Puisi Terakhir Untukku
Rabu, 23 Mei 2012
Dengan perasaan yang campur aduk, aku
meninggalkan kalian. Di kota itu, aku berkenalan hingga melambaikan tangan
tanda perpisahan untuk kalian. Singkatnya waktu saat itu, bukan menjadi
halangan untuk saling mengerti dan mengasihi. Dengan pengertian dan rasa tulus
untuk saling memahami, itu cukup membuat kita dekat meski waktu yang hanya
sesaat.
Hanya beberapa saat saja aku bersama
kalian, hingga waktu jua yang memisahkan kita. Salah seorang dari kalian
membuat sebuah kenangan yang benar-benar mengesankan. Sepucuk surat dia
selipkan di saku bajuku. Dengan menahan derai air mata yang akan jatuh, dia
berlari menghindar dariku. Takut kalau benar-benar menangis di hadapanku karena
berpisah. Hanya diam tanpa kata-kata, menatap dia berlari menjauh dariku.
Benar-benar kehilangan.
Setiba ditempat tinggalku, aku
langsung membuka dan membaca sepucuk kertas dengan tulisan tangan yang cukup
rapi untuk anak Sekolah Menengah Pertama. Aku baca dari baris ke baris. Dengan
kata-kata yang disusun sedemikian rupa oleh anak itu, membuat mataku pedih,
hingga ingin meneteskan air mata. Meskipun aku bisa menahannya.
Kembali
Tiada
Jauh
sebelum kalian ada
Aku
dilanda kegelapan
Yang
ditelan sang malam
Dan
tak tahu apa-apa
Kau
datang bagai matahari
Sinar
terang menyinariku
Mengangkat
otakku
Untuk
menuju masa depan
Kau, menjadikanku
lebih tahu
Lebih
mencintai ilmu itu
Dan
membuatku
lebih maju
Dari
pertama hingga berujungnya masa
Kalian
selalu bersama
Tapi
sejak saat ini dan nanti
Kalian
kembali tiada
(Felach Aunur, tanpa perubahan)
Sepucuk puisi dari seorang anak SMP
yang benar-benar tulus diungkap dari segenap perasaan hatinya. Menjadikan
kenangan tak terlupakan dibalik kesedihan karena sebuah perpisahan. Terimakasih
untuk semuanya, kenangan dan semua yang kalian berikan kepadaku membuat hidupku
lebih berwarna dan merasa lebih bermanfaat bagi orang lain. Thanks.

0 komentar:
Posting Komentar