Special Gift
Sabtu, 06 Oktober 2012
Seratus dua puluh menit,
terhitung dari sekarang, hari esok akan tiba. Aku merasa esok haruslah menjadi
hari yang mengesankan, dan tak terlupakan. Menapaki hari dengan angka baru
berkepala dua. Bila dapat kupaparkan, detik detik penantian ini adalah
saat-saat yang mendebarkan. Akan terjadi apa esok, aku masih bertanya-tanya.
Pencapaian, semua orang
memiliki itu. Dan aku adalah salah satu diantaranya yang ingin mencapai mimpi
dan angan. Berawal dari hal terkecil hari ini, itu akan menjadi sangat
berpengaruh nanti. Sebuah keinginan yang sudah kucanangkan beberapa saat yang
lalu, menjadi awal titik untuk menggenggam semua mimpi-mimpi yang mengantri
untuk sesegera mungkin diwujudkan.
Hari ini, aku telah
menyelesaikan berbagai halangan untuk mencapai anganku mengawali dua puluh
tahunku. I did it!. Kupersembahkan kado
special ini untuk diriku. Aku berhasil mendaki puncak gunung, meskipun hanya
sekelas gunung Kelud di Kabupaten Kediri. Yang pada beberapa saat yang lalu,
aku bermimpi untuk memberi hadiah istimewa untuk diriku sendiri dengan mendaki
Mahameru. Tapi, kemungkinan itu sangat kecil ditengah aktifitas yang sudah
tertata rapi.
Ide gila, yah ide ini tiba-tiba
muncul disaat setelah perkuliahan siang tadi usai. Masih menunjukkan pukul dua
siang, dan aku teringat akan hadiah yang ingin kupersembahkan di awal usia
kepala duaku. Huft, kalau dipikir semakin menua saja. Segera kuajak teman
lamaku, Anas, untuk segera cabut.
Tak kusangka, baru lima
menit perjalanan, rintik hujan berjatuhan. Aah, tidak mungkin... ‘Jangan hujan
Ya Allah, aku mau naik gunung’. Tapi, memang sudah jatah turun hujan, dan tidak
bisa terelakkan lagi, berbasah-basahan dibawah langit yang menghitam. Hingga butuh
satu jam lebih mengendarai motor untuk mencapai lokasi.
Aku lupa memakai jaket. Dan
gila saja, angin sangat tidak bersahabat ditengah derasnya hujan, sangat-sangat
kencang. Kedinginan, kelaparan, dan keinginan untuk mencapai puncak bercampur
menjadi satu. Gila, aku akui itu. Sakit bisa kapan saja menyerang dengan
kondisi ku yang tidak berpakaian memadai untuk penghalau dingin dan hujan. Biarlah,
aku masih sehat.
Kata teman camp ku, ‘Memang
edan orang satu ini, nekat!’.
Kutunggu beberapa saat
hingga hujan sedikit mereda ditempat berteduh yang berjajar disekitar area
parkir. Pemandangan gunung di tengah hujan kali ini berbeda dari pada biasanya,
ketika aku datang saat cuaca cerah. Terasa semakin mencekam dan menakjubkan. Dan
waktunya tiba, hujan sedikit bersahabat
dan aku bersama Anas langsung menapaki ratusan anak tangga menuju puncak.
Bbrr, bisa mati kedinginan
dengan kondisi angin semakin kencang dan hujan yang tidak segera berhenti. Tapi
keadaan itu tidak terasa begitu berat karena terkalahkan oleh semangat untuk
sampai puncak sesegera mungkin, karena waktu semakin malam pula. Mp3 ungu
kunyalakan, dan hanya cukup dengan lima lagu saja aku sudah mencapai puncak. Aku
berteriak, ‘Finally, I did it!’.
Akhirnya, aku
persembahkan hadiah puncak ini. Aku harap ini hanyalah awal dari mimpi-mimpi
yang menunggu. Dan aku sangat bersyukur masih diberi kekuatan untuk melihat
keagungan Tuhan. Selain setengah lingkaran penuh pelangi yang membentang, senja
kala itu sangat memanjakan. Semoga kenikamatanMu tidak berhenti sampai disini
Tuhan. Thanks a lot God. Berkahi aku Tuhan, Amin.

0 komentar:
Posting Komentar