Yang Tersalah Diantara yang Salah
Kamis, 31 Mei 2012
Di pengasingan ini aku menemukanmu. Dalam keadaan setengah sadar tak terjangkau. Setelah sekian lama terasingkan dalam peradabanku sendiri. Merasa sendiri dalam ribuan manusia bernyawa. Menyendiri dalam lindungan kabut putih yang lembut membelai. Mengapa kau datang?. Pertanyaan yang tidak butuh jawaban untuk saat ini.
Mungkin memang benar kalau aku pernah ada tapi tak ada. Sesuatu yang membuatku selalu mencerna dari setiap apa yang tergores. Meresapinya walau itu terlampau jauh. Merasakan hal yang semu untuk sekian lama. Membuatku menggila karenanya. Yang sebelumnya memang tak pernah kuharapkan. Menyesuaikan dari kasta yang berbeda, yang sudah terlampau dalam memahaminya.
Dan lagi-lagi, aku tidak pernah mengerti. Atau aku yang terlalu bodoh?. Kalau mungkin kau tau, tidak pernah sekalipun aku merasa bahagia diatas keterasinganmu. Kalau pu begitu, aku lah pihak yang paling salah diantara yang salah. Baiklah, aku setuju dengan ucapanmu. Kuturuti apa yang kau mau, meskipun butuh banyak sekali detik yang harus bergulir.
Semua sudah ter-setting baik dalam ratusan bahkan mungkin ribuan sel otak. Menemukan makna atas apa yang tersampaikan tidak semudah apa yang kamu pikirkan. Menyembuhkan sesuatu yang abstrak dalam hal ini juga tidak lah semudah ketimbang memulainya. Masa ini adalah hal tersulit yang pernah kurasakan dalam perjalan ini. Asal kau tau saja.
Berpuluh-puluh jarum seakan menancap dalam dada hingga sering membuat susah bernafas. Api pun seakan membakar diri hingga terasa panas. Tapi apa yang bisa kuperbuat?. Hanya satu kata. Diam.Tanpa melakukan apapun ketika itu terjadi. Dan penantian selanjutnya adalah penantian pada air mata. Dan aku rela, karena telah kumulai awalnya. Berharap yang baik, itu pasti. Tapi seiring berjalannya waktu, apakah kau selalu yakin dengan hal itu?.
Apapun tentang filosofimu, hanya kata ‘terserah’ yang bisa mewakilinya. Duniamu adalah duniamu , dan aku tak perlu memperdulikannya lagi, karena kau pun juga tidak lagi menganggapnya. Sikap lamaku lambat laun akan muncul kembali aku kira. Menganggap semua orang sama, dan itu hakku. Tidak pernah rela sebenarnya, aku berkata sedemikian lancang. Tapi sekali lagi, ini hakku.
Puaskah kau?, membuat permainan ini sedemikian sempurna?. Benar-benar hebat dan perlu kuacungi jempol. Hanya satu diantara seribu yang berhasil melakukannya. Kata terimakasih harus kuucapkan padamu yang telah menjadikanku sedemikian rupa. Terimakasih banyak.
Selimut dalam pangkuanku sudah membasah terkena linangan air yang entah jatuh tanpa aba-aba. Segera kuusap pipi dengan tegarnya jari-jari yang menyekanya. Masih banyak waktu dalam penyembuhan ini. Dan aku pasti akan menjadi yang kuat diantara yang kuat. Dengan iringan lagu Raisa, kututup mataku yang mulai memerah.

0 komentar:
Posting Komentar