Special Gift


Seratus dua puluh menit, terhitung dari sekarang, hari esok akan tiba. Aku merasa esok haruslah menjadi hari yang mengesankan, dan tak terlupakan. Menapaki hari dengan angka baru berkepala dua. Bila dapat kupaparkan, detik detik penantian ini adalah saat-saat yang mendebarkan. Akan terjadi apa esok, aku masih bertanya-tanya.

Pencapaian, semua orang memiliki itu. Dan aku adalah salah satu diantaranya yang ingin mencapai mimpi dan angan. Berawal dari hal terkecil hari ini, itu akan menjadi sangat berpengaruh nanti. Sebuah keinginan yang sudah kucanangkan beberapa saat yang lalu, menjadi awal titik untuk menggenggam semua mimpi-mimpi yang mengantri untuk sesegera mungkin diwujudkan.

Hari ini, aku telah menyelesaikan berbagai halangan untuk mencapai anganku mengawali dua puluh tahunku. I did it!. Kupersembahkan kado special ini untuk diriku. Aku berhasil mendaki puncak gunung, meskipun hanya sekelas gunung Kelud di Kabupaten Kediri. Yang pada beberapa saat yang lalu, aku bermimpi untuk memberi hadiah istimewa untuk diriku sendiri dengan mendaki Mahameru. Tapi, kemungkinan itu sangat kecil ditengah aktifitas yang sudah tertata rapi.

Ide gila, yah ide ini tiba-tiba muncul disaat setelah perkuliahan siang tadi usai. Masih menunjukkan pukul dua siang, dan aku teringat akan hadiah yang ingin kupersembahkan di awal usia kepala duaku. Huft, kalau dipikir semakin menua saja. Segera kuajak teman lamaku, Anas, untuk segera cabut.

Tak kusangka, baru lima menit perjalanan, rintik hujan berjatuhan. Aah, tidak mungkin... ‘Jangan hujan Ya Allah, aku mau naik gunung’. Tapi, memang sudah jatah turun hujan, dan tidak bisa terelakkan lagi, berbasah-basahan dibawah langit yang menghitam. Hingga butuh satu jam lebih mengendarai motor untuk mencapai lokasi.

Aku lupa memakai jaket. Dan gila saja, angin sangat tidak bersahabat ditengah derasnya hujan, sangat-sangat kencang. Kedinginan, kelaparan, dan keinginan untuk mencapai puncak bercampur menjadi satu. Gila, aku akui itu. Sakit bisa kapan saja menyerang dengan kondisi ku yang tidak berpakaian memadai untuk penghalau dingin dan hujan. Biarlah, aku masih sehat.

Kata teman camp ku, ‘Memang edan orang satu ini, nekat!’.

Kutunggu beberapa saat hingga hujan sedikit mereda ditempat berteduh yang berjajar disekitar area parkir. Pemandangan gunung di tengah hujan kali ini berbeda dari pada biasanya, ketika aku datang saat cuaca cerah. Terasa semakin mencekam dan menakjubkan. Dan waktunya tiba, hujan sedikit  bersahabat dan aku bersama Anas langsung menapaki ratusan anak tangga menuju puncak.

Bbrr, bisa mati kedinginan dengan kondisi angin semakin kencang dan hujan yang tidak segera berhenti. Tapi keadaan itu tidak terasa begitu berat karena terkalahkan oleh semangat untuk sampai puncak sesegera mungkin, karena waktu semakin malam pula. Mp3 ungu kunyalakan, dan hanya cukup dengan lima lagu saja aku sudah mencapai puncak. Aku berteriak, ‘Finally, I did it!’.

Akhirnya, aku persembahkan hadiah puncak ini. Aku harap ini hanyalah awal dari mimpi-mimpi yang menunggu. Dan aku sangat bersyukur masih diberi kekuatan untuk melihat keagungan Tuhan. Selain setengah lingkaran penuh pelangi yang membentang, senja kala itu sangat memanjakan. Semoga kenikamatanMu tidak berhenti sampai disini Tuhan. Thanks a lot God. Berkahi aku Tuhan, Amin.

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Hadna Muthia Izzati
Pare, Kediri, Indonesia
A trainer | A traveler | A dreamer| An Ordinary girl
Lihat profil lengkapku

Ordinary's Friends

Blog contents © Ordinary Little Girl 2010. Blogger Theme by NymFont.