Kupu-kupu dan Yang Tak Terbatas
Minggu, 06 Januari 2013
Melihat mereka dalam
untaian kata-kata, saling menguraikan celoteh dalam kepuitisan sastra, bersatu
padu dalam keharmonisan dan berbalas kasih lewat itu semua. Tidak pernah
kuketahui siapa mereka. Hanya saja, rasa yang hangat yang ada diantara mereka
seketika menyetrum tubuhku hingga aku dapat merasakan betapa bahahagianya
mereka pada perputaran masa.
Angan-angan lah yang
akhirnya mengerti. Berkenalana bebas sebebas-bebasnya. Mengumpamakan apapun
menjadi nyata. Berusaha melihat realita, tapi itu bukan sebenarnya. Hanya saja
rasa manis saat itu terlampau indah untuk ditinggalkan terlalu jauh. Aku tidak
sanggup berpaling, sungguh pemanis buatan ini, memabukkan.
Saat semua menjadi muram,
langit-langit menampakkan rona kelabunya, awan-awan menghitam berkumpul menjadi
satu dan pada akhirnya akan jatuhlah tangisan dibumi, aku tidak mau melihat
mereka dalam penampakan yang tidak sempurna, sesempurna biasanya. Aku tidak
ingin pemanis buatankan itu lenyap seketika. Membuatku goyah akan semua ceceran
keindahan seketika menjadi kekecewaan.
Melihat mereka, aku bisa
menyadari. Begitu banyak perbedaan yang terkesampingkan demi sebuah tujuan yang
sama. Hingga pada akhirnya membuat benang-benang yang sangat kecil sebelumnya,
menjadi menebal dan semakin tebal hari demi hari. Tidak mereka saja,
benang-benang tipis akan bisa semakin nampak seiring bergulirnya detik, menit,
jam, hari, abad, hingga kembali pada semesta.
(Cobalah meng-aku-kan aku dalam
setiap hembusmu)

0 komentar:
Posting Komentar