Yang Ketujuh di Batas Kota Ini



Aku menunggu saat itu. Dimana secara tidak langsung, aku benar-benar sadar bahwa aku memang menunggu. Meskipun kadang aku menolak untuk itu. Tapi aku ingin mengukir kisahnya menjadi sebuah rangkaian yang akan selalu dikenang, atau hanya dilupakan begitu saja seiring berjalannya waktu.

Dan yang ketujuh, akhirnya tiba. Tidak bisa kupungkiri lagi, dia memang hadir untuk yang ketujuh kalinya. Tujuh, angka yang menurutku pribadi adalah sebuah keajaiban. Tujuh, angka untuk keajaiban dunia, angka untuk lapisan langit, dan tujuh untuk angka yang paling istimewa bagiku.

Mungkin yang ketujuh, akan menjadi yang paling berkesan, aku telah berharap sebelumnya. Mungkin juga yang ketujuh ini akan menjadi sebuah isyarat baik, atau berbagai kemungkinan yang berkaitan dengan keberuntungan lainnya. Hanya pengharapan, sebenarnya. Baiklah, sebelum hadir yang ketujuh, ada enam hal lain yang terjadi sebelumnya memang. Dengan berbagai kejadian dari waktu yang terus bergulir, menjadi sebuah rangkaian kenangan hingga tibalah puncaknya, yang ketujuh. Di batas kota ini, dia selalu menyebutnya begitu, dari pertama hingga yang terakhir.

Untuk pertama kali kunjungannya di batas kota ini, sudah lama sekali. Bahkan aku lupa kapan tepatnya. Aku tidak tahu dan tidak ada rencana apapun untuk menyambut kehadirannya. Hanya satu hal yang aku punya, sebuah hal sederhana yang tidak akan pernah hilang dari diriku. Sebuah ‘senyuman kecil’, mungkin itu hal yang berharga bagiku. Mungkin juga orang lain yang bersamaku. Hingga aku sadar, betapa indahnya jika senyuman selalu mengembang di balik semua kebahagiaan maupun kesedihan. Tapi, mungkin dia masih tidak memahami atas sikapku yang tidak dapat diperkirakan, apalagi untuk yang pertama.

Kali kedua kehadirannya, masih di tahun yang sama. Dengan gaya anak muda jaman sekarang yang anti-kemapanan, dengan sepasang sandal sederhana, dia melangkah lagi di batas kota ini. Bedanya, aku bersamanya menaiki bis antar kota di tengah derasnya hujan, dengan berteduh di kantor polisi sebelum mendapat bis terakhir menuju batas kotaku. Senyumku masih saja mengembang kala itu, dan ada satu hal lagi yang mulai mekar dan ikut tersenyum. Mungkin karena waktu yang berjanji akan semua yang terjadi, sebuah hati yang mulai terbuka dengan senyum yang juga mengiringinya.

Semua pria akan luluh dengan satu hal, rengekan atau tangisan. Untuk ketiga kalinya, aku benar-benar tidak sadar melakukan itu semua. Aku pikir itu hal yang bodoh. Dengan sebuah panggilan ayng lebih tepatnya bisa disebut paksaan, dia akhirnya melangkah lagi dan merasakan malam-malam di batas kota ini, di bulan yang sama. Aku benci penyesalan. Hingga aku bisa memaafkan sikapku yang berlebihan padanya.

Melepaskan seseorang lebih terasa sakit dibanding meninggalkan seseorang. Begitu kesimpulan yang bisa aku petik di kehadirannya yang keempat, setelah berpuluh-puluh malam berlalu. Mungkin jika bisa dilihat dengan jelas, hati yang sebelumnya kosong, sudah terisi penuh dengan bunga yang bermekaran dalam beberapa waktu yang berlalu. Tapi, di yang keempat ini, entah mengapa dia seakan membabat pelan-pelan yang sudah tumbuh. Dan aku hanya bisa diam dalam keheningan. Dan mulai menyadari, betapa berharganya hamparan hati itu untuk ditumbuhi bunga-bunga dari orang lain, bukan hanya seorang saja.

Yang kelima kehadirannya, dia datang bersama salah seorang kenalannya. Meskipun aku masih bisa mengembangkan senyumku, tapi aku benar-benar tidak mengaharapkan kedatangannya, sama sekali. Tanaman yang tumbuh itu sudah tiga perempat hilang, meskipun masih ada seperempat lainnya. Sudah cukup untuk menumbuhkan yang sudah mati. Dan malam pun tetap menjadi saksi atas sebuah sikap yang mulai berubah.

Tidak pernah kuperkirakan sebelumnya, akan ada yang keenam. Dengan masih dalam sikap anti-kemapanannya, meskipun tatanan rambutnya sudah sedikit tertur, dia merajuk untuk dijemput di tempat biasa, di persimpangan jalan raya itu. Aku hanya bisa mengabulkan pintanya. Senja semakin tua hingga malam menghitam, tapi mereka membisu. Hanya dia yang bersua. Mencoba menumbuhkan kembali bunga-bunga yang entah sudah mati karena tidak ada pupuk yang menyuburkannya. Benar, sangat susah menghidupkan yang sudah hilang. Aku tidak mau mengganggu hidupnya lagi dengan kejadian yang sudah terjadi sebelumnya. Aku hanya ingin dia melanjutkan hidup yang sudah menjadi pilihannya, mempertahankan apa yang sudah dia punyai, tanpa aku. Itu akan lebih baik. Aku hanya berpesan, panggillah aku ketika ada sesuatu, bukan sebagai yang utama, tapi aku selalu ada.

Aku sudah membersihkan semua sisa-sisa tanaman yang mati dalam hamparan hati. Masih aku  biarkan hamparan itu bersih dengan ketenangan yang menyelimuti. Di saat kondisiku yang seperti itu, dia hadir untuk yang ketujuh. Tujuh, yang menjadi sebuah hal yang indah bagiku. Aku berharap dia juga sama. Tetap tenang dalam kekacauan pikirannya. Aku tetap berharap dia selalu menjadi dia. Tidak ada kata menyerah dalam kamusnya, terus melihat pertanda yang membentang di hadapannya, tetap menjaga keyakinannya dengan baik, selalu memberi solusi pada orang lain yang membutuhkannya, dan tidak akan berhenti pada satu titik yang membuat dia mati.

Yang ketujuh ini adalah yang paling singkat. Tapi, ini adalah yang terbaik. Tidak ada lagi perih tertinggal saat aku menatapnya. Namun, aku percaya, dia akan datang untuk yang kedelapan dengan sebuah berita yang berbeda. Entah yang mengejutkan atau yang biasa-biasa saja. Kalimat terakhirku, meskipun tidak ada lagi benang yang tersambung, aku hanya berharap ada benang tipis lain yang membuat aku dan dia tetap baik-baik saja. Batas kota ini dengan segala kenangan yang tertinggal telah di-maktubkan olehNya. Semua kisah akan punya akhir, tapi tidak untuk kisah yang kita buat sendiri.

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Hadna Muthia Izzati
Pare, Kediri, Indonesia
A trainer | A traveler | A dreamer| An Ordinary girl
Lihat profil lengkapku

Ordinary's Friends

Blog contents © Ordinary Little Girl 2010. Blogger Theme by NymFont.