Di bawah lindungan lampu remang-remang, aku hanya ingin menulis beberapa
kata-kata setelah sekian lama jemari ini tidak menari diatas komputer ungu
mudaku. Aku tidak tahu harus dimulai dari mana. Ribuan kata berjejal di dalam
kepala, semua ingin berlomba untuk mencapai garis finish dengan keluar dari
otak yang mulai memanas. Sudah tidak tahan mungkin mereka, hanya berdiam diri
seperti halnya dipenjarakan didalam sel yang tua. Di dalam ruangan gelap yang
hanya memenjarakan diri mereka saja sepertinya, tanpa adanya asupan apapun yang
bermanfaat bagi kehidupannya. Aku hanya berfikir dan diam, akan kuapakan
mereka. Bila kuperlakukan hal yang sama seperti yang telah lalu, aku yakin,
mereka akan mengamuk dan akan berontak ingin terbebas dari dalam penjara ini. Dan
pasti akan fatal akibatnya.
Mata hanya bisa terbuka tanpa memberi kesempatan kepada mereka untuk
menjadi yang pertama dalam meloloskan diri dari kekangan ini. Telinga, hidung,
tangan, kaki, dan semua, seakan tertawa melihat ribuan huruf yang berlomba
seakan berlari dengan satu tujuan, yaitu bebas dari penjara yang membelenggu. Semua
seakan tidak ada yang membelaku untuk mempertahankan mereka didalam penjara
pribadiku yang gelap dan tak bernyawa. Aku menyerah. Power mereka terlalu besar
dibanding diri ini yang sedang tak berdaya. Aku persilahkan kalian menang. Silahkan.
Sepertinya kalian senang, setidaknya beberapa dari kalian sudah menang dan
berhasil meraih impian kalian. Kuakui kalian hebat. Setidaknya teman kalian
yang lain diluar sana tidak pernah terpenjara seperti kalian didalam sel usang dalam diriku. Bermilyar-milyar teman
kalian sudah tersenyum bahagia dan terbebas
dari segala belenggu yang mengikat dalam satu ikatan. Aku yakin, mereka
jauh lebih bahagia dan merasakan manfaat yang besar dari keberadaan mereka.
Apakah kalian marah padaku karena selalu mengekang kalian agar tetap
mendekap dalam satu ruang gelap?. Tidak membiarkan kalian terbebas menari
didunia luar. Menikmati indahnya udara bebas dan tidak lagi menunggu kapankah
ada perlombaan untuk menjadi yang pertama dan juara. Maafkan untuk semua. Aku juga
tidak ingin sebenarnya membiarkan kalian terus dan terus terpenjara. Keluarlah dan
pijaklah dunia sesukamu. Aku tidak akan membelenggu lagi, aku tidak akan
memaksa kalian lagi. Sekarang, terserah kalian. Akan kuturuti semua keinginan
kalian.
Jika kalian terus berjejal saling melawan untuk menjadi pemenang, aku tidak
dapat berbuat apa-apa lagi kecuali terus mengadakan perlombaan untuk kalian. Apakah
kalian setuju?, akan kuadakan perlombaan setiap saat untuk ribuan bahkan jutaan
dari kalian untuk menjadi pemenangnya. Paksalah diri kalian juga untuk
perlombaan yang akan kuadakan kapan saja. Keinginanku hanya satu, kalian semua
akan merasakan betapa indahnya diluar sel yang telah usang. Yakinlah.
Refreshing,
tujuan utama perjalanan kali ini, bersama semua rekan-rekan dan pastinya atas ajakan bos
besar Elfast Mr. Andre. Setelah selesainya program fullday satu minggu penuh yang memang cukup menguras
tenaga dan pikiran kita semua. Akhirnya, hari Minggu tanggal 29 Mei kemarin,
team yang berjumlah sekitar 15 orang siap untuk memulai perjalanan liburan
singkat waktu itu.
Rencana awal
memang pergi ke tempat yang memanjakan mata, ada dua pilihan sebenarnya. Antara
air terjun Sedudo di Nganjuk dan pantai pasir putih di Situbondo. Dengan
pertimbangan lamanya perjalanan, air terjun Sedudo-lah yang menjadi pilihan.
Menjelang satu hari keberangkatan, beredar kabar bahwa air terjun Sedudo tidak
begitu cantik dan menawan. Batal-lah rencana pergi kesana. Dan keputusan terakhir
di hari keberangkatan adalah keputusan dari sang empunya hajat sendiri, Mr.
Andre.
Akhirnya, air
terjun Tretes di perbatasan Malang dan Jombang yang menjadi tujuan. Hanya
membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit dengan mobil, melewati jalan meliuk-liuk
dengan pemandangan pepohonan hijau yang membentang sepanjang jalan di sisi
kanan-kiri. Sejuk dan damai rasanya. Berhenti sejenak di tengah hutan untuk
mengabadikan beberapa foto bersama. Kebetulan, ada fotografer amatir yang siap
mengambil semua foto kita, Mr. Fais. Hehe.
Elfast Crew
Menurut
informasi dari beberapa sumber, air terjun ini adalah yang tertinggi di Jawa
Timur. Yang tingginya mencapai 170 meter. Hm, betapa indahnya, bayangan kita
semua pada awal mendengar info itu. Mempersiapkan beberapa botol air untuk
bekal perjalanan panjang yang akan kita tempuh. Dan tak lupa membawa gula merah
untuk penambah tenaga ketika tenaga mulai berkurang di tengah jalan.
Perjalanan
melewati hutan yang masih alami untuk sampai di air terjun memakan waktu yang
cukup lama. Jalan yang menanjak, rerimbunan semak, pohon besar yang tumbang,
hingga lintah-lintah ganas yang siap menghisap darah segar manusia menjadi
sensasi yang menantang untuk perjalanan saat itu. Namun, itu tidak menjadi
kendala yang menghambat aku dan rekan-rekan untuk segera sampai di satu tujuan
yang katanya, memang sangat luar biasa indah. Dan hal itu menjadi satu
penyemangat untuk mempercepat perjalanan meskipun dengan berbagai macam
rintangan.
