Elfast dan Ceritaku
Kamis, 10 Januari 2013
Menjejakkan kaki,
selangkah demi selangkah. Menggantungkan harapan yang menunggu jawaban. Tapakan
kaki yang meskipun berat, tapi tak mau berhenti untuk berjalan. Mata yang
kadang lelah tapi tak mau untuk ditutup. Hati yang terkadang terlalu lelah
tetap harus bertahan untuk selalu ada. Karena aku harus selalu ada. Selalu ada
dalam peranku saat ini.
Mungkin hampir genap dua
belas bulan hanya kurang beberapa saat saja, aku disini. Tak terasa. Waktu berjalan
cepat, perputarannya membuatku selalu terus berjalan hingga kadang lelah pun
terabaikan. Tempatku, disini. Menuntut ilmu, merajut mimpi, berjuang untuk
hidup, mengenal berjuta orang, mencicipi menjadi orang dewasa, berkenalan
dengan cinta, sahabat, dan tak terhitung lagi apa saja yang sudah terjadi.
Berjuta pengalaman hidup
mulai kujejaki disini, Elfast. Taukah kau tempat apa ini?. Hanya sebuah
bangunan bedinding dengan jajaran kelas, yang setiap bulan bahkan minggu pasti
didatangi orang yang berbeda. Setiap saat. Dan aku pun terlalu malas untuk
mengamati banyak orang yang berlalu lalang. Aku hanya bisa mengikuti arusnya
saja, tapi tidak untuk melawan arus itu. Terlalu deras.
Mereka semua datang
dengan satu tujuan. Mengenal dan memahami bahasa Asing, lebih tepatnya Inggris.
Dan aku sangat terlibat dalam jalur mereka. Setidaknya aku menjadi guide untuk
mengenalkannya. Susah-susah gampang menjadi guide untuk semua golongan, usia,
tak terkecuali. Tidak ada pengelompokan, karena semua sama.
Ada saja ulah dan
kejadian yang berbeda dalam setiap situasi. Menghadapi bapak dosen, pengacara
yang banyak protesnya, guru dengan segala kemampuannya, mahasiswa yang terlalu aktif
bertanya hingga keluar jalur dan lebih sering menggombal, anak SMA yang malah
gampang diajari, anak SMP yang masih terlalu polos untuk mengerti apa itu Grammar,
hingga anak SD yang tidak mengerti apapun dan harus menjelaskan berkali-kali
dihadapannya, bergabung menjadi satu dalam ruang yang disebut dengan kursusan.
Kalau sudah demikian,
ingin rasanya melempar penghapus papan tulis dan lari dari kelas. Tapi itu
tidak mungkin kulakukan. Setidaknya, bersikap dewasa untuk menghadapi masalah,
itu lebih tepat. Dan hasilnya, tidak begitu bawel juga lama-lama, apalagi
ketika mereka harus menghadapi soal yang rumit. Haha, bahagia sesaat diatas
penderitaan orang lain. Tapi aku tidak sejahat, membiarkan rambut mereka rontok
satu per satu. Karena aku juga pernah ditertawakan ketika tidak bisa, dan itu
sakit.
Sebut saja aku sebagai
guide durhaka. Meskipun tidak enak didengar, tapi memang kenyataannya seperti
itu. Bukan durhaka dalam arti sebenarnya, ini dikarenakan aku terlalu susah
menghafal nama diantara banyak orang tersebut. Entah siapa saja yang menyapaku,
hanya mengangguk dan tersenyum, beres urusan. Hehe. Durhaka kah?. Tidak juga
sepertinya.
Menikmati setiap kelucuan
yang terjadi di dalam kelas, hingga diluar kelas. Banyak yang berkata, aku
mempunyai dua kepribadian. Sangat cool dan tenang jika dikelas. Entah setan apa
yang merasukiku hingga aku bisa berwatak tujuh tahun lebih tua. Tapi lihat saja
kalau kaki sudah keluar pintu kelas, satu langkah saja, pertahanan yang kuat
didalam kelas seakan runtuh seketika. Jadilah Hadna yang berbeda. Apalagi ketika
malam tiba. Kebiasaan berkumpul bersama member tidak bisa terelakkan. Walaupun
hanya sekedar menyeruput kopi panas di satu malam. Menjadi satu sosok yang
gila. Ampuni Tuhan.
Ini hari-hari ku bersama
Elfast dan apa yang terjadi didalamnya. Mengamati lamat-lamat atas semua
kejadian hari demi hari. Semakin berkembang saja aku kira. Dan aku senang
menjadi bagianmu. Menjadi salah satu pintunya, tidak masalah. Setidaknya aku
bisa sedikit bermanfaat bukan untukku sendiri, tapi untuk banyak orang. Semoga
saja akan semakin banyak orang lagi yang mau membuka pintu ini.
http://elfast-pare.com

0 komentar:
Posting Komentar