aku percaya hal itu. Satu kata terakhir, ‘Maafkan aku, sayang’.

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Hadna Muthia Izzati
Pare, Kediri, Indonesia
A trainer | A traveler | A dreamer| An Ordinary girl
Lihat profil lengkapku

Ordinary's Friends

Blog contents © Ordinary Little Girl 2010. Blogger Theme by NymFont.