Tidak jarang
kita berhenti di tengah sungai yang mengalir indah dengan airnya yang sedingin
air es, untuk mengistirahatkan urat-urat kaki yang mulai pegal dan juga berfoto
ria untuk menambah semangat pula. Dengan tenaga yang berbeda, rombongan kita
banyak yang terpisah di tengah perjalan. Ada yang mendahului dan ada pula yang
masih tertinggal jauh dibelakang. Aku tidak sadar, bahwa aku hanya seorang diri
berjalan di tengah hutan tanpa seorang pun yang berada didepan maupun
debelakangku. Kunikmati saja perjalanan itu dengan sesekali melihat bagian
kaki, mungkin saja lintah sudah menikmati darah segarku. Tapi, darahku terlalu
pahit mungkin, hingga lintah pun tak mau menghisap darah segarku. Hehe.
Setelah berjalan
selama kurang lebih satu setengah jam, tampaklah sang air terjun yang gagah
dengan tingginya yang menjulang menyentuh langit. Tidak sabar saja ingin segera
sampai dan merasakan tajamnya cipratan air yang jatuh dari ketinggian 170
meter. Baju yang basah karena harus melewati aliran sungai di sepanjang jalan,
semakin menambah heboh rasa dingin yang menusuk tulang. Tiupan angin yang kencang
dari sumber air membuat badan menggigil dibuatnya.
Tretes Waterfall
Ingin teriak
sekencang-kencangnya saat sampai di bawah air terjun Tretes. Memang benar, air
terjunnya sangat indah dengan ketinggiannya. Bisa dibilang, air terjun ini
mempunyai tinggi tiga kali dari air terjun Coban Rondo di Malang. Sungguh luar
biasa, meskipun volume air yang jatuh tidak seberapa.
Segera kurasakan
sentuhan cipratan air yang membelai pipi dan sekujur tubuh hingga gigi pun
terasa gemetar dibuatnya. Duduk diatas batu kali yang besar didepan air
terjunnya tepat. Namun sayangnya, momen indah dibawah air tejun tidak
diabadikan oleh Mr. Fais, karena khawatir kameranya akan error bila terkena
air. Padahal, kita semua menunggu saat-saat yang indah dengan mengabadikan
gambar dibawah air terjun langsung. Untungnya, aku membawa kamera digital yang
bisa dibuat cadangan untuk memotret momen bersama dibawah air terjun Tretes.
Seneng kan kalian semua bisa tetap eksis. Hehe.
Setelah
merasakan dahsyatnya hawa dingin yang merasuk hingga tulang, cacing-cacing di
perut mulai berdendang ria, ingin segera diberi makanan. Namun sayangnya, kita
tidak membawa apapun yang bisa dinikmati. Dan semuanya merasakan hal yang sama,
perut yang mililit karena perjalanan yang begitu menantang. Hm, menyesal karena
tidak ada persiapan sebelumnya.
Hanya bisa
menahan rasa lapar yang teramat sangat dalam perjalanan pulang melewati
rimbunan hutan lagi. Tapi petualangan saat itu memang beda dari petualangan
yang lain. Benar-benar menantang. Dan suatu saat nanti, berharap bisa kesana
lagi dengan orang yang berbeda.
Dan satu hal yang pasti, otak kita semua benar-benar fresh lagi setelah
melakukan perjalan kali itu. Suasana alam memang kadang membuat pikiran bersih
dan semangat lagi untuk melakukan rutinitas yang biasa kita jalani. Dan pastinya,
pengalaman indah dalam suatu perjalanan akan selalu didapat.
Apakah aku salah mempunyai sikap
seperti ini?. Kata orang-orang, hidupku terlalu santai, terlalu tidak mempunyai
beban, dan tidak banyak memikirkan suatu masalah. Heh!. Apa hak kalian
menegurku ketika aku bersikap seperti ini?. Apa kalian iri, karena kalian
terlalu pusing memikirkan masalah yang ruwet. Apakah kalian stress juga
melihatku tanpa beban hidup?. Kenapa kalian terlalu pusing akan hal itu?.
Santai saja bung!. Kenapa harus
pusing dan ribet to?. Ketika masalah bisa diatasi dengan pikiran yang tenang
dan dengan santai tapi tetap bertanggung jawab, kenapa harus stress?. Intinya,
semua masalah itu bisa diatasi. Tergantung bagaimana cara kita saja dalam
menghadapi masalah tersebut. Dengan tetap tenang dan santai, pasti suatu
persoalan akan lebih cepat teratasi daripada terus-terusan stress tanpa
bertindak dan terus mengeluh.
Kita punya problem yang sama
bung!. Menghadapi 350 siswa yang jumlahnya tidak sedikit, dan mereka dalam masa
puber pastinya. Kita semua sama, hampir 24 jam berjumpa dengan mereka dengan
segala tingkah polah anak kota yang luar biasa. Pusing, pasti. Banyak terjadi
masalah, itu juga jelas. Tidak banyak berbeda masalah yang kita hadapi. Tapi,
kenapa kalian terlihat lebih pusing dan stress, hingga selalu protes padaku yang
terlihat ceria tanpa beban.
Aku hanya ingin kalian juga
tersenyum sebenarnya. Sama seperti saya, hehe. Enek banget ngeliat wajah-wajah
yang kusut setelah bertugas. Apa susahnya tersenyum?. Kalian semua lebih tua dari
aku, dan aku harap kalian bisa jadi contoh bagi yang lebih muda dalam
bertindak. Biarlah kalian sebut aku masih berjiwa remaja dan berwajah imut,
tapi dengan itu, kalian bisa tersenyum kan dengan melihat wajah dan senyumku?.
Semangat ya bapak-bapak, ibu-ibu.
Ini adalah sebuah latihan dan pembelajaran hidup dalam menghadapi sebuah
problem untuk mematangkan diri kita. Ayo kita berusaha untuk tetap tersenyum,
meskipun melihat anak-anak yang menjengkelkan hati. Namanya juga anak-anak…
Santai saja bung!!!
Kubuka loker
paling ujung dari semua loker yang ada di ruangan itu guna mengambil beberapa
materi. Duduk bersila dan membacanya sekilas. Kulihat pintu disebelah utara aku
duduk, tampak seseorang yang sepertinya akan membawa sebuah berita. Dia melihat
kearahku, dan aku pun sama, menatapnya pula. Tampak sesungging senyum yang
dipersembahkan untukku. Aku tahu maksutnya, dia pasti sedang bahagia, pikirku.
Tak lama
kemudian, dia sudah duduk berhadapan denganku. Bersila dan siap meluncurkan
rentetan kata-kata atas semua peristiwa yang baru saja terjadi pada dirinya.
Dia seorang wanita, berperawakan sedang, hampir sama dengan tinggi badanku.
