Kepingan Puzzle Itu...
Sabtu, 19 Januari 2013
Hari ini adalah hari
dimana akhirnya aku mampu mengungkapkan apa yang aku rasakan kepada seorang
teman. Teman dekat lebih tepatnya. Dan sudah beberapa saat memang, memendam
sendiri perasaan yang selalu mengganjal dihati. Rasanya pun sangat tidak
nyaman. Tapi pada akhirnya aku bisa bercerita banyak kepada teman lama.
Perasaan yang selalu
membawaku kedalam memori yang terlewatkan. Mengenang hal yang mungkin tidak
bisa terulang lagi. Terlalu indah untuk selalu dikenang, padahal pada
akhirnya akulah yang kalah dan menjadi diam. Meskipun sudah melawan
perasaan ini, rasanya sangat berat sekali untuk meninggalkan apa yang sudah
mengakar. Layaknya akar pohon oak, yang akan selalu berdiri kokoh menahan
kerasnya angin yang bertiup kencang.
Aku selalu berkata, entah
kapan aku memulai berprinsip seperti ini. Bahwasannya, ketika aku sudah menaruh
hati kepada seseorang, maka aku akan selalu berusaha meyukainya sepenuh hati. Karena aku
tahu dan paham benar dengan hatiku sendiri. Sangat susah untuk mencintai, dan
ketika sudah ada yang bersemayam dalam hati, akan sangat susah untuk
melupakannya. Dan itu yang terjadi saat ini.
Betapa susahnya melupakan
seseorang yang pernah menjadi hidup, meskipun hanya dalam hitungan bulan. Dan
aku tidak bisa menyangkalnya. Sekeras apapun berusaha untuk melupakannya,
maka aku akan lebih dalam lagi mengingatnya. Seperti sebuah perkataan, ‘Melupakan
seseorang yang penting dalam hidup adalah seperti mengingat seseorang yang
belum pernah dikenal’. Sangat susah.
Pesakitan ini muncul
kembali. Ketika aku terus dan terus mencoba untuk menyangkal bahwa tidak
lagi ada perasaan apapun kepadanya. Dan aku kalah, aku mengakuinya. Masih ada
yang tertinggal dalam hati ini. Dan benar saja, prinsipku selama ini. Bahwa
sebenarnya yang memilih adalah hati, dan dia membuktikannya. Terlalu berat
untuk meninggalkan kenangan indah meskipun hanya beberapa saat saja.
Terkadang, hanya air mata
yang bisa membuktikannya. Dia menjadi saksi bisu untuk segala pesakitan ini. Tidak
ada jalan lain selain itu. Karena kadang, tidak ada yang mendengar keluh kesah
yang sudah berakar ini, apalagi mencari obat yang tepat takarannya. Aku butuh
penawar, yaitu seseorang yang baru, yang tepat untuk menggantikannya. Melupakan
pesakitan yang dalam. Dan menciptakan lembaran baru yang lebih berwarna.
Kadang aku selalu
berpikir tentang hal itu. Berpikir keras tentang hal yang akan membuat tidak
lagi selalu mengingat hal yang sudah terlewatkan dan tidak akan kembali lagi. Aku
ingin berusaha memulai awal baru. Dimana aku bisa memasang kepingan puzzle yang
kosong, dan diisi dengan potongan-potongan puzzle yang tepat dan pas. Aku akan
berusaha untuk itu. Selama apapun waktunya. Karena aku yakin, seseorang itu
pasti akan datang. Untukku dan untuknya. Menyudahi pencarian dan penantian kepingan puzzle
yang tercecer, menjadi utuh dan nyata pada akhirnya.


0 komentar:
Posting Komentar