Rumah Sejuta Asa
Kamis, 04 Oktober 2012
Bersenandung bersama
melewati malam, dan pada akhirnya semua mulai terpejam. Tinggal sisa-sisa nafas
yang kudengar dari dengkuran lembut para wanita ini. Mereka terlihat lelah,
dalam malam yang menjaganya.
Haah, inilah keluargaku. Keluarga baru yang
kukenal di rumah sejuta asa ini. Kusebut saja demikian, kedengarannya bagus. Dan
aku rasa, memang benar adanya kalau gubuk berlantai dua ini adalah cikal bakal
munculnya berjuta mimpi dari penghuninya.
Disinilah aku, terdampar
namun merasa beruntung. Berada didalam sebuah rumah yang artistik, bergaya kuno
tapi sangat nyaman. Gemericik air kolam di sudut halaman depan menambah suasana
menjadi damai, serta bunyi gantungan bambu yang tertiup angin sawah sepoi-sepoi
membuat pikiran penat menjadi rileks. Sang penghuni pastilah sangat suka
ketenangan.
Hampir tidak pernah kudengar
teriakan-teriakan memaki, marah, apalagi emosi dari sang pemilik rumah sejuta asa
ini. Yang kutahu, beliau begitu sabar dalam bersikap, bijak dalam bertindak,
dan menginsipirasi di setiap berucap. Begitulah sesosok bapak baruku,
membimbing ‘anak-anak’ didiknya, dengan penuh cinta, meski kita tergolong orang
lain baginya.
Rumah sejuta asa ini,
hanyalah tempat, yang menampung beberapa remaja dari pelbagai pelosok negeri. Lampung,
Pontianak, Jambi, Jakarta, Jepara, Kediri, Kalimantan, hingga Sulawesi. Bhineka
tunggal ika, kita merasa sama disini. Sama rasa, sama keyakinan, dan sama-sama
mempunyai mimpi untuk siap diraih. Dari sini, aku percaya, mimpi akan kita
genggam suatu masa nanti, diselingi tawa canda bersama, senda gurau yang
mengesankan, sampai cerita duka lara, terus berbagi dan saling mengisi.
Awal dari semuanya, disini,
semua mempunyai mimpi. Bersama mencapai asa. Mengenal macam-macam karakter
manusia, kadang lucu, menjengkelkan, hingga mengesankan. Paket lengkap rasanya
kalau berbicara soal komposisi disini. Namun, kata-kata yang kurangkai mungkin
tidak seindah kenyataan yang ada. Sangat hangat berada ditengah keluarga baru,
yang hanya kukenal masih sekitar satu bulan.
Harapan dan rapalan do’a kututurkan
kepada Tuhan disetiap selesai jamaah bersama, ‘Mudahkan kita, agar semakin maju
dan terus berkembang. Aku yakin kita bisa, meskipun memulai dari titik nol. Maaf
kalau kadang aku masih setengah-setengah disini, tapi aku sangat percaya mimpi
tertinggi itu pasti akan datang, disaat waktu yang tepat.’
-October Wish-

0 komentar:
Posting Komentar