Sebenarnya, baru beberapa bulan saja kita bertemu, tapi keakraban sudah
terjalin diantara kita. Dia selalu bercerita tentang dirinya dan apapun yang terjadi
padanya. Tapi maaf, aku cukup menjadi seorang pendengar yang baik saja untuk
dia, karena masalahku tidak untuk dipublikasikan, meskipun dengan orang yang
dekat denganku sekalipun.
‘Gimana?’,
tanyaku mengawali perbincangan sore itu. Dia hanya tersenyum awalnya, dibuat
bingung aku jadinya. Lalu kemudian, dia mulai bertutur kata tentang semua
peristiwa yang baru saja terjadi padanya. Dia, seorang perempuan yang sungguh
mempunyai nyali yang besar, aku akui. Berani jujur mengungkapkan semua yang dia
rasakan pada lawan jenisnya. Bukan hal yang biasa, namun sungguh luar biasa
bagiku.
Memang sekarang tidak ada ketentuan bahwa seorang laki-laki harus
mengungkapkan lebih dahulu sebuah kenyataan, yang menyangkut tentang perasaan.
Tapi dalam kamusku, tidak ada ungkapan itu. Harus mengungkapkan lebih dahulu
sebuah rasa kepada seorang pria adalah sebuah tindakan yang berat bagiku.
Percakapan
singkat antara aku dan dia di depan deretan loker abu-abu tua, menjadi sebuah
percakapan yang menyisakan kekagumanku atas keberaniannya. Dia utarakan semua
yang ada dalam lubuk hatinya, nyata di depan sang pria. Meskipun dengan
tergagap, dan tidak lancar dalam berucap, akhirnya dia berhasil menyampaikan
semuanya. Sukses, dan tanpa hambatan!. Tinggal menunggu detik-detik yang
mendebarkan menunggu sebuah jawaban yang akan terasa manis ataupun pahit.
Sang pria
pun sudah menduga sebelumnya, bahwa sang wanita akan mengungkapkan semuanya.
Sang pria telah mendapatkan sinyal-sinyal yang berbeda dari sang wanita
sebelumnya, hampir selama dua minggu lebih. Aku mendengarkan semua kata-kata
yang keluar dari mulut sang wanita dengan seksama. Dan penasaran akan keputusan
yang disampaikan oleh sang pria kepadanya. Dia berhenti, menghela nafasnya.
Melihatku dengan senyuman yang berbeda. Aku tidak mengerti apa maksutnya.
Apakah senyum bahagia atau senyum luka?. Hanya diam, dan siap menjadi tempat
menampung semua cerita, ketika ada orang butuh untuk mengungkapakan semua
kisahnya.
‘Dia nggak
bilang nggak, Na’, itu ucapan yang dia katakan setelah diamnya beberapa saat.
Aku tersenyum dan ingin pula merasakan apa yang dia rasakan, betapa bahagianya.
Kujabat tangannya mengucapkan selamat atas keberaniannya. Tapi, dia malah heran
atas sikapku.
‘Tapi dia
juga nggak bilang iya, Naa’. Ucapan terakhirnya membuatku kembali ternganga,
diam beberapa saat. Jadi apa maksutnya??. Kenyataan yang ternyata tidak cukup
membahagiakan. Tapi, malah sebuah senyuman tersungging dibibirnya. Dia hanya
berkata, memang itu mungkin yang terbaik dan dia tidak akan menyesal telah
mengatakan semua isi hatinya kepada sang pujaan hati. Keputusan terakhir, bukan
menjadi masalah buatnya. Karena sebuah silaturrahmi masih akan tetap terjalin
meskipun saat itu pula, kenyataan pahit baru saja dia alami.
Satu hal
dari curhatan temanku itu yang akan aku jadikan pelajaran, yaitu tidak pernah
ada ruginya mengungkapkan apa yang ada benak kita, selama itu masih wajar.
Semua itu akan menjadi proses yang indah, membuat perasaan lebih tenang, dan
menjadikan sebuah rangkaian cerita yang menarik.
Saat ini,
aku ingin berbicara tentang salah seorang anak manusia yang cukup aku kenal dan
cukup aku sayangi dalam hidupku. Mungkin dia juga sama, menyayangiku pula, tapi
tidak diperlihatkan saja olehnya. Karena malu, atau gengsi mungkin. He. Padahal
kita begitu dekat, sedekat jantung dan hati, kenapa harus malu dan gengsi?
Semestinya kan tidak begitu. Saling memberi semangat dan dukungan tanpa ada
rasa yang menghalangi, itulah seharusnya.
Sebut saja namanya Zidny Ilma. The only sister that I have. Aku
ingin menulis semuanya, apapun yang aku tahu tentang dia. Meskipun tidak semua
aku ketahui dengan sempurna. Karena yang aku tahu, tidak pernah sekalipun dia menceritakan
apa yang terjadi dalam hidupnya dalam tulisan. Tidak sekalipun. Tidak ada
diary, dan tidak ada ada selembar kertas pun yang dia gunakan untuk
menggambarkan kisah hidupnya. Hanya bercerita yang menurut dia perlu dia
ceritakan, seperlunya saja. Atau mugkin dia simpan sendiri dalam hatinya, bila
ada ‘sesuatu’ yang tidak perlu untuk orang lain ketahui.
Di tempat
yang sekarang pun, di kamar kosnya yang berukuran 2x2 meter, di kota pahlawan
Surabaya, tidak kujumpai sebuah buku tulis atau selembar kertas kosong pun,
untuk sekedar coret-coret atau menuliska ide yang mungkin tiba-tiba muncul.
Memang manusia yang tahan akan kesendirian. Kesendirian dalam arti lain. Dalam
hal berbagi kisah yang cukup secret ataupun berbagi kasih untuk yang dia
sayang.
Disini pula,
aku akan menceritakan bagaimana kisah kasih hidupnya yang cukup unik, berbeda
dari yang lain. Begini kisahnya…
Dilahirkan
di kota kecil yang damai, Pare, tanggal 16 Februari 1989 oleh sang ibunda
Sholihatin. Tulisan ini aku buat di hari keempat setelah ulang tahunnya yang ke
23. Terasingakan di kota orang, di hari yang seharusnya dia bisa merasakan
kebahagiaan bersama semua keluarga. Dalam kesepian pula, tanpa ada teman yang
tahu mungkin, tentang hari istimewanya itu. Saat itu, aku mengucapkan selamat ulang
tahun untuknya hanya lewat pesan singkat saja. Betapa herannya, dia malah
berkata bahwa dia lupa akan hari lahirnya itu. Hanya mengingatkan saja
sebenarnya, bahwa jatah hidupnya berkurang sudah hari itu.
