Rumah Sejuta Asa


Bersenandung bersama melewati malam, dan pada akhirnya semua mulai terpejam. Tinggal sisa-sisa nafas yang kudengar dari dengkuran lembut para wanita ini. Mereka terlihat lelah, dalam malam yang menjaganya.
Haah, inilah keluargaku. Keluarga baru yang kukenal di rumah sejuta asa ini. Kusebut saja demikian, kedengarannya bagus. Dan aku rasa, memang benar adanya kalau gubuk berlantai dua ini adalah cikal bakal munculnya berjuta mimpi dari penghuninya.

Disinilah aku, terdampar namun merasa beruntung. Berada didalam sebuah rumah yang artistik, bergaya kuno tapi sangat nyaman. Gemericik air kolam di sudut halaman depan menambah suasana menjadi damai, serta bunyi gantungan bambu yang tertiup angin sawah sepoi-sepoi membuat pikiran penat menjadi rileks. Sang penghuni pastilah sangat suka ketenangan.

Hampir tidak pernah kudengar teriakan-teriakan memaki, marah, apalagi emosi dari sang pemilik rumah sejuta asa ini. Yang kutahu, beliau begitu sabar dalam bersikap, bijak dalam bertindak, dan menginsipirasi di setiap berucap. Begitulah sesosok bapak baruku, membimbing ‘anak-anak’ didiknya, dengan penuh cinta, meski kita tergolong orang lain baginya.

Rumah sejuta asa ini, hanyalah tempat, yang menampung beberapa remaja dari pelbagai pelosok negeri. Lampung, Pontianak, Jambi, Jakarta, Jepara, Kediri, Kalimantan, hingga Sulawesi. Bhineka tunggal ika, kita merasa sama disini. Sama rasa, sama keyakinan, dan sama-sama mempunyai mimpi untuk siap diraih. Dari sini, aku percaya, mimpi akan kita genggam suatu masa nanti, diselingi tawa canda bersama, senda gurau yang mengesankan, sampai cerita duka lara, terus berbagi dan saling mengisi.

Awal dari semuanya, disini, semua mempunyai mimpi. Bersama mencapai asa. Mengenal macam-macam karakter manusia, kadang lucu, menjengkelkan, hingga mengesankan. Paket lengkap rasanya kalau berbicara soal komposisi disini. Namun, kata-kata yang kurangkai mungkin tidak seindah kenyataan yang ada. Sangat hangat berada ditengah keluarga baru, yang hanya kukenal masih sekitar satu bulan.

Harapan dan rapalan do’a kututurkan kepada Tuhan disetiap selesai jamaah bersama, ‘Mudahkan kita, agar semakin maju dan terus berkembang. Aku yakin kita bisa, meskipun memulai dari titik nol. Maaf kalau kadang aku masih setengah-setengah disini, tapi aku sangat percaya mimpi tertinggi itu pasti akan datang, disaat waktu yang tepat.’

-October Wish-

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Hadna Muthia Izzati
Pare, Kediri, Indonesia
A trainer | A traveler | A dreamer| An Ordinary girl
Lihat profil lengkapku

Ordinary's Friends

Blog contents © Ordinary Little Girl 2010. Blogger Theme by NymFont.