Everlasting Memory
Senin, 19 November 2012
Kenapa semua begitu indah
di awal, dan menyesakkan pada akhirnya?. Setiap yang berperasaan pasti
mengalami hal ini. Kecuali yang sudah, mati rasa!. Bukan saya terlalu
mendramatisir untuk apa yang terjadi, tapi ini adalah sebuah realita kehidupan yang
terjadi disini, kampung halaman tanpa batas, yang siapa saja bisa datang dan
pergi sesuka hati mereka.
Sebut saja bandara,
stasiun, atau pelabuhan yang sangat besar. Bagaimanapun kalian menyebutnya,
saya tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sini, Pare. Merasakan atmosfernya
dari saat pertama menjejakkan langkah di bumi. Saya, dan kota ini adalah satu, yang
rasa-rasanya saya tidak bisa terlepas olehnya.
Menghadirkan wajah-wajah
baru setiap saat, memunculkan dinamika kehidupan yang berwarna untuk kota kecil
ini. Dari sebuah desa kecil di tengah kabupaten Kediri, yang tidak cukup banyak
penghuni pada beberapa puluh tahun silam, kini menjadi seolah-seolah kota kecil
metropolitan yang semua bentuk kebutuhan harus terpenuhi disini.
Saya tidak pernah
menyangka untuk terlibat langsung dalam perputaran sejarah kampung ini, masuk
didalam komponen penting yang mana sangat banyak memori yang bisa diciptakan
dan diputar ulang ketika sudah memudar. Perasaan ini, tidak pernah berubah. Ada
kalanya bahagia, untuk sebuah pertemuan, dan satu lagi yang sangat tidak
diharapkan, sedih ketika perpisahan.
Tapi semua itu alami,
mengalir begitu saja untuk sejenak waktu. Disatu sisi, harus melanjutkan hidup
dengan bentuk manusia yang berbeda, tapi disisi lain rasa itu tidak pernah
berkehendak untuk menjauh dari manusia yang sebelumnya. Saya hanya ibarat
seorang penjual karcis, dimana semua orang bisa membeli tiket, datang dan
pergi, tapi saya hanya memandangi berbagai macam orang datang tanpa dapat
beranjak dari tempat duduk.
Kadang saya merasa,
apakah ini yang disebut dengan kebahagiaan sementara?. Berbahagia dengan
beberapa manusia baru dalam satu waktu, dan selanjutnya entah harus dibawa
kemana kebahagiaan itu. Terlalu menyakitkan sebenarnya, tapi inilah realitanya.
BP 1 C. Tidak pernah saya
lupakan memori indah yang sudah kita ciptakan. Tak akan pernah segan-segan saya
putar lagi seluruh film di rol sel-sel otak. Betapa indah bisa mengenal kalian,
dari segi apapun. Kebahagiaan sesaat, yang terlalu indah dan sangat
membahagiakan. Hidup untuk bahagia, dan setidaknya saya menemukan sedikit
banyak hal itu setelah semuanya.

0 komentar:
Posting Komentar