Dalam
angan-anganku, sebenarnya aku sangat ingin membawakan kado yang
benar-benar istimewa buat dia. Tapi aku
ragu, jika aku memberikan ‘sesuatu’ yang sebenarnya indah itu, apakah dia akan
menerima dengan senang hati atau bahkan akan menolak mentah-mentah. Adalah
‘seorang pasangan buat dia’, yang sebenarnya ingin aku persembahankan. Tapi
sepertinya tidak semudah yang aku bayangkan.
Berbicara
tentang pasangan hidup, yang ku tahu, tak seorang pria pun singgah dalam
hatinya. Mungkin juga ada, tapi dia simpan dalam-dalam dalam lubuk hatinya. Meskipun
banyak sekali lelaki yang berusaha mendapatkan kasihnya, tapi tidak satupun
yang ia terima menjadi kekasih hati kakak perempuanku ini. Dari sejak sekolah
menengah pertama hingga saat ini, diusinya yang mencapai 23, sudah cukup banyak
teman ataupun orang lain yang tidak ia kenal, atau saudara jauh, ingin menjadi
pasangan hidupnya. Tapi, satu hal yang terjadi, sebuah kenyataan yang kurang
enak untuk dijelaskan. Padahal, tak sedikit pula yang mengutarakan sebuah
pernyataan didepan orang tua. Tetap saja, sia-sia.
Kriteria
yang terlalu tinggi atau ‘sesuatu’ yang menjadi pertimbangan dalam hal ini, aku
tidak tahu. Yang pasti, dia menginginkan yang terbaik dalam hidupnya, akupun
juga. Dari berbagai ceritanya, bisa kusimpulkan mengenai masalah pasangan
hidupnya. Bahwa selama ini, pria yang dekat dengannya atau yang menaruh
perhatian lebih kepadanya, tak satupun dari mereka yang mengerti apa yang
kakakku ini inginkan. Tidak sejalan dan satu pemahaman, begitu hematnya.
Susah
memang, untuk mencari seseorang yang mempunyai pemikiran yang sejalan atau yang
sama dalam pandangan hidup, karena yang aku tahu, perbedaan akan membuat hidup
akan menjadi lebih berwarna dan indah. Begitu juga dengan pasangan.
Saranku,
belajarlah untuk mencintai. Ketika kamu dicintai seseorang, cobalah untuk
belajar memahami dan mengerti apa yang dia rasakan. Karena tidak akan pernah sia-sia dalam sebuah pembelajaran. Tapi,
jangan pernah kamu jatuh cinta, karena bagaimanapun, jatuh itu pasti akan
sakit.
Dari kiri, Mbak Zidny, saya, dan Mas Bahar :)
Cuma tulisan
singkat yang kupersembahkan buat kamu, my lovely elder sister.
Located in the middle of some cities in east java, those are Kediri, Jombang, and Blitar, Pare is strategist place to be reach if you come by bus or by train. Pare is well-known as English village. Because in Pare, there are so many English courses and the students who study here come from everywhere, not only from Java island but also come from Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, Sumbawa, Lombok, until Papua. All of them come into this beautiful city with one purpose, which is studying English.
PARE-DISE
Here, we can get so many friends from different places in Indonesia. The other benefit is, you can find your soul mate, and that moment very often happened. Even you just meet someone for three weeks for the example; you can fall in love with him/her because the time for meeting and dating are much for you here. Usually we call it Pare in Love. Love story that happened in Pare.
About the course here, there are so many choices for you. From big course until small course, those are available here. From the expensive until cheap cost. The programs that offered are grammar, speaking, listening, vocabularies, pronunciation, toefl, ielts, and etc. And the quality of program depends on the course. Sometimes, in one course not all of the programs are good. But, sometimes the course has the best one in its program. For the example, a course is good in grammar, but low in speaking. So, you must look for another course that good in speaking. Why? Because this is your own choice, and in order to have the best in every program you’ll take.
BEC's New Building
These are the name of some courses in Pare, BEC (Basic English Course) is the first course which was built by Mr. Kalend, as the director of BEC. The others are Mahesa, Elfast, the Daffodils, Kresna, Smart, Logico, Access, Genta, and other courses. These are just some name of the courses in Pare. And actually, the courses in pare are almost 40. What a great number of courses in the small village called Pare.
In some courses, it opens new class every 10th and 25th every months. But sometimes depends on the course also. The shortest time for regular class is two weeks. And also one month, two months, until nine months or one year. But, if you are a group of a student and you want to take holiday program in a week, you can offer in the course that you want to study there.
So, for all of you that want to study in English Village, please look for the best place for program that you want to take. Have a nice studying, and good luck!!!
Kalimat dalam bahasa jawa yang terdengar cukup unik, dan itu menjadi sebuah kalimat yang selalu terngiang untuk para pemuda maupun pemudi yang biasa nongkrong, atau lebih tepatnya ngopi di warung yang bernama “Empat Mata”. Hanya beberapa orang mungkin yang tahu akan kalimat itu, tapi itu bak menjadi sebuah password penting untuk mengingatkan sebuah memori yang telah berlalu. Tepatnya adalah mereka segerombolan siswa-siswa TC periode 111 BEC.
Warung Empat Mata
Berawal dari sekumpulan pria yang setiap harinya selalu menghabiskan malam mereka dengan bercengkrama bersama, ditemani segelas kopi dan sepiring nasi goreng hangat, di sebuah warung yang bernama Empat Mata, muncullah sebuah kalimat yang penuh makna, ‘Sewu Suwe”. Atau arti dalam bahasa Indonesia adalah seribu lama. Maksut dari seribu dalam kata-kata tersebut adalah harga segelas kopi yang hanya seribu, itupun bisa dinikmati lama-lama hingga mungkin berjam-jam sambil tiduran atau dalam bahasa Jawa, ndlosor, demi secangkir kopi dan kebersamaan. Hingga terciplah rangkaian kata-kata, ‘Sewu Suwe, Sewu Suwe Sak Ndlosore’. Creative enough.
Letaknya tepat di depan toko buku Asmo Jhon atau di sebelah timur kursusan pertama di Pare, “Basic English Course”, di Jl. Anyelir Pare. Buat semua anak kursusan, pasti tidak akan asing dengan nama jalan ini. Karena memang termasuk salah satu akses jalan yang ramai dilalui siswa kursusan, dan banyak pula kursusan besar ataupun kecil di jalan ini.
