11 Bulan 11 Hari Lagi
Sabtu, 23 Februari 2013
(Tulisan konyol, buat mbak-ku)
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
(Yovie N The Nuno-Janji Suci)
-Wooi, ini masih pagi. Udah ngedengerin lagu yang ngebuat angan-angan
melambung aje. Hehe. Bawaan umur-
Ba’da sholat subuh, pacar lamaku, laptop mini ungu ini kunyalakan. Entah
ada angin pagi apa yang merasuk dalam sanubari hingga tiba-tiba jari-jari imut
ini membuka file musik dan kupilih lagu diatas. Suara abang Digta dan
kawan-kawan lewat headset terdengar lembut sekali di telinga. Aduhai sekali.
Membayangkan lirik-lirik itu berubah menjadi sebuah sketsa nyata. (Ngayal
mulu).
Baiklah, aku tidak akan menyangkut tentang ‘aku’ lagi. Tapi, ini berkaitan
tentang kakak keduaku, yang paling gokil, imut, lucu, dan baik hati sedunia
(ada maunya kalo kayak gini). Keinget omongan ibu kemarin siang, ‘Mbakmu gimana
sama mas yang dulu?’. Waduh, pertanyaan yang menggalaukan. Ternyata ibu belum
tahu kalau mbak Zidny udah PUTUS!.
‘Nggak mau cerita ah, nggak boleh sama mbak Zidny’, jawabku santai.
‘Lho, biar ibu ngerti. Kamu pikir to nduk, mbak’e itu udah gede. Ibu gak
mau kalau dia menikah lebih dari umur 25’.
Well, lagi-lagi dipikiran orang tua kepada para anak perawannya adalah
‘MENIKAH’. Okelah, setidaknya bukan aku yang disuruh untuk itu. Kalaupun iya,
sama siapa?hehe... bingung juga. Balik ke mbakku tersayang, tanggal 16 Februari
kemarin umurnya genap 24. Lumayan lah, udah lama juga dia bernapas di bumi ini.
Hussh.
Bagaimapun, aku mikir juga tentang hal ini. Bagaimana tidak?. Dia cukup
dekat denganku, untuk hubungan persaudaraan dan sesi curhat-curhatan. Tapi,
kelihatannya dia memang terlalu santai dan tidak memikirkan akan hal ini,
menikah. Mungkin mikir juga kali ya, tapi mana kelihatan?. Usahaku hanya satu
buat dia, ikut berpartisipasi nyariin juga pria yang sholeh, ganteng, baik,
kaya (perfect bgt, mana nemu?) atau setidaknya mantengin laki-laki di Elfast
yang buanyak sekali. Tapi, susah ternyata.
Aku sangat terharu saat dia bercerita kalau dia punya tambatan hati,
beberapa bulan yang lalu. Dunia terbalik. Hehe. Teman satu kantor, dan bisa
menarik perhatian kakakku ini. Hebat juga tu bapak. Lho, kok bapak?. Bukan
ding, OM lebih tepatnya.
Hari-harinya menjadi lebih berwarna, menjadi lebih teratur, dan mulai
menunjukkan sisi yang terkubur sejak sekian lama yakni, perhatian. Aku jadi
heran, ternyata dia lebih lebay dari aku, hehe. Tapi ya maklum, dimabuk asmara.
Jadi wajar lah.
Saat ke Surabaya sekitar dua bulan yang lalu, aku bilang ke kakakku ini
kalau aku pengen tau mana sih om-om itu. La
haulawala kuwwata illa billa. Dia udah PUTUS!. Wooi, yang bener aja?.
Dikenalin aja belom, udah maen diputusin aja. Gak seru en gak keren, harusnya
dikenalin dulu, baru diputus. Lhoh?. Malah lebih gak keren kalau itu.
Ya ya... Aku paham setelah dia bertutur selama satu jam lebih dua puluh
lima menit lebih tiga puluh lima detik. Kesimpulannya, om itu bukan yang tepat
buat mbakku. Itu aja?. Ga juga sih, tapi lupain lah. Susah memang, menyatukan
hati. Apalagi kalau udah pada dewasa, yang dipikir semakin banyak. Bisa
dibilang, masa penjajakan sebelum lanjut ke hubungan yang lebih serius. Dan itu
TIDAK GAMPANG.
Setelah kuhitung, ternyata waktu tersisa untuk dia sebelum umur 25 hanya
sekitar 11 bulan 11 hari. Dan harapan ibu, menikah sebelum umur 25. Tekanan
batin gak tu?. Tapi, siapa tau akan jodoh?. Mungkin tiba-tiba aja besok muncul
pangeran dengan kuda putih dan para dayang-dayang berbaju sutra lembut, dengan
membawa mahar dan segala tetek-bengeknya. Haha. Ngayal lagi.
At least, aku pernah melihatmu tersenyum karena hatimu, mbak. Dan sedikit senang
akan hal itu. Berusahalah untuk hidupmu, aku selalu membantumu, atau merepotkan
mu lagi. Dan terakhir, menikahlah!. Karena bapak pengen gendong cucu juga. ~.~

0 komentar:
Posting Komentar