Kembali ke Empat Mata. Warung yang namanya persis seperti acara Tukul Arwana. Terinspirasi dari acara TV itu mungkin. Entah. Warung itu terlihat sepi di siang hari, kadang juga tutup memang pada siang hari. Kadang kala mulai dibuka di sore hari hingga tutup larut malam.
Salah satu ke-khasan lain dari warung ini adalah nasi goreng nya yang enak dengan koki yang nyentrik pula. Rambut ikal gondrong yang selalu diikat, mirip orang reggae. Dan juga, cara masak yang penuh energy. Hingga kadang memasak nasi gorengnya dengan mengeluarkan banyak peluh. Semoga saja peluhnya tidak tercampur dengan nasi goreng, kan tambah rasa nanti jadinya. Hehe. Tapi rambut panjang yang selalu diikat itu, tidak dapat dilihat lagi sekarang. Karena sang pemilik rambut sudah memotong rambut gondrongnya hingga hampir gundul, hanya menyisakan beberapa centi dari rambut awalnya. Semoga saja, tidak akan menghilangakan kesaktiannya memasak nasi goreng enak.
Mas Gondrong :)
Nasi goreng dengan harga terjangkau yaitu lima ribu rupiah saja, akan membuat semua penikmatnya akan ketagihan dan ingin makan lagi esoknya. Tapi, dengan porsi yang sangat banyak, akan sangat hebat dan kuat jika seorang gadis menghabiskan sepiring nasi goreng seorang diri. Kalau aku, harus dengan bantuan orang lain ketika makan nasi goreng itu. Karena memang sangat banyak porsinya, persis seperti porsi kuli.
Aku baru mengetahui warung kopi dan nasi goreng Empat Mata itu beberapa bulan setelah aku belajar di BEC, sekitar tahun 2010 lalu. Sebelumnya, aku memang bukan anak kosan yang setiap harus mencari makanan di luar. Tapi setelah enam bulan, karena alasan program yang padat, akhirnya aku memutuskan untuk nge-kos. Dimulai dari kebiasaan sering lapar di malam hari, dan berakhirnya kelas yang larut malam pula, aku dan teman-teman selalu ingin mencari pengisi perut yang masih fresh atau baru saja dimasak. Tidak lain adalah nasi goreng. Masakan yang langsung siap disantap setelah diangkat dari penggorengan.
Ada bermacam-macam pilihan sebenarnya, untuk nasi goreng. Ada yang bernama nasi goreng “Mak Cruel”, mak yang jahat, hehe. Maaf. Karena memang, penjualnya ini adalah ibu-ibu yang susah tersenyum, dan yang unik lagi adalah nasi goreng yang keras dan perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk mengunyah. Ada lagi, nasi goreng arang. Api yang digunakan untuk memasak adalah dari arang, sehingga akan menimbulkan aroma yang sedap. Tapi, meskipun banyak pilihan, tetap saja nasi goreng Empat Mata yang menjadi pilihanku.
Awalnya aku juga tidak mengetahui asal muasal kata-kata ‘Sewu-Suwe’, tapi karena kebanyakan nongkrong bareng perjaka yang sering ngopi di warung itu, akhirnya aku pun mengetahui seluk beluk kata itu. Unik juga, pikirku waktu itu. Sering berteriak kata-kata itu pula dari pinggir jalan ketika melewati warung itu malam-malam saat teman-temanku nongkrong disana. Masih Ababil waktu itu memang, ABG Labil, hehe. Hingga sekarang pun, ketika chatting dengan teman seperjuangan jaman dahulu, password yang disebutkan adalah sewu-suwe. Hehe.
Tapi sekarang, sudah tidak ada lagi kata-kata itu di warung lesehan yang sering didominasi oleh pembeli pria. Karena kata-kata itu memang khas milik sekelompok orang tertentu. Para siswa BEC TC 111. Meskipun begitu, mas gondrong pemilik warung, yang aku selalu lupa bertanya namanya meskipun sudah panjang lebar ngobrol ngalor-ngidul, sering memberi informasi jika teman-teman mampir nongkrong, kalau saja datang ke Pare.
Tempat itu menjadi tempat favoritku, untuk nongkrong bareng teman atau teman special. Tidak hanya karena nasi gorengnya yang enak, tapi juga bisa menjadi tempat nongkrong tanpa batas waktu, hingga berjam-jam tanpa dipungut biaya. Menghabiskan waktu dengan berbagi cerita dan pengalaman hidup. Sangat tidak terlupakan.
Hal yang menarik dan tidak terduga lainnya adalah ketika bertemu teman lama di tempat itu, yang jarang bisa bertemu meskipun direncanakan. Ini cerita tentang warung penuh cerita, ‘Empat Mata’.
Satu kalimat terakhir, “Sewu Suwe- Sak Ndlosore’. Hehe.
Jum’at malam kemarin, menjadi malam yang tak terlupakan buatku. Menyaksikan salah satu girl band Indonesia yang cukup menarik perhatianku. Untuk pertama kali pastinya. Yang biasanya, aku hanya bisa melihat aksi-aksi sang bintang ini di layar kaca, tapi malam itu, aku dapat melihat mereka secara langsung. Sungguh istimewa.
‘Cherrybelle’, girl band yang sedang naik daun saat ini, membintangi beberapa iklan di layar kaca, FTV, dan juga beberapa reality show. Dengan personil sembilan gadis beranjak dewasa yang rata-rata berusia 20 tahun-an, fans mereka yang dinamakan ‘Twibi’, langsung menyebar di seluruh Indonesia, baik anak kecil,remaja, ataupun orang dewasa.
Cantik, muda, energik, ceria, lucu, dan selalu tersenyum, itulah mereka. Dan ternyata benar, setelah melihat langsung, tatapan mata akan selalu tertuju pada mereka. Lebih-lebih untuk para lelaki, aku yang perempuan saja, kagum dan terpesona melihatnya. Bukan berarti penyuka sesama perempuan, hanya saja kagum akan ciptaan Tuhan. Aku tetap normal dan penyuka yang tidak sejenis tentunya.
Dengan sedikit perjuangan sore harinya, aku pun bisa masuk gerbang Smada Pare dengan lancar, karena aku termasuk alumni Smada Pare. Tapi tidak untuk tiga orang yang pergi bersamaku, Fita, Kiki, dan Pipi. Mereka bukan termasuk alumni sekolah itu. Penjagaan yang cukup ketat dari pihak sekolah dan beberapa polisi, membuat orang-orang yang tergolong ‘illegal’ susah untuk masuk, meskipun membayar tiket dua kali lipat sekalipun. Walaupun harganya hanya sepuluh ribu rupiah untuk satu orang.
Tiket Masuk
Perjuanganku untuk meloloskan teman-temanku supaya bisa masuk gerbang dengan aman dan lancar, tidak bisa disebut dengan cara yang halal. Ada sedikit silat sidah sedikit didalamnya. Hehe. Karena bila hanya dengan basa-basi biasa, panitia tidak akan mempercayaiku, karena teman-temanku tidak mempunyai bukti yang kuat, yaitu tidak mempunyai Kartu Pelajar saat di Smada. Akhirnya, aku menggunakan cara yang ‘sedikit’ melenceng, yaitu memasang wajah meyakinkan di hadapan bapak Wakil Kepala Sekolah, dan juga memasang wajah manis, guna memintakan ijin untuk mereka. Dan akhirnya, bapak Wakil kepala Sekolah dan panitia percaya pada apa yang kukatakan, yaitu ‘teman-temanku itu adalah lulusan dari Smada pula, namun lupa membawa Kartu pelajar’. Hehe, bisa masuk juga mereka. Aseek.
Saat aku masuk gerbang sekolah, waktu masih menunjukkan pukul 4 sore hari. Menunggu beberapa jam lagi untuk menyaksikan aksi sang bintang tamu, yang kabarnya akan tampil jam tujuh malam. Duduk dibawah tenda-tenda yang dipersiapkan panitia, sambil menyaksikan aksi siswa-siswi Smada dia atas panggung. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pensi di sekolah ini menampilkan band dari dalam maupun luar sekolah, serta penampilan dance dan juga akustik. Dan itu semua menjadi serangkaian acara pembuka sebelum acara inti dimulai. Dan, acara diberhentikan sejenak untuk melaksanakan ibadah sholat magrib.
Sekitar pukul enam lewat lima belas menit, para penonton sudah berdiri di depan panggung, saling berebut mencari tempat terdepan. Karena jika tidak begitu, pastilah tempat terbelakang yang akan didapat. Dan itu sangat tidak efektif untuk orang yang tinggi badannya biasa-biasa saja, sepertiku. Bila benar terjadi, punggung dan kepala orang yang didepanku saja nanti yang aku lihat, tidak bisa melihat penampilan di panggung. Sungguh terlalu bila begitu.
Tapi untungnya, di bagian tengah penonton-lah tempat yang kudapatkan. Sehingga, aku cukup leluasa untuk melihat diatas panggung. Kamera pun aku siapkan, dan siap mengambil foto langsung dari setiap personil ‘Cherrybelle’, meskipun jarak cukup jauh dan wajah tidak begitu jelas. Tapi, cukup baiklah untuk kenang-kenangan saja.
Semua penonton menunggu dengan kaki yang sudah mulai pegal, karena posisi berdiri yang cukup berdempet-dempetan. Meskipun di panggung sedang ditampilkan aksi dance ataupun band, tapi rasanya itu tidak cukup menghiburku, karena yang kunantikan saat itu adalah sang bintang tamu istimewa, bukan pertunjukan yang lain. Hanya mengulur-ulur waktu saja, batinku. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih dua puluh menit, namun sang bintang tamu belum diundang naik diatas pentas. Tidak sabar menunggu.
Setelah penantian yang cukup lama dan melelahkan, disertai rasa lapar pula, akhirnya sekitar pukul delapan malam, bintang tamu utama dalam acara pensi sekaligus ulang tahun Smada yang ke 38, datang juga. Teriakan riuh serta tepuk tangan yang membahana menyambut kehadiran 9 gadis itu. Dan letusan kembang api menghiasai langit pekat dengan cahayanya.
Chibi
Lagu demi lagu dilantunkan dengan nikmat dan indahnya. Lambaian tangan, senyuman manis, menjadi bumbu dalam penampilan mereka. Bernyanyi sekaligus dance, akan menjadi suatu hal yang sangat melelahkan. Tapi tidak sepertinya buat mereka. Disela-sela penampilan, mereka masih menyempatkan untuk bermain game dan menyapa penonton di Pare, dalam Tour mereka kali ini. Waktu setengah jam untuk lima lagu pun terasa sangat cepat sekali, masih kurang rasanya.
Ucapan terimakasih dari chibi mengakhiri penampilan mereka malam itu. Petugas yang berkewajiban menjaga keamanan, langsung menggiring mereka masuk ke dalam bis, sehingga para penonton tidak dapat berfoto bersama dengan mereka. Lelah rasanya malam itu. Tapi malam itu memang malam yang cukup berkesan. Semoga bisa melihat penampilan ‘Chibi’ di lain waktu.
Berpisah memang bukan hal yang menyenangkan, bagi siapa saja yang mengalaminya. Namun saat itu berbeda, perpisahanku bersama para member di SMP 2 Patebon kelas tiga, menjadi perpisahan yang sangat mengesankan, karena kita menghabiskan masa-masa terakhir kebersamaan kita di tempat yang menyenangkan dan tidak terlupakan. Di Air Terjun Curug Sewu Sukorejo-Kendal, yang kabarnya mempunyai pemandangan yang sangat indah. Baik air terjunnya, ataupun pemandangan disekitarnya.
Saat itu waktu menunjukkan pukul 8 pagi di hari Minggu yang cerah, di depan gerbang sekolah, kita semua berkumpul dan siap berangkat menuju lokasi. Sekitar 20 orang dengan 10 sepeda motor, kita saling berboncengan dan melaju iring-iringan. Meskipun masih SMP, aku akui mereka sangat berani mengendarai motor sendiri, lebih-lebih untuk yang perempuan. Mereka cukup lihai dalam mengendalikan motor masing-masing. Karena waktu jaman SMP ku dulu, aku tidak seberani mereka mengendarai sepeda motor di jalan raya.
Medan yang kita lalui adalah jalan berkelok-kelok yang cukup tajam karena jalanan gunung, naik-turunnya pun juga terjal. Jadi, harus sangat konsentrasi saat mengendarai, apalagi saat melewati tikungan-tikungan. Kurang hati-hati sedikit, di sisi samping jalan, jurang sudah menunggu.
Jalan meliuk-liuk kita lalui sekitar 1,5 jam, cukup melelahkan. Tangan pegal karena mengendalikan motor dengan konsentrasi penuh, dan pantat cukup panas pula. Hehe. Tapi akhirnya kita sampai juga di lokasi. Udara sejuk khas pegunungan mulai terasa, ketika masuk di area parkiran. Karena terletak di dataran tinggi, pemandangan kota dan hamparan sawah hijau sudah dapat dilihat dari tempat parkiran. Kita ingin segera masuk untuk melihat keindahan Air Terjun dan ada pula kebun binatang didalamnya. Cukup membayar 5200, kita sudah dapat memasuki tempat wisata ini. Nanggung ya harganya, 5200.
Masih cukup sepi pengunjung pagi itu. Hanya beberapa orang yang sibuk menggelar barang dagangan mereka, dan membuka warung makan disekitar area wisata. Beberapa toko, baik warung makan ataupun toko souvenir berjajar rapi disisi kiri-kanan jalan masuk air terjun Curug Sewu, untuk menjual dagangan mereka. Mie ayam dan bakso menjadi makanan dominan yang dijual di area wisata ini.
Kedatanganku disambut oleh beberapa ekor monyet yang siap berpose untuk kuambil gambarnya. Fotogenik juga monyet-monyet ini, pikir saya. Ada yang sedang berduaan rupanya mereka, hmm.. mengganggu monyet pacaran ini aku. Biarlah, lebih baik mengganggu monyet saja, daripada mengganggu orang yang sedang berduaan. Tak enak hati. He. Dan monyet-monyet itu semakin mendekat ketika diberi kacang. Namun aku gagal ingin berfoto bareng monyet itu. Karena mereka buru-buru pergi saat makanannya sudah habis.
Member-memberku menghilang ketika aku sibuk sendiri dengan monyet-monyet itu. Ternyata mereka sudah terlebih dahulu turun menuju air terjun Curug Sewu. Dan aku segera menyusul mereka, menuruni tangga yang licin karena terguyur air hujan hari sebelumnya. Setelah berjalan turun sekitar sepuluh menit, saya sampai disisi air terjun. Volume air yang turun memang cukup besar, sehingga percikan air nya terasa dari jarak 10 meter dan membasahi bajuku dan semua pengunjung. Dingin dan segar rasanya, apalagi yang tidak mandi, pasti langsung segar badannya. Sayangnya, kita tidak boleh menyentuh airnya secara langsung karena memang tempat yang licin dan cukup membahayakan.
Semakin indah dan terpesona aku disana, ketika tiba-tiba ada pelangi yang melengkung sempurna menghiasi pemandangan di atas air tejun. Sungguh tidak sia-sia perjalanan panjang melewati jalanan gunung, yang begitu menguras konsentrasi. Apabila dilokasi tujuan disuguhi oleh pemandangan yang sangat memanjakan mata dan juga meyegarkan pikiran pula.
Setelah menikmati keindahan pelangi di atas air terjun yang hanya berjarak beberapa centi dari pandangan langsung mata, acara dilanjutkan dengan ngobrol ringan dan narsis ria sebagai kenang-kengan kita. Lucu memang, polah tingkah anak manusia ketika sedang narsis didepan kamera. Termasuk aku. Ada bergaya ala cherrybelle, manohara, ataupun artis-artis di TV lainnya. Tapi itu termasuk kesenangan tersendiri, dan tak terlupakan.
Perpisahan saat itu memang berbeda. Menghabiskan sisa-sisa waktu bersama member-memberku di Jawa Tengah. Meskipun masih SMP, kita terlihat sepantaran bila dilihat dari segi fisik. Badan bongsor mereka, dan tinggi badan yang melebihi tinggi badanku, yang membuat kita terlihat sepantaran. Atau mungkin, aku yang terlalu imut?. He. Bisa awet muda bila ada disekitar mereka terus.
Kebersamaan kita memang berakhir sudah, namun kenangan yang telah aku jalani bersama member-memberku tidak akan pernah berakhir. Ketika aku rindu bersama mereka, akan kulihat foto-foto narsis kita satu bulan yang lalu. Kenangan indah, memang tidak pantas untuk dilupakan. Dan akan menjadi cerita yang menarik untuk diceritakan.
As Indonesian people, sometimes we got difficulty how to translate a story, literature, history, etc, from English language especially. So here, I have some tips about the way to translate that I ever got last time.
BASIC METHOD OF TRANSLATION:
1.You must understand vocabularies.
2.You must understand grammar, structure, and pronunciation.
3.You must understand the connection of sentences which the other sentences before and after.
4.You must understand kinds of science customs situation and condition.
5.You must understand the language you want to translate.
The main point of these tips is we have to understand about the basic of English. Because, basic is very important to do something. May it’ll be useful for us.
Orang normal dan tidak normal atau ‘gila’ memang berbeda. Hampir dalam semua aspek berbeda antara manusia normal dan gila. Dalam hal berbicara, berpenampilan, tingkah laku, hingga cara memandang atau melihat manusia lain, yang itu bisa dilihat dari gerak gerik mereka. Kadang kala tatapan mereka tidak dapat diartikan. Strange.
Saya sedikit trauma ketika ada orang ‘gila’ yang memandangi saya dengan seksama. Rasanya berbeda ketika dipandang oleh manusia normal. Ada sesuatu yang janggal menurut saya, karena memang tatapan mereka selalu aneh. Yang awalnya diam, termangu, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dan berbicara yang tidak bisa dimengerti apa maksudnya, setelah melihat sesuatu.
Sekitar beberapa saat lalu kejadiannya, ketika saya sedang berbelanja di pasar Pare, saya sadar ada orang yang sudah beberapa lama mengamati saya. Saya kira dia sedikit tidak normal dilihat dari pakainnya yang kumal dan rambut gimbalnya. Diam dengan tatapan yang dalam. Ketika saya berhenti di depan salah satu toko, orang itu tiba-tiba tertawa dan berkata, ‘Pengen tak cium awakmu’. Astaghfirullah, betapa kaget dan takutnya saya kala itu. Memang dasar orang gila, batin saya. Lalu saya segera berlari kecil meninggalkan orang gila tersebut. Sejak saat itu, saya merasa aneh apabila ada orang asing yang mengamati saya lekat-lekat.
Namun naas, kejadian itu terulang lagi di salah satu tempat yang bukan daerah saya, dan saat itu saya sedang melakukan travelling bersama salah satu teman saya, dan berniat untuk bermalam di salah satu masjid. Ketika sudah kutemukan masjid, saya dan teman saya segera masuk di ruangan untuk jamaah wanita di lantai atas. Saya rasa tempat itu aman untuk tempat tidur malam itu, meskipun ada kekhawatiran sedikit, sebagai seorang wanita yang keluar tanpa pria sebagai pelindung dimalam hari.
Masjid Baiturrahman
Sedikit lega ketika sudah ada salah seorang ibu di dalam masjid yang bermalam disana juga. Langsung berbaring di atas karpet, itu yang dilakukan teman saya. Namun, saya tidak dapat memejamkan mata meskipun badan pegal semua karena jalan terus seharian. Kubuka buku yang kubawa, dan segera kubaca.
Saya memang sendirian yang masih membuka mata malam itu, karena dua orang yang lain sudah terlelap lebih dahulu. Merinding juga rasanya. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba ada seorang pria naik ke lantai atas, padahal tempat itu adalah steril khusus wanita saja. Dia melihat-lihat sekitar dan akhirnya melihat saya yang sedang terbangun sendiri membaca buku. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang ketika orang itu duduk bersila diluar ruangan kaca dan mengamati saya dari luar.
Masya Allah, betapa takutnya saya karena orang itu tidak segera pergi dan terus mengamati saya. Semakin lama semakin merinding, namun tidak saya hiraukan orang itu dan saya terus membaca buku saja. Tapi memang sedikit stress dan gila mungkin orang itu, karena tidak mungkin orang normal yang tau peraturan, masuk di wilayah jamaah wanita, lebih-lebih mengamati orang yang ada di dalam ruangan.
Saya sudah takut tingkat tinggi kala itu, sudah berpikir yang macam-macam akan terjadi something wrong. Untung saja, ibu yang tidur tadi bangun dan saya langsung berpindah duduk disamping ibu tersebut. Sedikit lega dan tenang rasanya bisa ngobrol dengan ibu itu, dan saya ceritakan semua yang terjadi.
Ternyata ibu yang berumur 43 tahun itu sudah beberapa kali bermalam di masjid tersebut, jadi kalau terjadi apa-apa bisa langsung lapor ke satpam yang berjaga 24 jam. Alhamdulillah ada ibu yang menemani saya dalam ketakutan di tengah malam.
Tapi, crazy person itu terus mengamati saya meskipun saya tidak berani menatap wajahnya langsung, dan kadang dia tertawa kecil seperti melihat hal yang lucu, lalu mendekatkan mukanya kekaca persis orang mengintip saja dia. Haduuh…. Dasar orang gila aneh!!!
Entah berapa lama orang itu duduk disana, hingga akhirnya ada dua orang satpam yang naik di lantai atas untuk mengamankan situasi, dan benar saja orang itu memang gila kata pak satpam, dan langsung diusir oleh mereka. Lega rasanya. Dan segera setelah itu saya ambil wudlu dilantai dasar tanpa rasa khawatir ada orang gila lagi yang mengintai.
Di dalam masjid
Terimakasih buat ibu yang belum sempat saya tanya namanya, yang sudah menemani saya berbicara dimalam yang menjengkelkan itu, juga buat pak satpam yang telah mengusir orang gila itu dari hadapan saya, makasih bapak.
Dan setelah kejadian yang cukup mendebarkan jiwa saya, akhirnya saya bisa tidur nyenyak di Masjid Baiturrahman malam itu. Semoga tidak terjadi lagi pengintaian oleh orang ‘gila’ pada diri saya.
Lampion merah berjajar di sepangjang jalan, menandakan akan adanya suatu pesta perayaan. Yap, tepat tanggal 23 January kemarin adalah tahun baru untuk masyarakat Tionghoa, tepatnya tahun baru imlek. Gong Xi Fa Chai, tertulis besar di reklame-reklame di pinggir jalan. Dan merah adalah warna yang dominan dalam perayaan tersebut.
Menurut ahli fengsui, tahun 2012 adalah tahun naga air. Hehe, aku nggak ngerti kok bisa disebut sebagai tahun naga air. Atau mungkin juga bisa diartikan semua hal yang berhubungan dengan air akan lancar tahun ini, dalam bidang pekerjaan misalnya, akan lancarlah usaha sang penjual es, karena mereka menjual air. Hehe.
Tahun Naga Air
Dalam perayaan tahun baru imlek bukan hanya pertunjukan barongsai saja yang dipertontonkan, banyak festival yang dipertunjukkan di pusat keramaian. Adalah Imlek Festival, acara yang diadakan di salah satu Mall di Semarang. Fashion show, nyanyi,dan dance disuguhkan untuk para penonton.
Dance Performance
Awalnya aku tidak sengaja masuk di Mall tersebut, kulihat banyak orang sedang berdiri menyaksikan sesuatu di atas panggung dan ternyata anak-anak dari umur tiga tahun sampai belasan tahun tengah memamerkan kepiawaian mereka berjalan diatas cat walk, alias fashion show. Hanya satu yang ada dibenakku saat itu, ‘Hebat, sebagian dari mereka baru bisa jalan satu-dua tahun, sudah disuruh fashion show aja sama orang tuanya’. Entah itu kehendak sang anak atau orangtua mereka, yang memaksa untuk tampil bak seorang model dihadapan para penonton.
Fashion Show
Memang di era yang semakin maju ini, bakat anak sudah bisa diasah sejak balita. Tinggal orang tua mengarahkan saja dari apa yang diminati anak. Namun, kalau orang tua terlalu mengeskplorasi secara berlebihan, itu juga sedikit kurang baik untuk pertumbuhan anak, karena seharusnya masa kanak-kanak harus dicukupkan dengan masa bermain dan pengembangan kreativitas mereka.
Namun aku tetap kagum dengan anak-anak itu, di usia yang masih sangat dini, mereka sudah mampu mengembangkan bakat dan potensi yang ada dalam diri mereka. Dengan arahan dan pemberian motivasi dari orang tua dan dukungan dari semua orang yang ada disekitar anak-anak tersebut pastinya.
She is My Favorite :)
Sudah mampu tampil dengan penuh percaya diri dan semangat yang tinggi untuk berlenggak-lenggok memamerkan baju merah yang wajib mereka kenakan dalam perayaan tahun baru imlek yang ke-2563, adalah salah satu poin penting yang dapat dan patut dicontoh dari sikap dan semangat mereka. Khususnya untuk anak bangsa yang lain, agar dapat dijadikan motivasi untuk mengembangkan setiap potensi apapun yang ada dalam diri masing-masing anak.
Welcome to this page...
It is just for telling the stories which unsaid...
Because not all things can be told,
And the words will do it! Wish it could happen...